SESANA PEMANGKU & NGANTEB UPAKARA PUJAWALI

,

GAMBARAN UMUM

 

Materi yang disajikan dalam buku ini adalah pedoman praktis sesana pemangku yang berisi tuntunan etika dan perilaku agar menjadi seorang  pemangku/pinandita yang dapat ditauladani oleh para sisya/penekun spiritual kepemangkuan dan dilengkapi juga dengan petunjuk praktis nganteb upakara pujawali dalam kegiatan piodalan di pura  Dadia/Merajan/Kemulan/Kawitan.

Materi-materi yang disajikanini bersumber dari buku C.Hooykaas yang diterjemahkan Suwariyati berjudul Surya Sevana bagi Pandita Siva dan materi kepemangkuan yang diajarkan Sang Guru Waktra Ida Pandita Mpu Parama Nata Yoga. Selain itu, penulis juga merujuk buku Manggala Upacara yang diterbitkan Dirjen Bimas Hindudan Budha Departemen Agama Republik Indonesia dan Keputusan Pesamuhan Agung Parisada Indonesia Pusat yang secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut:

 

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini memuat latar belakang penulisan dan ruang lingkup dari isi penyusunan buku ini. Dalam latar belakang akan diuraikan intisari dari buku ini yang menyangkut tentang maksud dan tujuan penulisan buku ini,kendala-kendala yang sering dialami pemangku dalam melaksanakan upacara. Buku ini juga berisi penjelasan yang berkaitandengan ruang lingkup, sumber-sumber pustaka atau literatur yang digunakan dan juga mempedomani warisan buku kepemangkuan yang diberikan oleh orang tua (almarhum) yang selama ini membimbing saya dalam menerapkan ajaran-ajaran kepemangkuan.

Demikian juga kepada beliau Ida Pandita Mpu Parama Nata Yoga Sang Guru Waktra yang telah banyak memberikan tuntunan dalam perjalanan spiritual saya selaku sisya dan pengetahuan suci yang diberikan oleh Ida Pandita, saya tuliskan menjadi sebuah buku yang nantinya mungkin saja dapat dijadikan sebagai pedoman bagi orang lain dalam melakukan pendakian spiritualnya untuk menjadi seorang pemangku. Pendakian spiritual dalam ajaran Catur Asrama yang dilakukan ini merupakan tujuan utama bagi setiap umat Hindu dalam mengisi kehidupan di masa tuanya untuk menuju pada tujuan hidup menurut ajaran Hindu yaitu “morsartham jagadhita ya ca itti dharma”.

 

 

BAB II ETIKA PEMANGKU

Dalam Bab diuraikan secara umum tentang etika dan perilaku pemangku yang menjadi bagian terpenting dari ajaran Tri Manggala Upacara. Masalah ini perlu diangkat, karena berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan dilapangan, masih ada pemangku yang belum menerapkan sesana/etika secara utuh dalam melaksanakan pengabdiannya di masyarakat, namun realitas ini tidak banyak muncul kepermukaan. Oleh karena itu masalah ini perlu menjadi perhatian kita semua, agar nilai-nilai kesucian yang dijadikan sebagai pedoman etika dan perilaku dalam kehidupan pemangku senantiasa dapat terpelihara dengan baik dan lestari di masyarakat.

Demikian juga tentang pemahaman upakara, fakta fakta yang ditemukan di masyarakat merupakan bukti adanya kecenderungan para sarati banten di nilai memiliki kompetensi/ketrampilan yang lebih mendalam tentang upakara dibandingkan dengan para pemangku, sehingga sang yajamana lebih cenderung meminta petunjuk kepada sarati dari pada pemangku yang akan nganteb.

Faktor-faktor lainnya yang berpengaruh terkait dengan pengetahuan umat Hindu tentang upakara /banten pada umumnya masih kurang, hal ini juga harus menjadi pembahasan tersendiri oleh para diatmika melalui pembinaan tentang ritual agama secara langsung kepada masyarakat.

 

BAB III DUDONAN UPACARA

Dalam Bab ini akan dijelaskan tentang tata cara nganteb dalam suatu upacara yadnya yaitu piodalan di merajan/sanggah, pura kawitan, pura dadya dan pura kahyangan. Sang yajamana yang dimaksudkan dalam hal ini adalah tidak hanya umat Hindu yang berasal dari Bali saja, tetapi juga umat Hindu yang berasal dari suku jawa atau suku lainnya. Tradisi ritual keagamaan yang digunakan hendaknya terintegrasi dengan baik secara dan bijaksana, tanpa mengurangi makna dan simbol-simbol upakara serta kesakralan dari tradisi ritual yang selama ini diwarisi dari leluhurnya.

 

Bandar Lampung, 14 Juni 2017

Penulis: Jro Mangku Dr. I Ketut Seregig, SH, MH

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Secara konseptual kegiatan upacara yadnya di Indonesia, telah berpedoman kepada konsep Tri Manggala Upacara, sesuai dengan keputusan Pesamuhan Agung Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, yang menyatakan bahwa yang disebut dengan Tri Manggala Upacara adalah pandita dan atau pinandita/pemangku, yajamana dan sarati. Ketiga pemimpin upacara ini adalah sebagai penentu sukses tidaknya pelaksanaan upacara panca yadnya yang akan dilaksanakan. 

 

Menurut tradisi masyarakat Hindu etnis Bali, besar kecilnya upakara dibagi menjadi 3 bagian, yang disebut dengan nista, madya, uttama. Masing-masing bagian dibagi menjadi 3 (tiga) subbagian, sesuai tingkatannya, yaitu: nistaning-nista, nista ning-madya, nistaning-uttama; madyaning-nista madyaning-madya madyaning-utama; utamaning-nista, utamaning-madya, utamaning uttama.

 

Permasalahan yang dihadapi oleh para pemangku terutama pemangku pemula dalam pelaksanaan upacara bahwa tidak semua pemangku/pinandita memahami nama, jenis, bentuk upakara/banten yang akan dipersembahkan dalam pelaksanaan ritual/upacara yadnya. Kalau nama upakara masih banyak yang mengetahui, tetapi tidak banyak para pemangku yang mengetahui tentang jenis atau bentuknya, dan juga tidak banyak pemangku bisa membuat upakara, apalagi pemangkuyang belum pernah melihat jenis dan bentuk upakara, maka akan menjadi kendala yang cukup besar dalam pelaksanaan kegiatan upacara yadnya. Namun demikian, pemangku harus tetap dapat melaksanakan kewajibannya dalam memberikan pelayanan kegiatan keagamaan kepada umat Hindu yang ada di desanya, sesuai dengan sesana nya sebagai pemangku.

 

Pemangku harus terus belajar untuk segera dapat memahami jenis, bentuk, makna, upakara/banten yang sering digunakan dalam melakukan yadnya. Kewajiban para pemangku sebagaimana telah diuraikan diatas merupakan salah satu sesana yang wajib dijalankan dengan penuh rasa bhakti, agar nantinya dapat dijadikan sebagai panutan oleh umat dalam menjalankan kehidupannya di masyarakat.

