PURA DALAM PERSPEKTIF HINDU BALI

,

Dr. I Ketut Seregig, SH, MH

Jro Bendesa Agung

Majelis Adat Pekraman Provinsi Lampung

A. PENGERTIAN PURA

Istilah Pura dengan pengertian sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat Hindu khususnya di Bali, secara etimologi berasal dari bahasa Sanskerta yang  berarti kota atau benteng yang sekarang berubah arti menjadi tempat pemujaan Hyang Widhi. Sebelum dipergunakannya kata Pura untuk manamai tempat suci/tempat pemujaan, dipergunakan kata Kahyangan atau Hyang. Pada jaman Bali Kuna, berdasarkan data tertua yang ditemukan di Bali, disebutkan dalam prasasti Sukawana A-I tahun 882 M. Kata Hyang berarti tempat suci atau tempat yang berhubungan dengan Ketuhanan. Dalam prasasti Turunyan A-I tahun 891 M ada disebutkan “......Sang Hyang di Turuñyan" yang artinya “tempat suci di Turunyan".  Demikian pula di dalam prasasti Pura Kehen A (tanpa tahun) disebutkan pemujaan kepada Hyang Karimama, Hyang Api dan Hyang Tanda yang artinya tempat suci untuk Dewa Karimama, tempat suci untuk Dewa Api dan tempat suci untuk Dewa Tanda.  Prasasti–prasasti tersebut  adalah prasasti Bali Kuno yang memakai bahasa "Yumu pakatahu" yang ada hubungannya dengan Keraton Bali Kuna di Singhamandawa. 

 

Pada abad-X masuklah bahasa Jawa Kuno ke Bali ditandai oleh perkawinan Raja Putri Mahendradata dari Jawa Timur dengan raja Bali Udayana. Sejak itulah prasasti-prasasti memakai bahasa Jawa Kuno dan juga kesusastraan-kesusastraan mulai memakai bahasa Jawa Kuno. Dalam periode pemerintahan Airlangga di Jawa Timur (1019–1042 M) datanglah Mpu Kuturan dari Jawa Timur ke Bali dan pada waktu itu yang memerintah di Bali adalah Raja Marakata (adik Raja Airlangga). Mpu Kuturan mengajarkan masyarakat Hindu yang ada di Bali membuat "Parhyangan atau Kahyangan Dewa", membawa cara membuat tempat Pemujaan Dewa seperti di Jawa Timur, sebagaimana disebutkan didalam rontal Usana Dewa. Kedatangan Mpu Kuturan di Bali membawa perubahan besar dalam tata keagamaan di Bali. Beliau membangun Sad Kahyangan Jagat, Kahyangan Catur Loka Pala dan Kahyangan Rwabhineda. Beliau juga yang memperbesar Pura Besakih dan mendirikan pelinggih Meru, Gedong dan lain-lainnya. Pada masing masing Desa Pakraman beliau membangun Kahyangan Tiga. Selain beliau mengajarkan cara membangun kahyangan secara fisik, juga beliau mengajarkan pedoman secara spiritual misalnya: jenis-jenis upacāra, jenis-jenis pedagingan pelinggih dsbnya sebagaimana diuraikan dalam lontar Dewa Tattwa.

 

Pada jaman Bali Kuno yaitu sebelum kedatangan dinasti Dalem di Bali, istana-istana Raja disebut Keraton atau Kedaton. Dalam rontal Usana Bali disebutkan"...Sri Danawaraja akada wan ing Balingkang....”, sedangkan kata Pura dijumpai di dalam prasasti Bali Kuno, tetapi dalam prasasti itu Kata Pura berarti Kota atau Pasar, bukti-bukti menyebutkan seperti: kata Wijaya Pura artinya Pasar Wijaya. Pemerintahan dinasti Sri Krsna Kepakisan di Bali membawa tradisi yang berlaku di Majapahit, hal ini dibuktikan dengan bunyi Kitab Nagara Krthagama 73.3 menyebutkan bahwa apa yang berlaku di Majapahit diperlakukan pula di Bali oleh Dinasti Sri Krsna Kapakisan. Salah satu contoh terlihat dalam sebutan Istana Raja bukan lagi disebut Keraton melainkan disebut Pura. Di Majapahit kita mengenal istilah Madakari Pura artinya rumahnya Gadjah Mada, Keraton Dalem Samprangan disebut Linggarsa Pura, Keraton Raja Gelgel disebut Suweca Pura dan Keraton Raja Klungkung disebut Semara Pura.  Dalam penggunaan kata pura sebagai tempat suci dipakai setelah Dinasti Dalem Klungkung, disamping itu istilah Kahyangan juga masih dipakai. Selanjutnya kata Pura yang tadinya berarti istana raja diganti dengan kata Puri.

 

Pada periode pemerintahan Dalem Waturenggong di Gelgel (1460–I550M), Dang Hyang Nirartha datang ke Bali pada Tahun 1489 M dengan maksud untuk mengabdi dan menyempumakan kehidupan beragama masyarakat Hindu di Bali. Pada waktu itu beliau menemukan keadaan yang kabur sebagai akibat terjadinya peralihan paham keagamaan dari paham-paham keagamaan sebelum dan sesudah diajarkan Mpu Kuturan, yakni: antara pemujaan Dewa dengan pemujaan roh leluhur, sehingga ada Pura untuk Dewa dan ada Pura untuk roh leluhur yang sulit dibedakan secara fisik. Demikian pula bentuk-bentuk pelinggih, ada Meru dan Gedong untuk Dewa dan Meru dan Gedong untuk roh leluhur. Terdapat juga kekaburan dibidang tingkat atap Meru, misalnya ada Meru untuk roh leluhur bertingkat 7 dan Meru untuk Dewa bertingkat 3. Hal ini secara fisik sulit untuk dibedakan, walaupun perbedaannya, terdapat pada jenis pedagingannya. Hal itulah yang mendorong Dang Hyang Nirartha membuat pelinggih berbentuk Padmasana untuk memuja Hyang Widhi, sekaligus membedakan pelinggih pemujaan Dewa dan roh leluhur.

