KAWITAN ?

,

Pribahasa sering kita dengar, kacang jangan lupa kulit, durian tidak mungkin akan berbuah jeruk, nanam jagung tidak mungkin akan tumbuh padi, dan masih banyak lagi persamaan pribahasa seperti ini. Demikian halnya dengan kehidupan di dunia ini seperti siklus yang selalu berputer dan tidak akan meninggalkan asal usul atau sumber awal dari sebuah kelahiran ke dunia ini.

 

Ajaran agama Hindu mengenal dengan konsep Tri Kona yaitu tiga kemahakuasaan Tuhan yaitu :

  1. Utpati, yaitu Tuhan memiliki kekuatan atau kemahakuasaanNYA dalam menciptakan alam beserta isinya termasuk manusia.
  2. Sthiti, yaitu Tuhan memiliki kekuatan dan kemahakuasaanNYA dalam memelihara segala ciptaan yang telah diciptakanNYA seisi alam ini termasuk manusia.
  3. Pralina, yaitu Tuhan memiliki kekuatan untuk meniadakan segala ciptaanNYA.

 

Ketiga kekuatan atau kemahakuasaan Tuhan tersebut diatas, maka timbul pertanyaan bagaimana Tuhan secara nyata menciptakan manusia?, dan darimana Tuhan secara nyata menciptakan alam, tumbuh-tumbuhan, dan mahluk hidup lainnya? Tentu kita dapat membuktikan adanya awal dan akhir dari sebuah kehidupan, hal ini akan berkaitan dengan pribahasa diatas seperti : kacang tumbuh berbuah karena awalnya ditanam benih kacang, durian tumbuh berbuah karena awalnya pasti yang ditanam bibit durian, jagung tumbuh dan berbuah karena awalnya pasti ditanam adalah benih jagung, dan padi yang tumbuh dan berbuah sudah pasti yang ditanam adalah benih padi. Demikian juga manusia dan mahkluk hidup lainnya. Anak lahir karena ada kedua orang tuanya, orang tuanya lahir karena ada kakek dan nenek, kakek dan nenek lahir karena adanya cicit, cicit lahir karena adanya canggah, canggah lahir karena adanya wareng, wareng lahir karena adanya Udhek-udhek dan seterusnya sampai istilah keturunan ke delapan belas  (18) yang disebut dengan Trah tumerah. Pertanyaannya siapa yang menciptakan Trah tumerah dan seterusnya ? tentu penulis berharap pembaca sepakat bahwa itulah yang disebut kekuwatan Tuhan atau Kemaha Kuasaan Ida Sanghyang Widhi Wasa.

 

Negara Republik Indonesia memiliki dasar yaitu Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, yang merupakan sumber dari segala sumber hukum yang mengatur pranata sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Demikian halnya Agama Hindu memiliki dasar yang disebut dengan Panca Sradha yaitu :

  1. Percaya dengan adanya Tuhan (Ida Sanghyang Widhi Wasa, yang menciptakan alam beserta isinya)
  2. Percaya dengan adanya Atman (jiwa roh yang menghidupkan raga manusia dan mahluk hidup lainnya)
  3. Percaya dengan adanya Karma (percaya dengan adanya hukum Karma Phala, sebab dan akibat sebuah perbuatan yang dilakukan oleh setiap manusia).
  4. Percaya dengan adanya Samsara (percaya dengan adanya kelahiran kembali setelah adanya kematian sehingga adanya kehidupan dan kematian yang selau silih berganti sebagaimana perputaran dunia ini).
  5. Percaya dengan adanya Moksa ( percaya dengan adanya kebebasan dari pengaruh ikatan duniawi, bebas dari karma phala, bebas dari samsara tidak terpengaruh oleh apapun dalam masa hidupnya dan bebas dalam dunia fana tanpa mengalami kelahiran kembali kedunia setelah kematian).

 

Aktualisasi atau pelaksanaannya Panca Sradha tersebut maka ada benang merah atau acuan yang disebut dengan Tri Kerangka Agama Hindu yaitu :

  1. Tattwa, yaitu pengetahuan tentang filsafat agama
  2. Susila, yaitu pengetahuan tentang sopan santun,  tata krama
  3. Upacara, yaitu pengetahuan tentang yajna, upacara agama.

 

Penulis mencoba untuk menilik Sradha yang ke dua dari Panca Sradha yaitu percaya dan yakin terhadap adanya Jiwa atau Roh,  pelaksanaan agama Hindu sebagaimana diatur dalam Tri Kerangka agama Hindu yang ketiga yaitu Upacara, maka penghormatan Roh Leluhur Umat Hindu sering ditemui melaksanakan Pitra Yadnya atau upacara Pengabenan sebagai wujud penghormatan kepada roh leluhurnya. Roh leluhur inilah asal mula Tuhan menciptakan manusia melalui orang tua, kakek nenek, cicit buyut dan seterusnya seperti telah terurai diatas, pertanyaannya apakah ini yang disebut dengan kawitan? Kawitan berasal dari bahasa sansekerta “Wit” yang artinya asal usul/asal mula atau Preti Sentanan Sire. Pemujaan terhadap Kawitan maka umat Hindu memiliki Merajan, lebih besar lagi disebut dengan Paibon, yang lebih besar lagi disebut dengan pura Kawitan dan yang lebih besar lagi disebut dengan pura Pedharman. Ini merupakan wujud nyata bertindak, berprilaku sepiritual dalam bentuk Upakara – upakara yang memiliki dasar dan landasan Tattwa dalam menghormati orang tua, leluhur baik semasa hidupnya sampai meninggal dunia. Nah bagaimana kalau ada orang yang mengaku beragama Hindu tetapi tidak yakin dengan adanya Roh Leluhur atau Kawitan ? Apakah ini yang disebut dengan Lali Kawitan padahal dasar agama Hindu yakin terhadap adanya  Atman atau Roh, untuk itu penulis serahkan kepada pembaca dalam memberikan persepsi.  (penulis AKBP I Made Kartika, S.Ag, S.H., M.H.).

Ada 0 komentar untuk berita ini



Tinggalkan Komentar


Nama :
Email : Tidak akan diterbitkan
URL : Diawali dengan: http://
Komen :
security image