 

Selain kewajiban seperti yang telah diuraikan di atas, para pemangku juga wajib memberikan pencerahan melalui dharmawacana atau pesan pesan dharma kepada umat dan apabila diminta oleh umat Hindu untuk nganteb upakara sesuai kewenangannya, maka seorang pemangku tidak boleh menolak tugas dan kewajibannya tersebut.

 

Tuntunan spiritual kepemangkuan yang selama ini dijadikan sebagai pedoman dalam memberikan pelayanan ritual kepada sang yajamana, pakem nya sangat mungkin berbeda, sesuai dengan ajaran masing-masing pemangku yang diterima dari guru waktra yang membimbingnya. Pada prinsipnya semua petunjuk atau ajaran yang diterapkan itu adalah benar, sepanjang tidak bertentangan dengan kitab suci veda dan tidak boleh bertentangan dengan etika kepemangkuan nya. Faktor terpenting yang diperlukan dalam hal ini adalah semangat mengabdi tanpa pamrih dan penuh dengan rasa bhakti yang tulus.

 

Bagi pemangku pemula dalam melaksanakan nganteb upakara pada suatu upacara yadnya, sering diselimuti oleh keragu-raguan apakah cara yang dilakukan ini sudah benar atau tidak? Maka penulis melalui buku ini berusaha menuliskan secara simpel dan rinci mengenai tatacara yang harus dipedomani ketika nganteb upakara dalam melaksanaan upacara yadnya. Tatacara mepuja yang ada dalam buku ini hanyalah sebatas contoh dalam bentuk dudonan upacara piodalan atau pujawali yang dilakukan di merajan keluarga atau pura kahyangan dengan dudonan caru ayam brumbun, sehingga memberi kemudahan bagi para pemangku pemula dalam melakukan praktik mepuja, terutama bagi para pemangku umat jawa, yang selama ini sering mengalami kesulitan dalam nganteb upacara yadnya, karena kurang mengetahui jenis, bentuk sesaji/banten. Apabila pemangku kurang tekun belajar, maka hal ini dapat menimbulkan kendala yang cukup serius, karena model upakara yang dijadikan sarana selama ini adalah upakara menurut tradisi Bali.

 

Untuk itulah dalam pendakian spiritual melalui pendalaman pengetahuan tentang etika/sesana pemangku dan upakara/banten, terutama bagi para pemangku umat jawa wajib menggali makna sesaji yang selama ini digunakan oleh umat Hindu jawa dan mencari benang merah atau persamaan nya dengan bentuk dan makna upakara/banten menurut tradisi umat Hindu Bali.

 

Berkaitan dengan hal-hal tersebut, salah satu dari sekian banyak masalah yang ada, haruslah dapat dijawab oleh seorang pemangku adalah; apakah mantram pemangku yang diucapkan sudah cocok dengan upakara/banten yang ada dihadapannya?  Hal inilah yang harus dicari jawabannya selama pemangku melakukan pendakian spiritual dalam mendalami ajaran kepemangkuan.

 

Meskipun diantara para pemangkuada yang tidak mengetahui nama atau bentuk upakara yang dihadapinya, seorang pemangku ketika duduk berhadapan dengan upakara/banten, harus dapat menghapus keragu-raguan yang menyelimuti perasaannya dan berusaha menenangkan hati melalui meditasi beberapa saat di tempat duduk, kemudian ngacep Ida Sang Hyang Taksu agar diberikan anugrah kecermelangan pikiran.

 

Selain itu, dalam pelaksanaan nganteb upakara, para pemangku senantiasa akan didampingi oleh sarati, maka para pemangku pemula tidak perlu ragu-ragu, yang terpenting secara teori seorang pemangku harus mengetahui mantra tentang jenis upakara/banten, hal ini sudah lebih dari cukup sebagai pemangku pemula. Hal yang terpenting yang harus dilakukan oleh para pemangku dalam nganteb upakara adalah para pemangku harus paham betul tentang urut-urutan mepuja dan hafal mantra, karena dalam mepuja para pemangku harus mengucapkan mantra-mantra dengan jelas sehingga suara mantra itu dapat didengar oleh umat Hindu yang sedang mengikuti pelaksanaan upacara atau mengikuti suatu persembahyangan.

 

Dalam upaya meningkatkan pengetahuan spiritual tentang ajaran weda, disarankan kepada para pemangku agar senantiasa meminta petunjuk dari guru waktra, agar kesalahan-kesalahan dalam mepuja, yang selama ini telah terjadi dalam pelaksanaan nganteb upacara yadnya, segera dapat jawabannya dan diperbaiki. Kemudian para pemangku hendaknya selalu pleksibel dalam melaksanakan kegiatan upacara yadnya dan terus berupaya menggali dan memahami makna-makna yang terdapat dalam upakara/banten menurut tradisi Hindu etnis Bali, terutama yang berkaitan dengan banten bhyakala, caru, prayascita dan upakara/sesaji untuk para dewa.

 

Pendalaman dan pengamalan terhadap sesana pemangku merupakan wujud kepedulian para pemerhati budaya Bali dalam menjaga kelestarian tradisi, adat-istiadat seni budaya Bali di wilayah Nusantara. Mantra-mantra yang tertuang dalam buku ini, sebagian besar dikutif dari literatur yang berkaitan dengan filsafat (tattva), etika dan ritual/ upacara agama Hindu, yang kemudian dijadikan sebagai sumber utama yang menjiwai buku ini.

 

Beberapa literatur yang juga dijadikan sebagai sumber penulisan buku ini adalah; buku Surya Sevana, keputusan Pesamuhan Agung Parisada, Buku Manggala Upacara yang disertai dengan penjelasan dari Pandita yang menjadi sumber primer dalam buku ini. Sebagai penulis, saya berharap agar buku ini dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pengetahuan suci yang sangat baik untuk dibaca, yang dapat menuntun umat Hindu dalam melakukan pendakian spiritual untuk menjadi seorang pemangku yang langsung dapat dipraktikan dalam melaksanakan upacara yadnya, sehingga kendala yang dirasakan selama ini yaitu kebingungan ketika berhadapan dengan upakara /banten akan dapat teratasi.

 

Buku ini juga dapat memberi tuntunan etika bagi para pemangku agar menjadi panutan dan tidak tercela dalam menjalani kehidupan sehari-hari di masyarakat. Dengan melaksanakan etika/ sesana pemangku secara sungguh-sungguh dan tulus sebagaimana telah diuraikan dalam buku ini, penulis merasa yakin para pemangku akan memiliki rasa percaya diri dan wawasan tentang pengetahuan ritual/upakara dan etika perilaku pemangku yang mendalam, dalam melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai manggala upacara, sehingga dalam melaksanakan upacara yadnya, pemangku akan merasakan ketenangan, tidak gemetar dan dapat mencapai samadhi dalam berkonsentrasi kehadapan Ida Sang Hyang

Widhi Wasa.

