KEPEMIMPINAN MENURUT HINDU

,

Secara tradisional dalam suatu kelompok dari suatu tempat ke tempat lain kehidupan manusia dari jaman ke jaman, baik jaman prasejarah setiap kelompok manusia jaman prasejarah sudah mengenal dengan adanya pemimpin atas masing-masing kelompok dalam kehidupan yang berpindah-pindah.

 

Demikian juga halnya pada jaman sejarah kita mengenal banyak kerajaan-kerajaan dan tidak satupun kerajaan yang tidak memiliki seorang pemimpin yang disebut dengan Raja.

 

Jaman kemerdekaan terbentuknya sebuah negara yang berbentuk republik menganut sistem demokrasi terhadap pemilihan seorang pemimpin, maka seorang presiden dalam suatu negara dipilih langsung oleh rakyatnya.

 

Menurut Robert Tanembaum, Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab semua bagian pekerjaan dikoordinasikan demi tercapainya tujuan.

 

Beberapa asas dari kepemimpinan Pancasila adalah :

  • Ing Ngarsa Sung Tuladha, pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya menjadi dirinya sebagai panutan dan ikutan bagi orang-orang yang dipimpin.
  • Ing Madya Mangun Karsa, pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berwakarsa dan berkreasi kepada orang-orang yang dibimbingnya.
  • Tut Wuri Handayani, pemimpin harus mampu mendorong orang-orang yang diasuh atau dipimpin, berani berjalan didepan dan sanggup bertanggung jawab.

 

Menjadi seorang pemimpin di Indonesia, orang  harus berwaganegaraan Indonesia dari sejak lahir dan tidak pernah berkewarganegaraan lain artinya orang sejak lahir berkewarganegaraan Indonesia, sebagaimana diatur dalam pasal 6 Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

 

Peninggalan sastra-sastra Hindu merupakan bagian dari sastra-sastra yang ada di Indonesia yang telah memperkaya bangsa Indonesia dibidang kesusastraan. Kalau kita lihat dalam ajaran Weda sangatlah lengkap berbagai ilmu pengetahuan bisa didapatkan salah satu cotoh saja yaitu ilmu tentang pengobatan dan kesehatan disebut dengan Ayur Weda, ilmu tentang Astronomi yaitu Jyotisa yaitu memuat pokok-pokok ajaran Astronomi yang populer untuk pedoman melakukan upacara Yadnya, yang isinya adalah pambahasan tata surya, bulan dan tata surya lainnya yang dianggap berpengaruh dalam pelaksanaan yadnya, Arthasastra yaitu jenis ilmu yang ada dalam ajaran Weda yang memuat tentang pemerintahan negara, Isinya merupakan pokok-pokok pemikiran ilmu politik sebagai cabang ilmu dan jenis ilmu ini disebut Nitisastra atau Rajadharma atau Dandaniti.

 

Nitisastra sebagai ilmu yang berdiri sendiri mulai tahun 350 S.M. di kerajaan Magada ( India).  Yang melakukan penyusunan terhadap Nitisastra ini sebagai ilmu pemerintahan adalah seorang Brahmana yang bernama Canakya atau Kautilya. Pada tahun 350 S.M. tersebut kerajaan Magada berulang kali mendapat serangan dari bangsa pasi yang diperintah oleh seorang raja yang bergelar Iskandar Zulkarnaen. Kerajaan Magada adalah kerajaan yang paling parah karena serangan-serangan bangsa parsi itu.

 

Chandra Gupta putra dari Raja Magada mengasingkan diri dari kota kerajaan dan secara diam-diam melakukan konsulidasi kekuatan untuk mengusir penjajah dari persia itu. Dalm menghimpun kekuatan putra mahkota Candra Gupta didampingi oleh Maha Resi yang bernama Canakya atau Kautilya, atas bimbingannya Candra Gupta berhasil menegakkan kehormatan Negara Magada dilakukan secara mendasar dan Kautilya adalah konseptornya yang pada waktu itu perdana menteri. Konsep penataan sistim pemerintahan Kerajaan Magada sepenuhnya dilakukan oleh Chanakya atau Kautilya dan teori itu akhirnya menjadi suatu ilmu yang disebut dengan ARTHASASTRA atau lebih populer disebut istilah Danda Niti, dan ilmu tentang pemerintahan dalam agama Hindu disebut Nitisastra.