 

Dalam perkembangan selanjutnya hingga saat ini kata Pura digunakan didepan kata Kahyangan atau Parhyangan dengan pengertian sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi (dengan segala manifestasinya) dan Batara atau Dewa Pitara yaitu roh leluhur. Kendati demikian kini masih dijumpai kata Pura yang digunakan untuk menamai suatu kota misalnya Amlapura= kota asem, Smarapura=kota yang indah (bentuk Sansekertanisasi). Meskipun istilah pura sebagai tempat suci berasal dari jaman yang tidak begitu tua, namun tempat pemujaannya sendiri berakar dan mempunyai latar belakang alam pikiran yang berasal dari masa yang amat tua. Pangkalnya adalah Kebudayaan Indonesia Asli berupa Pemujaan terhadap arwah leluhur disamping juga pemujaan terhadap Kekuatan Alam yang Maha Besar yang telah dikenalnya pada jaman neolithikum dan berkembang pada periode Megalithikum, sebelum Kebudayaan India datang di Indonesia. Salah satu tempat pemujaan arwah leluhur pada waktu itu berbentuk punden berundak-undak yang diduga sebagai replika (bentuk tiruan) dari gunung, karena gunung itu dianggap sebagai salah satu tempat dari roh leluhur atau alam arwah. Sistem pemujaan terhadap leluhur tersebut kemudian berkembang bersama-sama dengan berkembangnya kebudayaan Hindu di Indonesia. Perkembangan itu juga mengalami proses akulturasi dan enkulturasi sesuai lingkungan budaya Nusantara. Kepercayaan terhadap gunung sebagai alam arwah, relevan dengan unsur kebudayaan Hindu yang menganggap gunung (Mahameru) sebagai Alam Dewata yang melahirkan konsepsi bahwa gunung selain dianggap sebagai alam arwah juga sebagai alam para Dewa. Bahkan dalam proses lebih lanjut setelah melalui tingkatan Upacāra keagamaan tertentu (Upacāra penyucian) roh leluhur dapat mencapai tempat yang sama dan dipuja bersama-sama dalam satu tempat pemujaan dengan dewa yang lazimnya disebut dengan istilah Atma Siddha Dewata.

 

Terkadang dalam proses itu unsur pemujaan leluhur kelihatan melemah, bahkan seolah-olah tampak sebagai terdesak, namun hakekatnya yang esensial bahwa kebudayaan Indonesia asli tetap memegang kepribadiannnya yang pada akhimya unsur pemujaan leluhur tersebut muncul kembali secara menonjol dan kemudian secara pasti tampil dan berkembang bersama-sama dengan unsur pemujaan terhadap Dewa. Penampilannya selalu terlihat pada sistem kepercayaan masyarakat Hindu di Bali yang menempatkan secara bersama-sama pemujaan roh leluhur sebagai unsur kebudayaan Indonesia asli dengan sistem pemujaan Dewa sebagai manifestasi dari Hyang Widhi sebagai unsur kebudayaan Hindu. Dalam implementasinya antara lain terlihat pada konsepsi Pura sebagai tempat pemujaan untuk Dewa manifestasi Hyang Widhi disamping juga untuk pemujaan roh leluhur yang disebut Bhatara. Hal ini memberikan salah satu pengertian bahwa Pura adalah simbul Gunung (Mahameru) tempat pemujaan Dewa dan Bhatara.

 

  1. PENGELOMPOKAN PURA

Dari berbagai jenis pura di Bali dengan pengertian sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi/dewa dan bhatara, dapat dikelompokkan berdasarkan fungsinya yaitu:

  1. Pura yang berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi/Dewa.
  2. Pura yang berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja Bhatara yaitu roh suci leluhur.

 

Selain kelompok pura yang mempunyai fungsi seperti tersebut diatas, bukan tidak mungkin terdapat istilah pura yang berfungsi ganda yaitu selain untuk memuja Hyang Widhi/Dewa juga untuk memuja Bhatara. Hal itu dimungkinkan mengingat adanya kepercayaan bahwa setelah melalui upacāra penyucian, roh leluhur tesebut telah mencapai tingkatan Siddha Dewata (telah memasuki alam dewata) dan disebut Bhatara. Fungsi pura tersebut dapat diperinci lebih jauh berdasarkan ciri (kekhasan) yang antara lain dapat diketahui atas dasar adanya kelompok masyarakat ke dalam berbagai jenis ikatan seperti: Ikatan sosial, politik, ekonomis, genealogis (garis kelahiran). Ikatan sosial antara lain berdasarkan ikatan wilayah tempat tinggal (teritorial), ikatan pengakuan atas jasa seorang guru suci (Dang Guru) Ikatan Politik antara lain berdasarkan kepentingan Penguasa dalam usaha menyatukan masyarakat dan wilayah kekuasaannya. Ikatan ekonomis antara lain dibedakan atas dasar kepentingan sistem mata pencaharian hidup seperti bertani, nelayan, berdagang, nelayan dan lain-lainnya. Ikatan Geneologis adalah atas dasar garis kelahiran dengan perkembangan lebih lanjut. Berdasarkan atas ciri-ciri tersebut, maka terdapatlah beberapa kelompok pura dan perincian nya lebih lanjut berdasarkan atas karakter atau sifat kekhasannya adalah sebagai berikut:

 

1. Pura Umum

Pura ini mempunyai ciri umum sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi dengan segala manifestasinya (Dewa).  Pura yang tergolong umum ini dipuja oleh seluruh umat Hindu, sehingga sering disebut Kahyangan Jagat.  Pura-pura yang tergolong mempunyai ciri-ciri tersebut adalah pura Besakih, Pura Batur, Pura Catur Lokaphala dan Pura Sad Kahyangan, Pura Jagat Natha, Pura Kahyangan Tunggal. Pura lainnya yang juga tergolong Pura Umum adalah pura Dang Kahyangan yang berfungsi sebagai tempat pemujaan untuk memuja kebesaran jasa seorang Pandita Guru Suci atau Dang Guru. Pura tersebut juga dipuja oleh seluruh umat Hindu, karena pada hakikatnya semua umat Hindu merasa berhutang jasa kepada beliau Dang Guru atas dasar ajaran agama Hindu yang disebut Rsi Rna. Pura-pura yang tergolong kedalam karakter Pura Dang Kahyangan, yaitu: Pura Rambut Siwi, Pura Purancak, Pura Pulaki, Pura Ponjok Batu, Pura Sakenan dan lain-lainnya. Pura-pura tersebut berkaitan dengan dharmayatra yang dilakukan oleh Dang Hyang Nirartha karena peranannya sebagai Dang Guru.

 

Selain Pura-pura yang dihubungkan dengan Dang Guru, tergolong pula kedalam ciri Dang Kahyangan adalah Pura-pura yang dihubungkan dengan pura tempat pemujaan dari Kerajaan yang pernah ada di Bali (Panitia Pemugaran tempat-tempat bersejarah dan peninggalan purbakala, 1977: 10) seperti Pura Sakenan, Pura Taman Ayun yang merupakan Pura Kerajaan Mengwi. Ada tanda-tanda bahwa masing-masing kerajaan yang pemah ada di Bali, sekurang-kurangnya mempunyai tipe/jenis pura sejenis yaitu: Pura Penataran yang terletak di Ibu Kota Kerajaan, Pura Puncak yang terletak di bukit atau pegunungan dan Pura Segara yang terletak ditepi pantai laut. Pura-pura kerajaan tersebut rupa-rupanya mewakili tiga jenis tempat pemujaan yaitu: Pura Gunung, Pura Pusat Kerajaan dan Pura laut. Pembagian mandala atas gunung, daratan dan laut sesuai benar dengan pembagian makrokosmos yang menjadi dunia atas atau uranis, dunia tengah tempat manusia itu hidup dan dunia bawah atau chithonis.