 

Kendala-kendala lain yang sering dihadapi oleh para pemangku pemula adalah ketika sedang melaksanakan upacara yadnya adalah sering sekali genta yang digunakan oleh pemangku tidak bunyi sesuai dengan harapan, lengket/tidak bergerak, hal ini disebabkan oleh belum adanya keseimbangan rohani dan jasmani dari pemangku dan belum terbiasa dalam menggunakan genta, sehingga tangan yang memegang genta masih kurang stabil dan mantap.

 

Kendala tersebut diatas sangat lumrah terjadi, maka saran penulis para pemangku pemula harus tekun belajar dengan penuh rasa bhakti, karena umat Hindu sangat memerlukan kehadiran para pemangku untuk dapat memberikan pelayanan kepada umat dalam kegiatan upacara dan dharma wacana, agar umat Hindu mendapat pencerahan agama serta semakin meningkatkan sraddha dan bhakti kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa.

 

Apabila petunjuk-petunjuk yang ada dalam buku ini dilaksanakan secara rutin, maka semakin lama kendala yang dihadapi dalam melaksanakan puja stawa akan semakin sirna dan seiring dengan kemantapan dan ketenangan hati serta rasa bhakti yang suci dalam mempelajari mantra-mantra yang dibutuhkan dalam menjalankan etika pemangku. Perlu juga penulis sampaikan dalam hal ini bahwa pada awalnya penyusunan buku ini adalah untuk kepentingan diri sendiri dalam mendalami ajaran kepemangkuan, namun kenyataan yang dialami oleh penulis bahwa dalam pelaksanaan mepuja cukup banyak kendala-kendala yang dihadapi sebagaimana telah penulis uraikan diatas dan atas dasar pengalaman itulah timbul keinginan penulis untuk melengkapi buku ini dengan menambahkan beberapa permasalahan yang selama ini telah dialami tersebut, dengan maksud untuk memberi motivasi dan berbagi pengalaman dalam belajar, terutama bagi calon pemangku dan pemangku pemula. Sebagai intisari dari buku ini adalah uraian tentang tata cara nganteb upakara piodalan di merajan atau pujawali yang dapat dijadikan sebagai tuntunan/pedoman praktik mepuja dalam menjalankan sesana sebagai seorang pemangku.

 

Sebagai akhir kata, sebagai penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam buku pedoman ini terdapat kekeliruan baik isi maupun tulisannya. Bagi kami, tiada gading yang tidak retak, tak satupun pekerjaan manusia sempurna, walau kita tahu bahwa manusia adalah mahluk yang sempurna.

 

 

BAB II

ETIKA PEMANGKU

 

1.  Etika Pemangku

Pandangan umat Hindu tentang etika cenderung beragam. Dalam masyarakat adatBali, ada yang mengatakan bahwa Etika sama dengan etiket; karena menyangkut serangkaian aturan tentang interaksi sosial umat Hindu Bali dalam kehidupan sehari-hari meliputi tata cara bertutur kata, tingkah-laku, baik individual maupun kelompok, sesuai dengan tingkatan umur yaitu orang tua, orang yang lebih dewasa, sebaya dan lebih muda. Disisi lain ada yang mengatakan bahwa etika adalah tata krama atau sopan-santun yang diamalkan umat Hindu dalam pergaulan hidup sehari-hari.

 

Secara harfiah etika adalah kata yang bersifat abstrak tetapi mengandung arti nilai atau norma yang bermakna suatu kesopanan. Untuk dapat melihat wujud dari etika maka harus diragakan dengan menggunakan cara-cara tertentu agar etika sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. Proses yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan sesuai dengan nilai atau norma yang di inginkan disebut etiket. Dengan kata lain bahwa etiket adalah aturan moralitas yang mengandung nilai-nilai kesopanan.

 

Dalam sistem kehidupan masyarakat adat Bali istilah etiket sudah melekat sebagai bahasa sehari-hari, misalnya: bila ada seseorang tidak menggunakan etika dalam suatu situasi kondisi tertentu, maka orang tersebut akan dinyatakan sebagai orang yang melanggar etiket. Pada dasar nya etika perilaku yang wajib dilakukan oleh para pemangku/pinandita hampir sama dengan etika kepanditaan, yang membedakan adalah; untuk menjadi pandita harus dilaksanakan upacara diksa dwijati. Tetapi untuk menjadi pemangku cukup dengan melakukan upacara pewintenan pemangku dengan menggunakan pedudusan alit yang dilakukan oleh seorang Pandita. Sesungguh nya sang ekajati adalah Ida Bawati Jro Gede, namun dresta yang ada pada masyarakat adat Bali, status pemangku diakui sebagai sang ekajati (Mpu Parama Nata Yoga, 2006).

 

Mengacu pada etika/sesana aguron-guron yang berkembang dalam tradisi masyarakat adat Bali, seorang pemangku adalah sisya dari seorang pandita. Dalam hal sang pandita menjadi guru, maka beliau disebut Guru Waktra. Pengangkatan sisya oleh Pandita diawali dengan melakukan upacara upanayana yang dalam tradisi adat Bali disebut upacara pawintenan saraswati, setelah itu kewajiban Sang Guru yang bertanggungjawab sepenuhnya dalam memberikan tuntunan ajaran suci weda kepada sisyanya.

 

Demikian hubungan antara guru dengan murid (Guru Waktra dan Sisya), yang secara spiritual telah terjadi hubungan seperti orang tua dengan anaknya. Ketika sisya dianggap telah mampu mengucapkan mantra-mantra yang diajarkan sang guru, maka sisya diwintenkan di pura kahyangan sesuai dengan keinginan dari prajuru adat, atau pihak keluarga dan dalam pawintenan tersebut wajib disaksikan oleh krama dan prajuru adat serta keluarga.

 

Apabila sisya telah melaksanakan pewintenan, maka Pandita selaku sang guru waktra akan menganugrahkan gelar mangku didepan nama sisya yang telah diwinten tersebut. Dalam prosesi pawintenan tersebut, Guru Waktra wajib memberi wejangan/penika yang berisi pesan-pesan atau nasehat agar pemangku dalam menjalankan tugas dan kewajibannya wajib mengikuti sesana/etika perilaku kepemangkuan, sesuai dengan tuntunan etika yang telah diajarkan oleh Pandita selaku Guru Waktra.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, pemangku wajib meningkatkan pengetahuan agamanya dengan cara mempelajari kitab suci weda, khususnya menghafalkan mantra-mantra puja stawa dan terus melatih diri menggunakan genta sebagai bagian dari Panca Iswara yang menjadi satu kesatuan dalam melaksanakan puja atau kegiatan upacara piodalan atau upacara lainnya. Setelah diangkat menjadi pemangku, dalam bertingkah-laku sehari-hari wajib mengikuti ketentuan etika atau sesana, dan apabila pemangku melakukan kesalahan, secara niskala pemangku bertanggung jawab kehadapan Bhatara Siwa dalam manifestasi- Nya sebagai Sanghyang Rareangon yang berstana pada pelinggih Hyang Taksu.