 

Syarat-syarat menjadi seorang pemimpin menurut Hindu apabila memenuhi persyaratan sebagaimana dalam kitab “Substance of Hindu Polity” yang disusun oleh Chandra Prakash Bhambari menyebutkan 6 syarat seorang Swamin atau Raja yang sisebut dengan Sad Warnaning Raja Niti (enam sifat utama dan kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang raja) yaitu :

  1. Abhicanika, artinya seorang raja atau pemimpin harus mampu menarik perhatian positif dari rakyatnya. Hal ini dapat dilihat dalam pesta demokrasi yang sering berlangsung calon-calon pemimpin memaparkan program kerjanya dan dilakukan debat antar calon tentang program-program yang akan dijalankan bila terpilih menjadi pemimpin.
  2. Prajna, artinya seorang pemimpin atau raja harus bijak sana, walaupun difinah, dimaki, raja tidak menampakan raut yang marah sekalipun dalam hatinya sangatlah marah.
  3. Utsaha, artinya pemimpin atau raja haruh memiliki daya kreatif yang benar. Hal ini dapat dilihat bahwa seorang pemimpin bagai mana meningkatkan perekonomian negaranya dengan berbagai trobosan-trobosan sehingga dapat dirasakan oleh rakyatnya.
  4. Atma Sampad, seorang pemimpin atau raja harus bermoral yang luhur, sehingga dalam pasal 6 Undang – undang Dasar 1945 telah diatur.
  5. Sakya Samanta, seorang pemimpin harus mampu mengontrol bawahannya dan sekali gus memperbaiki hal-hal yang dianggap kurang baik. Dalam menjalankan pemerintahannya seorang pemimpin mengadakan rapat kabinet untuk mengecek sejauh mana program kerjanya telah dilaksanakan oleh para mentrinya.
  6. Aksudra Parisatka, seorang pemimpin atau raja harus mampu memimpin sidang para mentrinya sehingga dapat menarik kesimpulan yang bijaksana sehingga diterimanya oleh pihak yang mempunyai pandangan yang berbeda-beda.

 

Catur Kotamaning Nrpati

Dalam buku Tata Negara Majapahit Karya Prof. M. Yamin Parwa III, halaman 102 ada disebutkan sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang raja atau pemimpin yang disebut Catur Kotamaning Nrpati yaitu :

  1. Jnana Wisesa Sudha, artinya seorang raja atau pemimpin harus memiliki pengetahuan yang luhur dan suci, maksudnya harus mengerti dan mengetahui serta menghayati ajaran-ajaran agama.
  2. Kaprahitaning Praja, artinya serang raja atau pemimpin harus menunjukan belas kasihan kepada rakyat , maksunya harus betul-betul menolong rakyat yang menderita dengan perbuatan yang nyata, pertolongan itu bersifat jasmaniah atau material.
  3. Kawiryan, artinya raja atau pemimpin harus berwatak berani, untuk menegakkan hukum, pengetahuan yang suci, dan menolong rakyat yang menderita harus dilaksanakan dengan penuh keberanian, karena membela karyat yang menderita akan penuh tantangan dan resiko.
  4. Wibawa, seorang raja atau pemimpin harus berwibawa terhadap bawahan dan rakyatnya, dan seorang raja atau pemimpin akan berwibawa apabila melaksanakan tugas didasari deangan pengetahuan untuk membela kepentingan rakyatnya.

 

Tri Upaya Sandhi

Dijelaskan dalam lontar Raja Pati Gundala, seorang raja atau pemimpin haruslah memiliki tiga upaya untuk menghubungkan atau menyatukan diri dengan rakyatnya yaitu :

  1. Rupa, seorang raja atau pemimpin harus mengamati wajah dari pada rakyatnya karena dari raut wajahnya akan terlihat dan mengambarkan keadaan batin dari rakyatnya, apakah rakyatnya dalam keadaan sedang bahagia atau sedang kesusahan.
  2. Wangsa, seorang raja atau pemimpin harus mengetahui strata sosial masyarakatnya, dengan mengetahui hal tersebut seorang raja atau pemimpin dapat menentukan cara pendekatan atau motifasi yang harus dilakukan dalam masyarakat tersebut.
  3. Guna, seorang raja atau pemimpin harus mengetahui tingkat pengetahuan dan keterampilan dalam bidang pertanian, perdagangan, dan industri kreatif yang menunjang tarap hidup rakyatnya.