 

2. Pura Teritorial

Pura ini mempunyai ciri kesatuan wilayah (teritorial) sebagai tempat pemujaan dari anggota masyarakat suatu banjar atau suatu desa yang diikat dalam kesatuan wilayah dari suatu banjar atau desa tersebut.  Wilayah banjar sebagai kelompok sub kelompok dari masyarakat desa adat ada yang memiliki pura tersendiri. Ciri khas desa adat pada dasamya memiliki tiga buah pura disebut Kahyangan Tiga yaitu: Pura Desa, Puseh dan Dalem yang merupakan tempat pemujaan bersama. Dengan perkataan lain, bahwa Kahyangan Tiga itulah merupakan unsur mengikat kesatuan desa adat bersangkutan. Nama nama kahyangan tiga ada juga yang bervariasi pada beberapa desa di Bali, Pura desa sering juga disebut Pura Bale Agung. Pura Puseh ada juga disebut Pura Segara, bahkan Pura Puseh Desa Besakih disebut Pura Benua.

 

Pura Dalem banyak macamnya, namun Pura Dalem yang merupakan unsur Kahyangan Tiga adalah Pura Dalem yang memiliki Setra (Kuburan). Disamping itu banyak juga terdapat Pura yang disebut Dalem juga tetapi bukan unsur Kahyangan Tiga seperti: Pura Dalem Mas Pahit, Pura Dalem Canggu, Pura Dalem Gagelang dan sebagainya (Panitia Pemugaran Tempat-tempat bersejarah dan peninggalan Purbakala, 1977, 12).  Didekat pura Watukaru terdapat sebuah Pura yang bernama Pura Dalem yang tidak mempunyai hubungan dengan Pura Kahyangan Tiga, melainkan dianggap mempunyai hubungan dengan Pura Watukaru. Masih banyak ada Pura Dalem yang tidak mempunyai kaitan dengan Kahyangan Tiga seperti Pura Dalem Puri mempunyai hubungan dengan Pura Besakih. Pura Dalem Jurit mempunyai hubungan dengan Pura Luhur Uluwatu.

 

3. Pura Fungsional

Pura ini mempunyai karakter fungsional dimana umat penyiwinya terikat oleh suatu ikatan kekaryaan karena mempunyai, profesi yang sama dalam sistem mata pencaharian hidup seperti: bertani, berdagang dan nelayan.  Kekaryaan karena bertani, dalam mengolah tanah basah mempunyai ikatan pemujaan yang disebut Pura Empelan yang sering juga disebut Pura Bedugul atau Pura Subak.  Dalam tingkatan hirarkhis dari pura itu kita mengenal Pura Ulun Carik, Pura Masceti, Pura Ulun Siwi dan Pura Ulun Danu. Apabila petani tanah basah mempunyai ikatan pcmujaan seperti tersebut diatas, maka petani tanah kering juga mempunyai ikatan pemujaan yang disebut Pura Alas Angker, Alas Harum, Alas Rasmini dan sebagainya. Berdagang merupakan salah satu sistim mata pencaharian hidup menyebabkan adanya ikatan pemujaan dalam wujud Pura yang disebut Pura Melanting. Umumnya Pura Melanting didirikan didalam pasar yang dipuja oleh para pedagang dalam lingkungan pasar tersebut.

 

4. Pura Kawitan

Pura ini mempunyai karakter yang ditentukan oleh adanya ikatan wit atau lcluhur berdasarkan garis kelabiran (genealogis). Pura ini sering pula disebut Padharman yang merupakan bentuk perkembangan yang lebih luas dari Pura Warga atau Pura Klen. Dengan demikian Pura Kawitan adalah tempat pemujaan roh leluhur yang telah suci dari masing-masing warga atau kelompok kekerabatan. Klen kecil adalah kelompok kerabat yang terdiri dari beberapa keluarga inti maupun keluarga luas yang merasakan diri berasal dari nenek moyang yang sama. Klen ini mcmpunyai tempat pemujaan disebut Pura Dadia, sehingga mereka disebut tunggal dadia. Keluarga inti disebut juga keluarga batin (nuclear family) dan keluarga luas terdiri lebih dari satu keluarga inti yang juga disebut keluarga (extended family) suatu keluarga inti terdiri dari seorang suami, seorang istri dan anak- anak mereka yang belum kawin.

 

Tempat pemujaan satu keluarga inti disebut Sanggah atau Merajan yang juga disebut Kemulan Taksu, sedangkan tempat pemujaan keluarga luas disebut Sanggah Gede atau Pemerajan Agung.  Klen besar merupakan kelompok kerabat yang lebih luas dari klen kecil (dadia) dan terdiri dari beberapa kelompok kerabat dadia. Anggota kelompok kerabat itu mempunyai ikatan tempat pemujaan yang disebut Pura Paibon atau Pura Panti.  Di beberapa daerah di Bali, tempat pemujaan seperti itu ada yang menyebut pura Batur (Batur Klen), Pura Penataran ( Penataran Klen) dan sebagainya.  Didalam rontal Siwagama disebutkan bahwa setiap 40 keluarga batih patut membuat Pura Panti, setiap 20 keluarga batih patut mendirikan Pura lbu, setiap 10 keluarga batih supaya membuat pelinggih Pratiwi dan setiap keluarga batih membuat pelinggih Kemulan yang kesemuanya itu untuk pemujaan roh leluhur yang telah suci. Tentang pengelompokan Pura di Bali ini, dalam Seminar kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu ke-X tanggal 28 sampai dengan 30 Mei 1984 ditetapkan pengelompokan pura di Bali sebagai berikut:

 

a. Berdasarkan atas Fungsinya:

  • Pura Jagat, yaitu Pura yang berfungsi sebagai tempat memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam segala prabawanyaNya (manifestasiNya), dan dapat digunakan oleh umat untuk melaksanakan pemujaan umum, seperti purnama tilem, hari raya Hindu lainnya tanpa melihat asal, wangsa yang bersangkutan.
  • Pura kawitan, yaitu Pura sebagai tempat suci untuk memuja Atma Siddha Dewata (Roh Suci Leluhur), termasuk didalamnya: sanggah, merajan, (paibon, kamulan), dadia, dan pedharman.

 

b. Berdasarkan atas Karakterisasinya:

  • Pura Kahyangan Jagat, yaitu Pura tempat memuja Sang Hyang Widhi dalam segala Prabhawa-Nya misalnya Pura Sad Kahyangan dan Pura Jagat yang lain.
  • Pura Kahyangan Desa (Teritorial) yaitu Pura yang disungsung (dipuja, dipelihara) oleh Desa Adat.
  • Pura Swagina (Pura Fungsional) yaitu Pura yang penyungsungnya terikat swagina (kekaryaan) yang mempunyai profesi sama dalam mata pencaharian seperti: Pura subak, melanting dan sebagainya .
  • Pura Kawitan, yaitu Pura yang penyungsungnya ditcntukan oleh ikatan "wit" atau leluhur berdasarkan garis (vertikal geneologis) seperti: Sanggah, Merajan,  Pura lbu, Pura Panti, Pura Dadia, Pura Padharman dan yang sejenisnya.