 

Menjadi pemangku harus taat dan patuh dalam menjalankan sesana. Bila ia melanggar maka pasti akan terkena kutukan Sang Hyang Rareangon yang berstana pada pelinggih Sanghyang Taksu dan Ida Sang Hyang Aji Saraswati yang menguasai pengetahuan suci, dan apabila hal ini terjadi pada seorang pemangku, ia akan mendapat hukuman penderitaan semasa hidupnya dan tidak pernah merasakan kebahagiaan, namun sebaliknya bila dalam kehidupannya seorang pemangku selalu taat menjalankan sesana dan setia terhadap pesan-pesan atau nasehat sang guru waktra, maka pengetahuan yang dimilikinya akan menjadi sempurna, tubuhnya akan diselimuti cahaya suci para dewa, wajahnya akan bercahaya/berseri-seri, sorot matanya teduh, tubuhnya akan terlihat selalu bersih dan aura kebahagiaan senantiasa bersemayam dalam dirinya.

 

Begitulah seharusnya kehidupan yang dialami oleh seorang pemangku dalam melaksanakan kewajibannya, apabila ia taat dengan sesana, sepanjang hidupnya ia akan menjadi tapakan Bhatara, dihormati dan dijadikan panutan oleh seluruh umat serta ditaati oleh krama dan prajuru adatnya. Demikian pula apabila pemangku rajin belajar dan selalu meningkatkan pengetahuan suci yang dipelajarinya, maka pengetahuan yang dimilikinya akan selalu sempurna dan sangat bermanfaat bagi umat yang dilayaninya.

 

Dalam tradisi masyarakat adat Bali terkait dengan konsep aguron-guron, seorang pemangku berhak memperoleh peningkatan status dirinya menjadi seorang Bawati Jro Gede dan ketika Sang Guru telah mengupacarakan pemangku menjadi Bawati Jero Gede, ia disebut sang ekajati, digolongkan kedalam kelompok brahmana dan sejak itu pula status Pandita sebagai Sang Guru Waktra berubah menjadi Guru Nabe. Peningkatan status sisya ini tergantung pada kemampuan pengetahuan dan penguasaan mantra-mantra weda dari pemangku itu sendiri dan otoritas penilaiannya ada pada Sang Guru Waktra.

 

2. Pengertian Diksa

Kata diksa berasal dari bahasa sansekerta yang artinya suatu upacara penerimaan menjadi murid dalam hal kesucian. Dari kata diksa ini muncul kata diksita artinya diterima menjadi murid (sisya). Dalam perkembangan selanjutnya kata diksa yang diartikan oleh masyarakat sebagai suatu upacara penyucian diri–dwijati.

Kata diksa lazim dipakai oleh seorang yang akan melaksanakan Upacara Diksa Dwijati. Kata dwijati berasal dari akar kata ”ja” yang artinya lahir, kata “dwi” artinya dua. Dwijati artinya lahir kedua kali nya. Dasar hukumnya dapat kita temukan dalam kitab Atharva Veda XI.11 yang menyebutkan sebagai berikut:

 

Satyam Brhad Rtam Ugram Diksa Tapo

Brahman Yajña Prithiwim Darayanti.

 

 

Artinya:

Sesungguhnya satya rta diksa tapa brahman dan yajña, yang  menyangga dunia  ini. (Dana, 1996:2)

 

Lahir yang pertama kali dari kandungan ibu dan lahir yang kedua dari seorang guru suci atau nabe. Dalam kitab Siwa Sasana disebutkan bahwa ketika seseorang telah disucikan melalui proses upacara diksa, maka ia akan disebut sebagai sang dwijati dan sejak dinyatakan sebagai pandita, dari pada nya diharapkan dapat mentaati etika atau sesana sang wiku (pandita) dan setelah itu sang dwijati diberi gelar (abiseka) sesuai dengan keturunan nya.

 

Misalnya, kerutunan mahagotra pasek sanak sapta Rsi Abisekanya adalah Ida Mpu, apabila dari keturunan brahmana, maka abhisekanya adalah Ida Pedanda, dan lain-lain (sesuai petunjuk Nabe) dan sebutan secara nasional para Brahmana yang telah ditetapkan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia adalah Ida Pandita. Dengan penobatan nya sang dwijati menjadi Ida Pandita, maka Ida akan memiliki wewenang yang sangat luas dan lengkap dalam muput berbagai upacara/ritual yajña yang harus dilakukannya sesuai dengan ketentuan ajaran agama termasuk dalam memberi air suci (tirtha).

 

Adapun pustaka/lontar yang memuat tentang upacara diksa dan kawikon antara lain: krama mediksa, kramaning dadi wiku, silakrama, siwa sasana, wertisasana, Widhi Papincatan, dll. Selain itu juga berpedoman pada ketetapan Maha Sabha Parisada Hindu Dharma Indonesia II tahun 1968 dan keputusan seminar kesatuan tafsir terhadap aspek agama Hindu yang ke-14 Tahun 1986 yang dilaksanakan pada tanggal 11 s/d 12 Maret 1987, tentang Pedoman pelaksanaan Diksa.

 

3.  Tujuan Diksa

a.  Meningkatkan kesucian diri sang diniksan untuk dapat mencapai kesempurnaan hidup manusia dan menjadi titik kulminasi dalam meningkatkan kesucian diri dari tingkatan ekajati ketingkat dwijati.

b. Mencapai kesucian diri adalah menjadi kewajiban hidup bagi setiap umat Hindu, karena hanya dengan melakukan saucam/ pensucian diri,maka seseorang akan lebih cepat dapat menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa, dan aura sinar suci para dewa akan selalu menyelimuti seluruh tubuhnya.

 

4.    Kewajiban Pemangku

a. Untuk dapat menjaga kesucian diri, maka seorang pemangkuwajibmelakukan puja Parikrama atau surya sewana 3 kali sehari; pagi, siang, sore.

b. Pemangku/pinandita tidak kena cuntaka, juga tidak nyuntakain (kecuali pemangku istri yang sedang haid).

 

5.    Pengertian pandita

Dalam agama Hindu, terdapat berbagai istilah dalam penyebutan gelar kepanditaan. Kata pandita berasal dari akar kata pand yang artinya mengetahui. Istilah pandita diberikan bagi seseorang yang telah didiksa dwijati dan diyakini telah memiliki pengetahuan suci weda yang cukup dan telah teruji memiliki sifat yang arif dan bijaksana. Diksa dwijati adalah syarat paling utama bagi seseorang untuk dapat menyandang status sebagai Pandita. Dari kata pandita inilah kemudian timbul sebutan untuk pinandita.

 

6.    Pengertian Pinandita

Kata pinandita berasal dari kata pandita mendapat sisipan ”in”, yang artinya di dalam. Jadi pengertian pinanditaadalah seseorang yang berada di dalam kewenangan pandita, dengan kata lain sering juga disebut sebagai pembantu pandita. Guna mencapai tingkat status pemangkuini harus melalui upacara pawintenan yang disebut ”pawintenan”.