 

Panca Upaya Sandhi

Lontar Budha Gama Tattwa menjelaskan bahwa disebutkan lima upaya yang harus dilakukan Raja atau pemimpin dalam menghadapi musuh musuh negara maupun dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang menjadi tanggungjawab raja yaitu:

  1. Maya, artinya seorang raja atau pemimpin harus mampu melalukan upaya dalam mengumpulkan data-data yang belum jelas kedudukan dan profesinya.
  2. Upeksa, seorang raja atau pemimpin mampu mengoreksi semua bahan-bahan atau data-data dan informasi tersebut untuk dapat meletakan data-data dan permasalahan yang akan nantinya diberikan kepada para menterinya untuk menyelesaikan sesuai dengan profesinya.
  3. Indra Jala, seorang raja atau Pemimpin mampu mencari jalan keluar dalam memecahkan setiap permasalahan yang dihadapi.
  4. Wikrama, suatu upaya untuk melaksanakan apa yang telah dirumuskan pada tingkat Indra Jala.
  5. Lokika, setiap tindakan yang ditempuh harus selalu mendapat pertimbangan-pertimbangan akal sehat dan logis atau masuk akal dan tidak boleh sama sekali bertindak berdasarkan emosi semata-mata.

 

Asta Brata

Merupakan ajaran Sri Rama kepada Gunawan Wibisana dalam memegang tanpuk kepemimpinan negara kerajaan Alengka Pura, yang terdapat dalam Ramayana, Asta Brata itu juga diajarkan dalam kitab hukum Hindu yang disebut Manawa Dhamasastra. Asta Brata artinya 8 (delapan) landasan mental bagi seorang pemimpin yaitu :

  1. Indra Brata, para pemimpin hendaknya mengikuti sifat-sifat dewa Indra yaitu sebagai dewa hujan. Hujan adalah sumber kemakmuran karena tanpa hujan tumbuhan dan makhluk hidup lainnya tidak dapat hidup. Jadi seorang pemimpin hendaknya seperti air yang berasal dari bawah menguap menjadi awan dan turun menjadi hujan yang membasahi seluruh alam semesta beserta isinya ini.

Dari hal tersebut diatas, pemimpin adalah berasal dari manusia biasa, setelah menjadi pemimpin janganlah lupa kepada rakyatnya.

  1. Yama Brata, hendaknya pemimpin mengikuti sifat-sifat dewa yama yaitu menciptakan hukum, menegakkan hukum dan memberikan hukuman secara adil kepada setiap orang yang bersalah.
  2. Surya Brata, artinya pemimpin hendaknya memberi penerangan secara adil dan rata kepada seluruh rakyat dan selelu berbuat hati-hati seperti matahari sangat berhati hati dalam menyerap air. Surya Brata berarti pula pemimpin harus selalu berusaha untuk meningkatkan semangat perjuangan hidup seluruh rakyatnya.
  3. Candra Brata, pemimpin hendaknya selalu memperlihatkan wajah yang tenang dan berseri-seri sehingga rakyat yakin akan kebesaran jiwa dari kepemimpinannya.
  4. Bayu Brata, selalu mengetahui dan menyelidiki keadaan dan kehendak yang sebenarnya terutama sekali keadaan rakyat yang hidupnya paling menderita, sifat kepemimpinan ini digambarkan bagaikan sanghyang bayu yaitu dewa angin yang selalu berhembus dari tekanan yang tinggi ketekanan yang paling rendah.
  5. Danadha (kwere)Brata, pemimpin haruslah bijaksana dalam mempergunakan dana atau uang, jangan menjadi pemboros yang dapat merugikan negara dan rakyat, seorang pemimpin harus menggunakan dana sehemat mungkin.
  6. Baruna Brata, artinya pemimpin hendaknya dapat membersihkan segala bentuk menyankit masyarakat, seperti pengangguran, kenakalan remaja, pencurian, pengacauan politik dan lain sebagainya yang bersifat melanggar hukum.
  7. Agni Brata, raja atau pemimpin harus memiliki sifat kesatrya  yang disertai dengan semangat yang tinggi bagikan api  yang tak akan berhenti membakar sebelum apa yang dibakar itu habis.

 

Berbagai sumber yang terurai tersebut diatas, membuktikan bahwa sastra-sastra Hindu merupaka kekayaan bangsa indonesia yang dijadikan pedoman menjadi seorang pemimpin pada jaman kerajaan Majapahit yang memiliki kekuasaan yang begitu luas yang dikenal dengan Nusantara yang dikenal dan dikenang tercatat dalam sejarah sampai saat ini. (penulis, Akbp I Made Kartika, S.Ag, S.H., M.H.)

Ada 0 komentar untuk berita ini



Tinggalkan Komentar


Nama :
Email : Tidak akan diterbitkan
URL : Diawali dengan: http://
Komen :
security image