 

Pengelompokan pura di atas jelas berdasarkan Sraddha atau Tatwa Agama Hindu yang berpokok pangkal konsepsi Ketuhanan Yang Maha Esa dengan berbagai manifestasi atau Prabhawanya dan konsepsi Atman manunggal dengan Brahman (Atma Siddha Dewata) menyebabkan pemujaan pada roh suci leluhur, oleh karena itu pura di Bali ada yang disungsung oleh seluruh lapisan masyarakat disamping ada pula yang disungsung oleh keluarga atau Klen tertentu saja.

 

III.  TATA UPACARA MEMBANGUN PURA

 

1.  Upacāra Ngeruwak Karang atau Upacāra Pamungkah

Upacāra ini dilaksankan sebagai Upacāra awal dalam persiapan membangun sebuah Pura, yakni merubah status tanah; yang sebelumnya mungkin adalah hutan, sawah, ataupun ladang. Jenis Upacāra ini dilaksanakan secara insidentil bukan bersifat rutinitas, tetapi Upacāra ini dilaksanakan berkaitan dengan adanya pembanguan baru ataupun pemugaran pura secara menyeluruh sehingga nampaknya seperti membangun sepelebahan pura baru.

 

2.  Upacāra Nyukat Karang

Upacāra ini dilaksanakan dengan maksud mengukur secara pasti tata letak bangunan pelinggih yang akan didirikan, dan luas masing-masing mandala (palemahan) pura, sehingga tercipta sebuah tatanan pura yang seusai dengan aturan yang termuat baik dalam Asta Kosala-Kosali, maupun Asta Bumi.

 

3.  Upacāra Nasarin

Upacāra ini adalah Upacāra peletakan batu pertama, yang didahului dengan Upacāra permakluman kepada Ibu Pertiwi, dengan mempersembahkan Upakāra sesayut Pertiwi, pejati, dan Upakāra lainnya. Pada Upacāra ini ditanam sebuah bata merah yang telah dirajah dengan Padma angalayang dangan aksaranya Dasaksara dan Bedawannala yang bertuliskan Angkara, dibukus dengan kain merah dan diisi kuangen. Sebuah batu bulitan yang dirajah dengan aksara Ang-Ung- Mang. Lalu dibungkus kain hitam dan diisi sebuah kuangen. Dan sebuah klungah kelapa gading ditulisi dengan aksara Omkara Gni, dibungkus dengan kain putih dan diisi kuangen.

 

4. Upacāra Memakuh, Melaspas

Upacāra ini bertujuan untuk membersihkan semua pelinggih dari kotoran tangan undagi (para pekerja bangunan) agar para Dewa/ Bhatara/Bhatari berkenan melinggih di pura ini setiap saat terutama pada saat dilangsungkan Upacāra pujawali, sedangkan untuk membersihkan/ mensucikan areal pura secara niskala dilaksanakan Upacāra pecaruan berupa Panyudha Bumi. Pelaksanaan pemelaspasan yang menyangkut tingkatannya, dengan memperhatikan kedudukan dan fungsi Pura masing-masing, maka akan ditentukan atas/ berdasarkan petunjuk para Sulinggih yang dikaitkan dengan adat setempat yang telah berlangsung sejak dahulu dengan asumsi pelaksanaan Upacāra akan menjadi lebih sempurna.

 

5.  Upacāra Mendem Pedagingan

Setelah Upacāra pemelaspasan dan Sudha Bumi akan dilaksanakan Upacāra Mendem Pedagingan, sebagai lambang singgasana Hyang Widhi yang disthanakan. Bentuk serta jenis pedagingan antara satu Pelinggih dengan Pelinggih lainnya tidak sama, hal ini tergantung dari jenis bangunan Pelinggih yang bersangkutan, termasuk jenis bebantennya pun juga ada yang berbeda. Tata cara membuat dan memendem pedagingan ini disamping mengikuti sastra agama, juga mengikuti isi Bhisama dari Mpu Kuturan, sebagaimana dilaksanakan ketika membangun Meru di Besakih. Adapun cuplikan Bhisama dimaksud adalah sebagai berikut:

 

Yan meru tumpang 11, tumpang 9, tumpang 7, tumpang 5, sami wenang mepadagingan tur mangda memargi manista, madya, utama, lwir, yaning meru tumpang 11, pedagingannya ring dasar salwiring prabot manusa genep mewadah kwali waja. Sejawaning prabot manusa, maweweh antuk ayam mas, ayam selaka, bebek mas, slaka, kacang mas, slaka tumpeng mas, slaka, naga mas, slaka, mamata mirah, prihpih mas, slaka, tembaga miwah jarum mas, slaka, tembaga, padi mas, ika dados dasar. Tumpang meru ika wilang akeh ipun, sami medaging prihpih kadi ajeng saha mawadah rerapetan sane mawarna putih, mwah wangi-wangian sete gepe, mawastra putih, rantasan sapradeg. Ring madyaning tumpang merune, madaging prihpih, jarum kadi ajeng, miwah padhi musah 2, wangi-wangian setegepe. Ring puncaknya, taler prihpih mas, slaka miwah jarum kadi ajeng, tur maweweh mas 1, masoca mirah, murda wenang. Asapunika kandaning meru tumpang 11, pedaginganipun, yaning buat jinah punika manista madya utama, utama jinah papendemane 11 tali, madya 8 tali, nista 4 tali.

 

Malih pedagingan padmasana ring dasar pedaginganipun, Bhadawangnala mas, slaka mwah prabot manusa genep, wangi-wangian pripih mas, slaka, tembaga, jarum mas, slaka, tembaga, miwah podhi mirah 2, tumpeng mas, slaka, capung mas, sampian mas, slaka, nyalian mas, udang mas, getem (ketam) temaga, tanlempas mewangi-wangian segenepa, mewadah rapetan putih, metali benang catur warna. Malih pedagingan ring madya, lwire pripih mas, merajah makara, pripih slaka merajah kulum, pripih tembaga merajah getem, miwah jarum manut pripih, phodi mirah 2, tan sah wangi-wangian setegepa mewadah rerapetan putih. Malih korsi mas mewadah lingir sweta, punika ngaran utama yadnyan nista, madia utama, sluwir-luwir padagingan ika, kawanganya maprasistha rumuhun. Sampunang pisan mamurug, dawning linggih Bhatara, yang ande kapurug, kahyangan ika wenang dadi pesayuban Bhuta pisaca, makadi sang mewangun kahyangan ika, tan memanggih rahayu terus tumus kateka tekeng putra potrakanya, asapunka kojarnya sami mangguh lara roga. Malih pedagingan ring luhur luwire, padma mas, masoca mirah korsi mas, phodi mirah, asapunika padagingannya ring padmasana.

 

Cuplikan tersebut diatas kiranya tidak perlu dialih bahasakan lagi, karena telah mempergunakan bahasa Bali lumrah, sehingga telah dapat dimengerti sebagian masyarakat umat Hindu yang ada di Bali.