 

7.    Pengertian Pawintenan

Dalam sastra yang ditulis pada lontar-lontar dan keputusan dari jawatan agama Provinsi Bali Nomor: 85/Dh.B/SK/U-15/1970 tanggal  20 April 1970 dan keputusan seminar aspek-aspek agama Hindu yang dilaksanakan di Kabupaten Amlapura Bali yang menyebutkan beberapa tingkatan dari pewintenan, antara lain:

  1. Pawintenan Saraswati (masa brahmacari)
  2. Pawintenan Bunga (setelah grehasta)
  3. Pawintenan Sari (belajar tentang veda)
  4. Pawintenan Gede (menjadi pemangku).

 

Kata pawintenan berasal dari kata ‘inten’ yang artinya permata yang bercahaya. Upacara pawintenan adalah suatu upacara yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan sinar suci dari Ida Sang Hyang Widhi, dengan suatu harapan agar yang diwintenkan dapat mengerti, memahami, menghayati dan dapat  mengamalkan ajaran suci veda tanpa adanya aral melintang.

 

8.    Tingkatan Pemangku/Pinandita

  • Pemangku
  • Wasi
  • Mangku Balian/Dukun
  • Mangku Dalang
  • Dharma Acarya
  • Pangemban/Pendidik tentang kerohanian.

 

9.    Pemangku menurut swadharma

Dengan merujuk kepada swadharma sebagai pemangku, maka sebutan seorang pemangku dikelompokan sesuai tempat pengabdiannya pada pura-pura yang ada, yaitu; mengabdi di pura kahyangan jagat disebut Mangku Pura kahyangan Jagat, bila mengabdi di pura Sad Kahyangan disebut Mangku Sad Kahyangan misalnya: Mangku Silayukti, Mangku Uluwatu, Mangku Lempuyang, dll, mengabdi di pura kahyangan tiga disebut Mangku Desa, misal: Mangku Dalem, Mangku Puseh dan Mangku Baleagung. dan ada sebutan-sebutan mangku lainnya, seperti:

  1. Pemangku pemongmong yang membantu pelayanan di bidang protokoler.
  2. Pemangku Jan Banggul yang membantu pelayanan umat ketika ada suatu upacara di pura.
  3. Pemangku Cungkub adalah mangku yang memberi pelayanan di Pura/Merajan Gede dengan pelinggih diatas 10 bangunan.
  4. Pemangku Nilarta adalah pemangku yang bertugas di pura Kawitan.
  5. Pemangku Pinandhita adalah mangku yang membantu pandita dalam muput upacara. Pinandita mempunyai wewenang terbatas untuk lokaphalasraya dalam batas tuntunan dan petunjuk dari pandita.
  6. Pemangku Bujangga adalah mangku yang bertugas di Pura Paibon.
  7. Pemangku Balian adalah pemangku yang bertugas memberikan pengobatan orang sakit.
  8. Pemangku Dalang adalah pemangku yang bertugas sebagai dalang yang berwenang Nyapuh Leger.
  9. Pemangku Lancuban adalah pemangku yang bisa kerawuhan sebagai tapakan Ida Bhatara untuk menurunkan roh leluhur.
  10. Pemangku Tukang adalah pemangku yang memahami ajaran wiswakarma, meliputi; undagi, sangging, tukang wadah, tukang banten, dan lain-lainnya.
  11. Pemangku Kortenu adalah mangku yang bertugas di pura Prajapati atau Ulun Setra.

 

10.  Kelengkapan Upakara Pawintenan

Upakara yang diperlukan dalam prosesi upacara pawintenan gede atau pawintenan pemangku sarana rerajahan aksara sucinya lebih lengkap dari pawintenan saraswati, bunga dan sari. Berkaitan dengan tatacara pelaksanaan upacara mewinten sebagaimana diuraikan diatas, yang lebih berkompeten memberi penjelasan tentang makna upakara tersebut adalah sang pandita, karena yang berwenang dalam melaksanakan pawintenan terhadap calon pemangku adalah pandita (guru waktra).

Bagi seseorang yang berkeinginan menjadi pemangku, setelah disepakati oleh keluarga dan adat sebaiknya mencari guru waktra terlebih dahulu dan melakukan pawintenan saraswati. Apabila pengetahuannya sudah di anggap cukup oleh Sang Guru Waktra, maka dilanjutkan dengan melakukan pawintenan pemangku, hal ini bertujuan agar maksud dan tujuannya dapat tercapai dengan sempurna.

 

11.  Sesana Pemangku

Hidup sebagai seorang pemangku memiliki aturan khusus yang mengikat, yang disebut sesana pemangku, yaitu; norma-norma etika yang mengatur tentang sikap dan perilaku pemangku dalam kehidupannya sehari-hari. Sesana ini menjadi kode etik yang harus dipatuhi dan dilaksanakan.

Menjadi seorang pemangku harus benar-benar menghayati secara mendalam seluruh sesana yang mengikat kehidupannya, baik mengenai sikap perilaku atau kemampuan dalam hal spiritual yang harus dimiliki oleh seorang pemangku.

Dengan mengetahui dan memahami sesana, seorang pemangku akan selalu berupaya mentaatinya, sebab apabila tidak demikian, yang bersangkutan akan terkena alpaka guru dan akan dikutuk oleh Ida Betara Siwa dalam manifestasiNya sebagai Ida Sang Hyang Rare angon (Ceramah Ida Pedanda Gede Made Gunung di  STAH Lampung, 12 Maret 2011).

 

12.  Dasar-Dasar Sesana Pemangku

Dalam lontar Silakrama ditekankan bagi para pemangku wajib memahami, mengamalkan ajaran yama–pengendalian diri. Yama adalah tangga pertama dari Astangga Yoga yang di implementasikan melalui konsep ajaran Panca Yama Niyama Brata yang dijadikan sebagai dasar pertama dalam menjalankan sesana pemangku.

 

13.  Panca Yama Brata

  1. Ahimsa:  tidak membunuh, menyakiti.                         
  2. Brahmacari:  masa menuntut ilmu.
  3. Satya: Sifat Jujur, selaluberkata benar.
  4. Awyawahara:  tidak bertengkar/berkelahi, dan senantiasa menjaga ketentraman baik pribadi atau masyarakat.
  5. Asteya: tidak mencuri.

 

14.  Panca Nyama Brata

  1. Akroda: tidak pemarah/temperamental.
  2. Guru Susrusa: taat terhadapajaran guru.
  3. Sauca: menjaga kesucian lahir-batin.
  4. Aharalagawa: tidak rakus, makan secukup nya berhenti sebelum kenyang.
  5. Apramada: tidak sombong dan tidak lalai–hilang kesadaran dan tidak lupa diri yang menjadi sumber kehancuran diri.

 

15.  Duabelas Sesana Sang Wiku

Sesana kewikuan ini sengaja ditambahkan dalam buku ini, karena pada saatnya nanti seorang pemangku akan menjadi pandita. Duabelas Sesana Sang Wiku tersebut, tertuang dalam kitab Sarasamuccaya sloka 57 sebagai berikut:

 

Dharmacca satyam ca tapo damacca

vimatsaritvam hrih titiksa anasuya yajñacca

danam ca dhritih ksamaca mahavratani

dvadaca vai brahmanasya.

Artinya:

Inilah bratanya Sang Brahmana, dua belas banyaknya: dharma, satya, tapa, dama, wimatsaritwa, hrih, titiksa, anasuya, yajña  dana, dhrti, ksama.

 

Secara rinci diuraikan sebagai berikut:

  • Dharma:  memegang teguh kebenaran
  • Satya:  jujur dalam berpikir, berkata dan berbuat.
  • Tapa: dapat mengendalikan jasmani dan nafsu                      
  • Dama: tenang-sabar-tahu menasehati diri sendiri.
  • Wimatsaritwa: tidak dengki-irihati.
  • Hrih: mempunyai rasa malu.
  • Titiksa: jangan sangat gusar.
  • Anasuya:  tidak berbuat dosa.
  • Yajña: berkorban tanpa pamerih
  • Dana: gemar memberikan sedekah.
  • Dhrti: penenangan dan pensucian pikiran.
  • Ksama: sabar dan suka mengampuni.

 

16.  Kewajiban Pandita dan Pinandita

Baik pandita, pemangku/pinandhita memiliki sepuluh kewajiban yang disebut dengan dasa krama paramartha, yaitu:

  • Tapa: teguh dan kuat pendirian memuja Ida Sang Hyang Widhi.
  • Brata: melaksanakan disiplin batin yang ketat mengurangi makan-aharalagawa dan mengurangi wakru tidur, tidak melanggar pantangan meninggalkan pengaruh panca indriya, taat dalam melaksanakan yama-niyama brata.
  • Yoga: sikap tubuh melatih pernafasan atau pranayama guna menyeimbangkan stula sarira dengan sukma sarira sebagai suatu sikap dalam memusatkan diri kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa dan melebur mala pada diri.
  • Samadhi: memusatkan pikiran kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa, sehingga tidak terpengaruh suatu kondisi luar-nirwikara.
  • Santa: berpikir cemerlang–berpenampilan yang tenang.
  • Sanmata: berperasaan yang riang gembira meski sedang menghadapi cobaan hidup.
  • Maitri: senang mengatakan hal-hal yang baik dan benar serta sikap perilaku yang sopan-santun.
  • Karuna: senang tukar pikiran dengan sesama, baik dengan hal-hal yang bersifat wahya, maupun yang bersifat adhyatmika, mengasihi sarwa tumuwuh/semua mahluk.
  • Upeksa: tahu perbuatan baik–buruk, benar salah dan suka memberi petunjuk kepada orang yang belum memahami arti baik atau buruk.
  • Mudhita: mencintai kebenaran, memiliki budi pekerti luhur, cemerlang dalam hidup

 

17.  Wewenang Pemangku

Walaupun pemangku disebut sebagai wakil pandita, tetapi juga memiliki kewenangan yang biasanya telah disampaikan oleh sang pandita sebagai guru waktra dari pemangku tersebut, pada saat pelaksanaan pawintenan untuk menjadi pemangku, antara lain:

  • Menyelesaikan upacara yajña sepanjang sesuai dengan batas kewenangannya.
  • Kewenangan tersebut antara lain meliputi upacara Bhuta Yajña, sampai pada tingkat caru manca sato, upacara manusa yajña sampai dengan otonan dan pawidhi widana tingkat kecil.
  • Menyelesaikan upacara pitra yajña yang terbatas pada mendem sawa/mekingsan di gni.
  • Memohonkan air suci (tirtha panglukatan/ pebersihan).
  • Nganteb upakara pada upacara atau yajña tertentu di lingkungan keluarga dengan tirta pamuput dari pandita.
  • Istilah yang boleh digunakan pemangku adalah Nganteb bukan muput.
  • Membantu kegiatan upacara yajña tertentu yang dilaksanakan di suatu pura atas seijin dari pemangku di pura tersebut.
  • Menggunakan genta pada saat mepuja.
  • Menggunakan mantra dan mudra tertentu apabila sudah mewinten dengan ayaban bebangkit dan sudah mendapat bimbingan dan ijin dari pandita selaku guru waktra.

 

18.  Busana Sang Pinandita atau Pemangku

Busana pemangku atau kelengkapan yang wajib dipergunakan oleh seorang pemangku adalah sebagai berikut:

  • Rambut panjang atau bercukur.
  • Pakaian: destar, baju, saput, kain dalam melakukan upacara, semuanya berwarna putih.
  • Dalam mepuja, pemangku menggunakan: genta, dulang, pasepan, sangku (tempat air suci atau tirtha), bunga dan bija.

 

19. Hak Pemangku atau Pinandita

Dengan mempertimbangkan cukup beratnya tugas dan kewajiban dari seorang pemangku, maka krama adat atau keluarga besar yang telah mengangkat pemangku sudah sepatut nya harus memikirkan rsi yadnya yang wajib diberikan kepada seorang pemangku untuk menyambung kehidupan keluarganya, hal ini bertujuan agar pemangku dalam menjalankan tugas sebagai pelayan umat akan senantiasa lebih taat dengan sesananya. Berikut ini akan diuraikan tentang hak pemangku/pinandita sebagai berikut:

 

a.  Hak Wajib

  • Bebas dari ayahan desa
  • Menerima sesari/bagian sesari
  • Menerima hasil pelaba pura (bila ada)

 

b. Hak Tidak Wajib

  • Mengasuransikan pemangku.
  • Memberi honor pemangku

 

20.  Cuntaka Bagi Pemangku

Pemangku dalam melaksanakan sesananya, tidak terikat oleh aturan cuntaka (sebel atau tidak suci) kecuali dalam hal-hal sebagai berikut:

  • Kena cuntaka bila ada anggota keluarga serumah yang meninggal dunia.
  • Khusus pemangku istri terkena cuntaka apabila sedang haid.
  • Pemangku bujangan, bila kawin, setelah nya harus mesepuh (mewinten) dengan tingkat ayaban yang sama seperti sebelum bersama-sama istrinya.

 

21.  Larangan Keras Bagi Pemangku

  • Pemangku yang melakukan tindak pidana atau melakukan perbuatan kriminal, dalam kaitan dengan hal ini harus diberhentikan sebagai pemangku oleh warganya.
  • Pemangku dilarang: memikul, nyuwun sesuatu yang tidak patut, duduk atau nongkrong di warung, judi tajen, mabuk-mabukan.
  • Pemangku dilarang melanggar ajaran Tri Kaya Parisuda, anayub cor, tidak makan dan minum di rumah orang yang sedang cuntaka, tidak mengusung mayat/layon, tidak diungkulin oleh orang yang sedang mengusung mayat, orang yang nyuwun tirtha pengentas.
  • Pemangku tidak diperbolehkan memikul bajak, menarik sapi, menginjak tahi sapi, buang hajat di air, mewarih atau kencing di abu, api atau air.
  • Pemangku dilarang makan makanan yang tidak patut, tidak boleh tidur sekamar bila istri sedang haid.