 

6. Ngenteg Linggih

Ngenteg Linggih adalah sebagai rangkaian Upacāra paling akhir dari pelaksanaan Upacāra mendirikan sebuah pura, secara estimologinya ngenteg berarti menetapkan  linggih berarti menobatkan/menstanakan. Jadi Ngenteg Linggih adalah Upacāra penobatan/menstanakan Hyang Widhi dengan segala manifestasi-Nya pada Pelinggih yang dibangun, sehingga Beliau berkenan kembali setiap saat terutama manakala di langsungkan segala kegiatan Upacāra di pura yang bersangkutan. Mengenai pelaksanaan ngenteg linggih yang dilaksanakan itu secara garis besarnya adalah sebagai berikut:

 

Upacāra ditandai dengan membangun Sanggar tawang rong tiga, dilengkapi dengan bebanten suci 4 (empat) soroh dan banten catur, tegen-tegenan, serta Perlengkapan lainnya berupa sesayut gana, telur, benang, kelapa sebanyak 40 (empat puluh) butir yang dikemas dalam empat bakul, uang kepeng 52 buah. Jika di Sanggar tawang menyempat kan tirta, mesti dilengkapi lagi dengan banten suci sejumlah tirta yang ditempatkan disana dan reruntutan lainnya (menurut petunjuk Sulinggih). Pada undakan Sanggar tawang bebantennya adalah suci samida beserta beras pangopog sebakul berisi bunga lima jenis, seperangkat peras pagenayan bertumpeng merah, ayam biing dipanggang, dilengkapi dengan daksina berisi benang merah. Pada Sanggar tawang memakai lamak 4 (empat) buah pada rong yang ditengah memakai lamak surya dan lamak candra, lamak segara pada rong selatan, lamak gunung pada rong paling utara. Pada masing-masing ruangan juga dilengkapi dengan ujung daun pisang kayu, plawa dilengkapi pajeng, tetunggul empat warna: putih, kuning, merah dan hitam. Pada bangunan panggungan perlengkapan nya adalah pring kumaligi, beralaskan pane diisi beras dan uang kepeng 225, benang setukel dan memakai busana lengkap. Perlengkapan lain berupa sesantun beras senyiru, 5 butir kelapa, telur, benang, uang 5.000,- (lima ribu), jerimpen 5 (lima) tanding, dijadikan lima nyiru, ini disebut banten paselang.

 

Banten dibawah panggungan dilengkapi dengan gayah, sate bebali dan gelar sanga ditambah dengan plegembal. Didepan lubang yang nantinya akan digunakan mepulang/menanam pedagingan, didepannya digelar baying-bayang (kulit) kerbau hitam, sesajen selengkapnya dengan bebangkit warna hitam, pulakerti 1, suci 1, pagu putih ijo cawu guling, cawu renteg, isu-isu, kwangi. Pada Sanggar tutuwan, bebantennya adalah banten penebus, dengan perlengkapan nya suci putih, bebangkit dan pula kerti, sedangkan banten sorohannya adalah dihaturkan kehadapan manifestasi Hyang Widhi yang berstana di sapta Patala (nama pelinggih), berupa suci 1, bebangkit hitam, guling dan dedaanan, bebanten di natar pura, berupa caru panca sanak, baying-bayang (kulit) angsa, bebek belang kalung, anjing belang bungkem, kambing hitam, dilengkapi dengan suci, bebangkit hitam, pula kerti dan beras serba sepuluh. Setelah semua perlengkapan upacāra ini disiapkan, barulah pemujaan oleh Sulinggih, kemudian diakhiri dengan persembahyangan bersama.

 

Catatan:

Tingkatan Upakāra dan Upacāra dari Ngeruwak sampai Ngenteg Linggih pelaksanaan

nya agar disesuaikan dengan petunjuk sastra dan petunjuk para Sulinggih yang menjadi Manggala Upacāra saat Ngnteg Linggih.

 

IV.  UPACARA PUJAWALI (PIODALAN)

Upacāra Pujawali (piodalan) merupakan salah satu bentuk pelaksanaan Dewa Yadnya, yaitu suatu korban suci yang dilakukan oleh umat Hindu ditujukan kehadapan Ida Hyang Widhi dan Para Dewa sekalian. Bagi umat Hindu (etnis Bali) khususnya, korban itu berbentuk banten, yang menjadi salah satu bentuk persembahan ini sesungguhnya merupakan suatu wujud nyata ungkapan rasa terima kasih yang tulus ikhlas kepada Sang Hyang Widhi, terutama dalam meyakinkan getaran-getaran nurani bahwa hidup dan kehidupan kita sebagai manusia amat tergantung daripada-Nya. Ungkapan rasa terima kasih kita kepada Hyang Widhi inilah yang melandasi umat Hindu dalam melaksanakan Yadnya (korban suci) itu dan sesungguhnya telah mengikuti petunjuk-petunjuk Bhagawadgita (salah satu buku suci), utamanya Bab II sloka 12–13 berbunyi sebagai berikut:

 

istam bhogam hi vo dava dasyate, yajnabhawitah tuir dattan aprodayani'bhyo

yo bhumkte stana eva sah

Artinya:

Dipelihara oleh yadnya, para dewa akan memberi kamu kesenangan yang kau inginkan, Ia yang menikmati pemberian-pemberian ini, tanpa memberikan balasan kepada-Nya adalah pencuri.

 

Yajnasistasinah santo mueyanto, sarvakilbisaih bhunyate teti

agham papa ya pacanty atmakaranat

Artinya:

Orang-orang yang baik yang makan apa yang tersisa dari Yadnya, mereka itu terlepas dari segala dosa, akan tetapi mereka yang jahat yang menyediakan makan bagi kepentingan sendiri adalah makan dosanya sendiri.

 

Dengan demikian sudah amat wajarlah setiap orang yang mengakui Kemahakuasaan Tuhan, akan berusaha berbuat segala sesuatunya sesuai dengan kemampuan serta keadaan untuk melaksanakan Yadnya kepada-Nya. Namun apa yang paling penting dalam melaksanakan Yadnya itu adalah adanya rasa yang tulus ikhlas yang terlahir dari lubuk hati yang paling dalam (suci - bersih), bukan didasarkan atas besar kecilnya yadnya yang dilaksanakan. Kutipan berikutnya menyatakan betapa sederhananya yadnya itu boleh dilaksanakan:

 

Patram puspam phlam toyam, yo me bhaktya prayocehati tad sham

bhaktyapahrtam asnami prayatatmanah

Artinya:

Siapapun dengan kesujudan mempersembahkan kepada Ku daun, bunga, buah-buahan dan air, persembahan yang didasari dengan cinta yang keluar dari hati yang suci, Aku terima. (Bhagawadgita, III. 28)

 

Memperhatikan beberapa petunjuk diatas, maka para penyungsung Pura dan umat bertekad melaksanakan dan mensukseskan Upacāra Pujawali (piodalan) sesuai subadewasa, dengan segala ketulusan hati yang paling suci bersih.  Secara umum rangkaian  sebuah Pujawali/ Pidodalan dengan rangkaian Upacāra sebagai berikut:

 

  1.  Upacāra Nuasin Karya (Matur Piuning Persiapan Pujawali)

  1. Setelah semua banten munggah di pelinggih masing-masing. Pinandita memulai memuja diiringi Kidung suci.
  2. Pinandita memohon Tirtha Pabersihan, Pelukatan, Byakala, Prayascita, dan Tirtha Pengulapan.
  3. Semua Banten  dan Pelinggih disucikan dengan urut-urutannya, yaitu: Pasepan, Toya anyar, Byakala; pengeresikan - tirtha (padma) - banten byakala diayabkan ke pelinggih bagian bawah.
  4. Prayascitta: pengeresikan - tirtha (padma) - bungkak gading (lis senjata) - banten Prayascita diayabkan ke pelinggih bagian atas.
  5. Pengulapan: pengeresikan - tirtha (padma) - bungkak bulan (lis) - banten pengulapan  diayabkan ke pelinggih bagian atas.

Catatan:

Semua kegiatan a–e dijalankan mulai dari Padmasana–TamanSari–Pengempon Tirtha–Beji–Anglurah–Bale Pawedaan–Pengraksa Karya mulai dari sudut Timur Laut (Shri), Tenggara (Aji), Barat Daya (Rudra), Barat Laut (Kala), lalu diteruskan ke Candi Agung, Ganesha–Sanggar Tapeni–Dapur Suci–Bale Kulkul–Candi Bentar–Pemedal agung–pelinggih Maya–Bale Banjar–Bale Gong–Penunggu Karang–Bale Ebat–Dapur– Pemedal Banjar–lalu petugas kembali ke Utama Mandala. Dibutuhkan 13 orang untuk pengayah dalam prosesi ini.

  1. Umat diperciki tirtha Prayascita, dilanjutkan dengan sembahyang bersama dan keramaning sembah.
  2. Nunas Tirtha Wangsuhpada.
  3. Puja parama santih.

 

  2. Upacāra Ngingsah (Taman Sari/Beji)–Bersamaan dengan Upacāra Nuasin Karya (Matur Piuning Persiapan Pujawali)

Pinandita memohon Tirtha 5 (lima) Jenis dari Taman Sari atau Beji:

  1. Daksina Taksu (Daksina Mepayas), Rantasan Putih Kuning, dan Bahan-bahan Upacāra diiring ke Beji oleh Serati banten
  2. Prosesi Ngingsah beras catur warna dimulai diawali pemercikan 5 jenis Tirtha, kemudian Nyeruh beras, nampinin beras, kemudian ngingsah dengan Sibuh Pepek, Kuskusan Sudamala, tempat beras: Beras-Beras Mereah-Beras kuning (Ketan)-Beras Hitam (Injin)-Kacang-kacangan (Bija ratus).
  3. Tirtha ngingsah dipercikkan ke umat.
  4. Daksina Taksu Tapeni dan bahan-bahan upakāra dan beras yang telah di ingsah diiring ke madya mandala (Sanggar Tapeni).

 

  3. Upacāra Ngereka Beras Catur (Sanggar Tapeni)-Bersamaan dengan Upacara Nuasin Karya (Matur Piuning Persiapan Pujawali)

  1. Daksina Taksu (Daksina Mepayas), Rantasan Putih Kuning dilinggihkan di Sanggar Tapeni; Suci alit, Pejati, Sesayut Bagia Setata, Bahan – bahan upakāra  1 tempeh, di bawahnya.
  2. Dua  tempeh sukla 2, kain putih -/+ @ 0.5 mtr, Kuangen Pengerekan 11x2, uang kepeng 108x2, beras yang sudah diingsah, cili lanang-istri @ 1 buah, soda 2, canang lenga wangi 2 burat wangi 2, canang pengeraos 2, canang sari 2.
  3. Beras direka menyerupai manusia laki dan perempuan (yang laki-laki ditanding oleh Pria dan yang perempuan ditanding oleh Wanita).
  4. Muspa kehadapan Bhagawan Wiswakarma dan Bhatari Tapeni, memohon agar  rangkaian upacāra Pujawali berjalan dengan lancar, aman, tidak ada yang bertengkar/ berselisih paham dan semuanya bergembira, serta agar tidak boros, kemudian dilanjutkan dengan memercikan tirtha Pengarksa Karya dan Tirtha Panginih-inih.
  5. Selanjutnya membuat adonan tepung untuk samuhan catur, suci, pebangkit, pulagembal, dan jerimpen sumbu.

 

  4.  Upakāra Nunas Tirtha Ke Pura Lain

  1. Setelah semua banten munggah di pelinggih masing-masing. Pinandita memulai memuja diiringi kidung suci.
  2.  Pinanandita memohon Tirtha Pabersihan, Pelukatan, Byakala, Pryascita, dan Tirtha Pengulapan.
  3. Semua Banten  dan Pelinggih disucikan dengan urut-urutan: pasepan-toya Anyar- byakala: pengeresikan, tirtha (padma), banten Byakala diayabkan ke pelinggih bagian bawah.
  4. Prayascitta: pengeresikan, tirtha  (padma), bungkak gading (lis senjata), banten prayascita diayabkan ke pelinggih bagian atas.
  5. Pengulapan: pengeresikan, tirtha (padma), bungkak bulan (lis), banten pengulapan  diayabkan ke pelinggih bagian atas.

Catatan:

  • Semua kegiatan a–e dijalankan mulai dari Padmasana–TamanSari–Pengempon Tirtha– Beji–Anglurah, Bale Papelik–Bale Pawedaan–Asagan Banten–Pengraksa Karya mulai dari sudut Timur Laut (Shri), Tenggara (Aji), Barat Daya (Rudra), Barat Laut (Kala), Bumbung Tirtha, lalu diteruskan ke Candi Agung, Ganesha–Sanggar Tapeni–Dapur Suci Bale Kulkul–Candi Bentar, Bale untuk Nedunang–Pemedal Agung–Pelinggih Maya– Bale Banjar–Bale Gong–Penunggu Karang–Bale rbat–Dapur–Pemedal Banjar, lalu petugas kembali keutama mandala. Dibutuhkan 13 orang untuk pengayah dalam prosesi ini.
  • Jika tidak ada kegiatan nunas tirtha ke Pura lain, maka upacara ini, maka kegiatan ini  tidak dilaksanakan.
  • Umat diperciki tirtha Prayascita, dilanjutkan dengan sembahyang bersama dengan melakukan puja Trisandya dan keramaning sembah. Selanjutnya; Nunas Tirtha Wangsuhpada, Puja parama santih, Petugas nunas Tirtha dibagikan Bumbung dan Banten.

 

5. Upacāra Pecaruan

  1. Setelah semua banten munggah dipelinggih masing-masing. Pandita memulai memuja diiringi Kidung suci, tabuh lelambatan.
  2. Pandita/Pinandita memohon Tirtha Pabersihan, Pelukatan, Byakala, Prayascita, dan Tirtha Pengulapan.
  3. Semua Banten dan Pelinggih disucikan dengan urut-urutan: Pasepan, Toya Anyar
  4. Byakala: Pengresikan, Tirtha (padma), Banten Byakala diayabkan ke pelinggih bagian bawah.
  5. Prayascitta: Pengeresikan, Tirtha (padma), Bungkak Gading (lis senjata), Banten Prayascita diayabkan ke pelinggih bagian atas.
  6. Pengulapan: pengresikan, Tirtha (padma), Bungkak Bulan (lis), Banten Pengulapan  diayabkan ke pelinggih bagian atas.
  7. Lis Gde, Sibuh pepek dan Tirtha dari Ida pedanda.