 

  1. Penghormatan untuk pemangku
  • Bila pemangku meninggal dunia, jenazah nya tidak boleh dipendem (dikubur), tapi harus diabenkan secara langsung, apabila keluarganya tidak mampu mengabenkan; untuk pemangku desa wajib dilakukan oleh desa adat, untuk pemangku banjar wajib dilakukan oleh adat banjar, untuk pemangku dadya wajib dilakukan oleh keluarga dadya dan bila pemangku pura kahyangan jagat yang meninggal, maka kewajiban dilakukan oleh adat pengempon pura kahyangan jagat.
  • Pemangku wajib bersyukur karena telah ditakdirkan menjadi orang yang disucikan. Seorang dalam kehidupannya tidak begitu saja bisa menjadi pemangku. Dalam lontar yama purana tattwa disebutkan, kehidupan manusia sudah direncanakan jauh sebelum terjadinya reinkarnasi. Karena itu jangan menganggap menjadi pemangku adalah “suatu kebetulan”.
  • Menjadi pemangku merupakan anugrah, karena; pertama, ia akan menjadi tapakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan menjadi manusia utama dihadapanNya; kedua, ia memiliki kesempatan seluas-luasnya untuk mensucikan dirinya dijalan dharma, untuk mencapai moksartham jagadhita ya ca itti dharma; ketiga,memiliki kesempatan untuk melaksanakan tugas suci mengabdikandiri kepada masyarakat, sebagai karmawasana yang baik untuk mencapai moksa.
  • Pada hakikatnya pemangku di sayang Ida Sang Hyang Widhi atau Dewata/Bhatara, karena itu pertahankanlah dan peganglah tugas ini dengan penuh rasa bhakti, agar tugas mulia dan suci ini dapat terlaksana dengan baik, sehingga dapat menjadi pemangku yang sesuai dengan sesananya yang akan mengharumkan linggih Bhatara/ Dewata. Seorang pemangku dalam hidup dengan penuh keikhlasan, disiplin dan taat karena ia akan selalu disucikan, dihormati umat Hindu, baik di lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat.
  • Pemangku yang melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan baik akan mendapat karma yang baik, tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi arwah leluhurnya, sampai tujuh tingkat keatas (rontal yama purana tattwa).
  • Pemangku adalah pengabdi yang utama: yang dimaksud sebagai pengabdi utama dalam hal ini adalah seluruh aktivitas yang dilakukan dalam kehidupannya di dunia di persembahkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi dan masyarakat.
  • Untuk dapat melaksanakan tugas dan kewajiban sebagaimana telah diuraikan di atas, seorang pemangku harus mendalami dan mengamalkan ajaran agama meliputi; tattwa, susila, ritual/upacara. Pengetahuan suci ini akan didapatkan oleh pemangku melalui proses belajar dari guru yang baik, melalui membaca buku, lontar, dharma wacana, kursus atau pelatihan.
  • Kegiatan tersebut diatas dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi para pemangku tentang agama Hindu. Dalam lontar dharma kauripan disebutkan bahwa sulinggih yang baik adalah sulinggih yang ”berilmu”.
  • Pemangku akan cepat dapat mencapai kemajuan dalam menimba pengetahuan, bila ia mempunyai sifat-sifat dan pemikiran seperti: tidak sombong, rendah hati, tidak fanatik sempit, mau mendengar pendapat orang lain, rajin dan disiplin, berpikir kreatif dan inovatif, obyektif dan jujur, pandai mengambil keputusan (Ida Pandita Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi, 2000: 4).

 

BAB III

TATACARA NGANTEB UPACARA

DI PURA KAWITAN/DADIA

 

A.   Pendahuluan

Dalam persiapan nganteb suatu upacara, baik atas permintaan sang yajamana atau upacara piodalan di pura tempat yang bersangkutan mengabdi, pemangku wajib melakukan asuci laksana atau pensucian diri dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

 

1. Kegiatan di Kamar Mandi

    a.  Menggosok Gigi: 

     Om sri devi bhatrimsa yogini namah

b. Mencuci Mulut:

     Om hum phat astraya namah

c. Mencuci Muka:

     Om, Om vaktra parisudha mam svaha

d. Mandi:

     Om gangga amrta sarira suddhamam svaha

 

2.    Pakaian dalam atas dan bawah

Om kaupina brahma samyuktah

Mekhala visnu samsmrtah

Antarvasesvaro devah

Banddham astu sada siva

 

3.    Mantra Berpakaian

a. Memakai Kampuh (kamen)

Om, Om siva sthiti ya namah

b. Memakai Saput:

Om tam Mahadeva ya namah

c. Memakai Sabuk:

 Om, Um Visnu ya namah

 

4.    Duduk Menghadapi Upakara

a. Mantra duduk:

     Om, am prasadha sthiti sarira          

     siva suci nirmala ya namah

b. Mantra Pranayama:

     Om Ang namah (tarik nafas)

     Om Ung namah (tahan nafas)

     Om Mang namah (hembuskan nafas)

 

c. Mensucikan tangan:

     Om sudhamam svaha (kanan diatas)

     Om ati sudhamam svaha (kiri diatas)

 

d. Menyalakan Dupa dan Dipa:

      Om Am dhupa-dhipaastra ya namah

 

e. Mantra Kembang:

     Om puspa danta  ya namah

 

f. Mantra Mensucikan Air:

     Om Hrang Hring Sah parama siva

     Gangga Tirta amrta ya namah svaha

 

Percikan Air Suci:

Bawah Pinggang

Om Am siva amrta ya namah

Om Am sada siva amrta ya namah

Om Am parama siva amrta ya namah

 

Om,Om siva amrta ya namah

Om,Om sada siva amrta ya namah

Om,Om parama siva amrta ya namah

 

Badan bagian atas

Om budha maha pavitra ya namah

Om dharma maha tirta ya namah

Om sanghyang mahatoya

ya namah svaha

 

5.    Mantra Genta

Ambilah genta dengan tangan kiri, kemudian angkat setinggi dada kiri, lalu percikan tirtha tiga kali, lalu asapi genta diatas dhupa hingga rongga genta penuh dengan asap, kemudian ambil kalpika atau kembang dengan posisi di belakang tangan kiri, lalu ucapkan mantra:

Om....Om karah sada siva sthah,

Jagatnatha hitankarah,

Abhivada vadaniyah

Ghanta sabda prakasyate

 

Om ghanta sabda maha sresthah

Omkarah parikirtitah

Candrardha bindu nadantam

Sphulinga siva tattvam ca

 

Om ghantayur pujyate devah

Abhavya bhavya karmasu

Varadah labdha sandheyah

Vara siddhir nihsansayam

 

Setelah itu pegang lidah genta diantara ibu jari, telunjuk dan jari tengah tangan kanan, lalu putar lidah genta dibibir genta kearah jarum jam, sambil mengucapkan mantra dan dibunyikan, lakukan sebanyak 3 kali.

 

Putaran pertama, Mantra:

Om, Om, Om.......kemudian pukul bibir genta dengan lidah genta kearah badan, lalu tangan memutar satu lingkaran kearah depan.

 

Putaran kedua, Mantra:

Mam, Um, Am.....kemudian pukul bibir genta dengan lidah genta seperti gerakan pertama.

 

Putaran ketiga, Mantra:

Om-Am-Kham khasolka ya namah, lalu lakukan gerakan seperti putaran pertama dan kedua.