 

Catatan:

Semua kegiatan a-e dimulai dari Padmasana-TamanSari-Pengempon Tirtha-Beji- Anglurah, Bale Papelik-Bale Pawedaan-Asagan Banten-Pengraksa Karya mulai dari sudut Timur Laut (Shri), Tenggara (Aji), Barat Daya (Rudra), Barat Laut (Kala),  Bumbung Tirtha, lalu diteruskan ke Candi Agung, Ganesha-Sanggar Tapeni-Dapur Suci-Bale Kulkul-Candi Bentar-Caru, Bale untuk Nedunang-Pemedal Agung-Pelinggih Maya-Bale Banjar-Bale Gong-Penunggu Karang-Bale Ebat-Dapur-Pemedal Banjar, lalu petugas kembali ke Utama Mandala. Dibutuhkan 15 orang untuk pengayah dalam prosesi ini.

 

  1. Pandita/Pinandita mapuja ke Surya (Upasaksi)
  2. Pandita/Pinandita Ngundang Bhūta (Manca Warna, Manca Sanak, Manca Sato) diikuti kidung Bhūta Yajña.
  3. Pemercikan Tirtha Pecaruan (Byakala, Prayascita dan Tirtha Caru) dimulai dari arah Timur-Selatan-Barat-Barat-Utara-Tengah.
  4. Pandita/Pinandita Ngayabang Caru dibantu oleh umat (7 orang)
  5. Pandita/Pinandita Ngelukat Bhūta dibantu oleh Pinandita
  6. Pralina Bhūta
  7. Nyarub Caru,  dengan urut-urutan: Tirtha Caru, Nasi Caru, Sampat, Tulud, Kulkul, dilaksanakan memutar berlawanan dengan arah jarum jam (prasawya) sebanyak 3 kali diikuti Gong Beleganjur
  8. Kemudian Pandita/Pinandita Mepuja dalam rangka Nedunang Para Dewa dan Ida Bhatara yang akan diodalin.

 

6.  Upacāra Nedunang Para Dewa

  1. Telajakan wastra putih dari padmasana sampai dengan candi bentar diatasnya berisi canangsari.
  2. Dipanggungan: Suci Laksana, Daksina Gede, Pejati. Dibawah panggungan: Segehan Agung, Arak-Berem-Tuak.
  3. Perlengkapan lainnya: Pasepan, Kober, Lontek, Tumbak, Mamas, Penuntun, Sesayut Penuntun Dewa, Sesayut Pemagpag, Sesayut Pengiring, Segehan Agung, Cane, Tempat Tirtha, Rantasan, Daksina Pralingga, Tedung, Gong Beleganjur.
  4. Banten Arepan; Peras, Daksina, Segehan.
  5. Tirtha Panedunan dari Ida Pedanda
  6. Setelah semua uperengga diatas berada dipanggungan, pinandita mulai ngastawa, diiringi dengan kidung dan Gong Beleganjur, selesai ngastawa; ngemargian tirtha Penedunan, ngaturang banten ring panggungan.

Catatan:

Semua prosesi diatas dimulai dari Pralingga Padmasana, Taman Sari, Pangemit Tirtha, Anglurah.

  1. Masegeh Agung oleh pinandita.
  2. Tedun dari panggungan dengan melewati panggungan dengan urut-urutan dari depan: Pasepan, Penuntunan, Mamas, Umbul-umbul, Banten pemagpag, Banten Penuntun, dewa, Banten Pangiring, Cane, Rantasan, Tempat Tirtha, Daksina Pralingga, Tedung.

Catatan:

Dari Rantasan s/d Tedung berurutan dari Padmasana, Taman Sari, Pangemit Tirtha, Anglurah; dibelakang Daksina Pralingga Anglurah: Sekeha Santi, Beleganjur, umat; pelaksanaan acara tersebut dibutuhkan  26 orang pengayah.

 

  7.  Upacāra Medatengan di Depan Candi Bentar

       Pejati 1, pangulapan, datengan, canang pangrawos, masing-masing daksina pralingga; soda pemendak, pependetan dan atau bebarisan;

  1. Pinandita mepuja ngaturang banten datengan.
  2. Tarian papendetan.
  3. Memargi ke utama mandala menuju Bale Papelik.
  4. Beleganjur sampai didepan Kori Agung.

 

  8.  Banten Mesandekan Ring Bale Papelik

  1. Pejati 1, masing-masing daksina pralingga: banten  rayunan (hidangan nasi, lauk, sayur, minuman menjadi satu tempat), dibawah: segehan cacahan.
  2. Setelah selesai mesandekan menuju Taman sari untuk mesucian.

 

   9. Upacāra Masucian Ring Beji (Pancoran)

Suci alit, pejati, ayaban tumpeng lima, eteh-eteh pasucian (sisir, cermin, minyak wangi, bedak),  masing-masing daksina pralingga; canang lenga wangi, canang burat wangi, wastra (kain, handuk, sabuk stagen), segehan cacahan, kegiatan:

  1. Pinandita mulai ngaturang banten bersamaan ketika Ida Bhatara Medatengan
  2. Daksina Pralingga mulai dari Padmasana sampai Anglurah dihaturi: toya anyar, sabun, air kumkuman, katuran wastra, sisir, bedak, minyak wangi, cermin, masegeh cacahan, persiapan purwa daksina.

 

   10. Upacāra Mapurwa Daksina

  1. Pinandita ngaturang segehan agung didepan padmasana, petabuh arak-berem-tuak.
  2. Urut-urutan Purwa Daksina: Pasepan, penuntunan, mamas, umbul-umbul, banten pemagpag, banten penuntun Dewa, banten pangiring, cane, rantasan, tempat tirtha, daksina pralingga, tedung.                                 

Catatan:

Dari rantasan sampai dengan tedung berurutan dari padmasana, taman sari, pangemit tirtha, anglurah; di belakang daksina pralingga anglurah: sekeha santi, umat; selesai purwa daksina, ngelinggihang ke masing-masing pelinggih oleh pinandita dibantu para sutra.

 

   11.  Upacāra Pujawali

  1. Setelah semua banten munggah di pelinggih masing-masing, pandita memulai memuja diiringi kidung suci, tabuh lelambatan.
  2. Pandita memohon tirtha pabersihan, pelukatan, byakala, Prayascita, dan tirta pengulapan.
  3. Semua banten dan pelinggih disucikan dengan urut-urutan: pasepan, toya anyar.
  4. Prayascitta: pengeresikan, tirtha (padma), bungkak gading (lis senjata), banten prayascita diayabkan ke pelinggih bagian atas.
  5. Pengulapan:pengresikan, tirtha (padma), bungkak Bulan (lis), banten pengulapan  diayabkan ke pelinggih bagian atas.
  6. Tirtha padudusan dari Pandita.
  7. Tirtha catur kumbha dari Pandita.
  8. Lis gede, sibuh pepek dan tirtha dari Pandita

Catatan:

Semua kegiatan a-g dimulai dari padmasana-tamansari-pengempon tirtha-beji-anglurah, bale papelik-bale Pawedaan-asagan banten-pengraksa karya mulai dari sudut Timur Laut (Shri), Tenggara (Aji), Barat Daya (Rudra), Barat Laut (Kala), lalu diteruskan ke Candi Agung, Ganesha-Sanggar Tapeni-Dapur Suci-Bale Kulkul-Candi Bentar-Pemedal Agung-Pelinggih Maya-Bale Banjar-Bale Gong-Penunggu Karang-Bale Ebat-Dapur-Pemedal Banjar, lalu petugas kembali ke utama mandala. Dibutuh kan 16 orang pengayah untuk prosesi ini.

  1. Pandita mapuja ngaturang Pujawali
  2. Sembahyang bersama
  3. Mejaya-jaya
  4. Nunas tirtha
  5. Dharma Wacana
  6. Puja Parama Santih

 

   12.  Upakāra Nganyarin:

  1. Pagi Hari H+1 Jam 09.00

Sanggar agung, padmasana, tamansari, pengempon tirtha, anglurah, bale papelik, panggungan, tapeni, penunggu karang: masing-masing, pejati, kopi/teh, kue, di bawah pelinggih: segehan seperti biasa; sedangkan pelinggih yang lainnya masing-masing  soda; arepan memuja: pejati dan segehan cacahan.

 

b.  Siang Hari H+1 Jam 12.00

Sanggar agung, padmasana, tamansari, pengempon tirtha, anglurah, bale pelik, panggungan,  tapeni, penunggu karang; masing-masing, rayunan, sedangkan di pelinggih yang lainnya masing-masing rayunan alit; arepan memuja: soda.

Catatan:

Upacara Nganyarin dilaksanakan jika  pujawali/piodalannya nyejer, selama nyejer dilaksana kan persembahan banten Nganyarin dan umat sembahyang. Jika pujawali/ piodalan tidak nyejer, maka upacara ini ditiadakan.

 

   13.  Upacāra Penyineban

  1. Pinandita ngaturang banten panyineban
  2. Sembahyang bersama
  3. Nunas tirtha
  4. Nedunang daksina pralingga dari masing-masing pelinggih
  5. Urut-urutan nyineb; purwa daksina, pasepan, penuntunan, mamas, umbul-umbul, banten pemagpag, banten penuntun Dewa, banten pengiring, cane, rantasan, tempat tirta, daksina pralingga, tedung, salaran dan tegen-tegenan

Catatan:

     Dari rantasan sampai dengan tedung berurutan dari padmasana, tamansari, pangemit tirtha, anglurah; di belakang daksina pralingga anglurah, yaitu: sekeha santi, umat; selesai purwa daksina, mesandekan di asagan, pinandita ngaturang banten pangluhur, pinandita ngaturang segehan agung, tirtha pralina untuk daksina pralingga, banten tetingkeb, ngelukar dakasina pralingga, puja parama santih dan meprani.

 

14.  Upacāra  Ngelemekin

  1. Setelah semua banten munggah di pelinggih masing-masing. Pinandita memulai memuja diiringi Kidung suci.
  2. Pinanandita memohon Tirtha Pabersihan, Pelukatan, Byakala, Prayascita dan Tirtha Pengulapan.
  3. Semua Banten dan pelinggih disucikan dengan urut-urutan: pasepan, toya anyar.
  4. Byakala: pengresikan, tirtha (padma), banten byakala diayabkan ke pelinggih pada bagian bawah.
  5. Prayascitta: pengresikan, tirtha (padma), bungkak gading (lis senjata), selanjutnya banten prayascita diayabkan ke pelinggih bagian atas.
  6. Pengulapan: pengeresikan, tirtha (padma), bungkak bulan (lis), banten pengulapan  diayabkan ke pelinggih bagian atas.

Catatan:

Semua kegiatan a-e dimulai dari padmasana-tamansari-pengempon tirtha-Beji- anglurah-bale pawedaan-pengraksa karya mulai dari sudut timur laut (Shri), tenggara (Aji), Barat Daya (Rudra), Barat Laut (Kala), lalu diteruskan ke candi agung, ganesha sanggar tapeni-dapur suci-bale kulkul-candi bentar-pemedal agung-pelinggih maya-bale banjar-bale gong-penunggu karang-bale ebat-dapur-pemedal banjar-lalu petugas kembali ke utama mandala. Dibutuhkan 13 orang pengayah untuk prosesi ini.

  1. Mralina Daksina Pralingga Dewi Tapeni
  2. Ngaturang Suyuk
  3. Mralina Lingga Bhagawan Wiswakarma
  4. Umat diperciki tirtha Prayascita
  5. Sembahyang bersama dan Keramaning sembah
  6. Nunas Tirtha Wangsuhpada
  7. Ngaturang Guru Dakasina kepada: Pinandita, Serati Banten, Panitia, Banjar
  8. Puja parama santih
  9. Asah-Asih-Asuh

 

V.  PENUTUP

Demikianlah  pengertian, pengelompokan dan tatacara mendirikan sebuah pura yang dapat di ketengahkan pada kesempatan ini.  Dari uraian yang kami sampaikan ini, maka akan timbul pertanyaan yang perlu dijawab melalui langkah dan tindakan nyata bagi kita semua, mampu kah kita melaksanakan petunjuk sastra “bhisama raja purana” dalam kehidupan sehari-hari sebagai insan religious?

 

Untuk menjawab pertanyaan diatas, bukanlah tugas kami sebagai sosok Hindu yang terlahir dengan segala keterbatasan kemampuan baik dalam berpikir, berkata maupun bertindak dan bukan pula menjadi tugas Panitia sebagai Yajamana tetapi tugas kita semua Umat Hindu terutama generasi sekarang dan masa mendatang. Dan kami sebagai pemerhati adat Bali merasa sangat yakin hal tersebut dapat dilaksanakan, apabila dalam melangkah senantiasa dilandasi dengan pikiran tulus dan suci, tidak ada hal yang tidak mungkin dalam kehidupan ini, lebih-lebih demi kepentingan yang lebih besar dan untuk kerahayuan jagat. Demikian Kesimpulan akhir tulisan ini yang sudah tentu masih banyak kekurangannya, dan tidak ada salahnya hal ini dibaca dengan sungguh-sungguh, dan direnungkan dalam usaha kita ngrstiti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi agar dianugrahkan kerahayuan dan kebahagian.

 

Om Santih Santih Santih Om

Bandar Lampung, 27 Pebruari 2009

Di-edit kembali tanggal, 15-18 Oktober 2017

 

 

Ada 0 komentar untuk berita ini



Tinggalkan Komentar


Nama :
Email : Tidak akan diterbitkan
URL : Diawali dengan: http://
Komen :
security image