 

6.    Astra Mantra

Om hum rah phat astraya namah,

Om atma-tattwatma sudha mam svaha

 

Om, Om ksama sampurnaya namah svaha

Om sri pasupataye hum phat

 

Om sryambhavantu, Om sukham bhavantu,

Om purnam bhavantu ya namah svaha

 

Catatan:

Mantra tersebut diatas, harus diucapkan sambil memercikan air suci ke udara, sebagai wujud penghormatan kehadapan para deva.

 

7.    Nunas Panugrahan Siwa

Om Bhur Bhuah Shuah,

Om Ang Ung Mang, Siwa Sadha Siwa Parama Siwa, Sabdha Bayu Idep, Sudhata nirwigna

 ya namah, Om sidhi swaha ya namah,

 

Om sah osat prayoga ya namah,

Om nama siwa ya nama budha ya nugrahi mami nirmala sarwa sastra suksma sidhi,

Om saraswati prasidyam ya namah,

Sarwa karya sudha nirmala

ya namah swaha,

 

Om gemung siwa sadhasiwa paramasiswa,

Budha dharma sanggya gana dipata

ya namah swasha

 

8.    Nganteb Banten Taksu

Om siva sutram yadnya pavitram

paramam pavitram prajapatih yogyusyam

balamastu tejo paranam, gohyanam,

triganam triganatmakam

 

Om namaste bhagavan agni

namaste bhagavan ari,

namaste bhagavan isa,

sarva bhaksa utamasanam

 

Om paramasiva tvam gohyah,

siva tattva parayanah,

sivasya pranato nityam,

candiyasa namo stute

 

Om nevadyam brahma visnucca,

bhoktra deva mahesvara,

sarva vyadin alabhate,

sarva karyanta siddhantam

 

Om jayarti jaya mapnuyat,

ya sakti yasa apnoti

sidhi sakalam mapnuyat,

parama siva labhati

 

Om bhoktra laksana ya namo namah svaha

Om brahma, visnu, isvara,

anugrahan ingsun, tingkahing ginawe,

 pinuja dening ingsun purna jati tapa niruda.

 

Segehan untuk Rencang Taksu:

Om atma tattvatma sudhamam svaha,

swasti-swastisarwa bhuta suka predana,

ya namah svaha

 

Om ibek segara, ibek danu, ibek bayu

permananing hulun ya namah svaha.

 

9.    Mantra Padmasana

Om kurma genia ya namah,

Om anantasana ya namah,

Om catur aiswarya ya namah,

Om padmasana ya namah,

Om deva prathista ya namah svaha

 

 

Om I Ba Sa Ta A - Om Ya Na Ma Si Wa

Mam Um Am namah

Om Sa Ba Ta A I - Om Na Ma Si Wa Ya

Am Um Mam namah

 

Om pranamya sang linggam,

Deva linggam mahesvara, 

Sarva devati devanam,

Tasmei lingga ya namah svaha

 

10. Puja Pengaksama

Om ksama svamam mahadevah,

sarva prani hitankara,

Mammoca sarva papebhyah,

palayasva sada siva

 

Om papo ham papa karmaham,

papatma papa sambhavah, 

Trahimam sarva papebhyah,

kenacin mam ca raksantu

 

Om ksantavya kayika dosah,

kesantavya vacika mama,

Ksantavya manasah dosa,

tat prasida ksama svamam

Om hinaksaram hina padam,

hina mantram tattaiwacam,

hina bhakti hina wrdhim,

sadasiva namo stute

 

Om mantra hina krya hinam,

bhakti hinam mahesvara,

yat pujitam mahadeva,

paripurnam tad astume

 

 

 

11.  Ida Bhatara Mesucian, dudonannya:

       a.  Anuwur Bhatara kabeh, Mantra:

Pakulun bhatara brahma Bhatara Wisnu Bhatara Mahadewa, Bhatara Siwa Sadha Parama Siwa, Bhatara Tri Guna Sakti, Bhatara linggahing Bhuwana kabeh, malingga ring kahyangan iriki, puniki padekan saha para sedehan manguntab manuwur paduka batara maka pangidang bhatara Ghana malejeg sanghyang Hamo ring kukus menyan majegau cendana, tumudun para paduka bhatara muang bhatari  ring kahyangan sakti;

 

Kukuse rumambe maring purwa,

Hangundang Bhatara Iswara

Kukuse rumambe maring geneyan,

Hangundang Bhatara Maheswara

Kukuse rumambe maring daksina,

Hangundang Bhatara Brahma

Kukuse rumambe maring neritya

Hangundang Bhatara Rudra

Kukuse rumambe maring pascima,

Hangundang Bhatara Mahadewa

Kukuse rumambe maring wayabya,

Hangundang Bhtara Sankara

Kukuse rumambe maring uttara,

Hangundang Bhatara Wisnu

Kukuse rumambe maring ersanya,

Hangundang Bhatara Shambu

Kukuse rumambe maring madya,

Hangundang Bhatara Siwa, muang

Paduka Bhatara Budha Dharma,

Haniringan dening dewa-dewi widyadara

Widyadari, sanak putu;

Rauh saking wetan, hamupul maring pesamuhan, Rauh saking kidul, hamupul maring pesamuhan, Rauh saking kulon, hamupul maring pesamuhan, Rauh saking lor, hamupul maring pesamuhan.

 

Betel menek katur ring Bhatara luhuring Akasa, katur ring Bhatara Surya Candra, betel kaler katur ring I Dewa Gede Puseh pucak Gunung Agung, betel kangin katur ring Bhatara Sri, betel kelod katur ring tengahing segara ring Bhatara Baruna, betel kawuh katur ring Bhatara rambut sedana, betel menek katur ring Bhatara Ghana, puniki padekan Bhatara muang Bhatari hangastuti bakti, pengebaktian ipun meduluran canang pemendak muang sesayut, katurang Pujawali, muah puniki padekane lanang wadon hangastuti penguntab paduka Batara kabeh, tumedun rawuh ring kahyangan puniki, padekane sami mekadi para sedehan pemangku haneda nugraha rahayu dhirga yusa

 galang apadang......xxx.

 

b. Raris ngaturang tegteg, tehenan

muah tapakan, Mantra:

Om pakulun Bhatara Jagatnatha, puniki manusanira hangaturaken sari bhukta bhukti tegtegtehenan makamiwah tapakanmeberas akulak lawe satukel, mejinah satak selawe megalihan mekatihan, samangkana haturan manusanira manawi asing kirang asing luput, manusanira haneda agung sinampura. Om sriyawe namo namah swaha.

 

c. Ngaturan Pengresikan, Mantra:

Pakulun Bhatara kabeh nghulun angatur aken pangresikan sasirih muang cacab, wedak, lenga, muang asem, sunggar suri muang creme. Om siwa sadha siwa parama siwa ya namah swaha.

 

d. Raris ngaturang wajik tangan, wajik

Suku, toya reraup, sedana maketis

 

Om tirtha sweta rakta nila warna amrtha sudha ya namah swaha.

 

e. Ida Bhatara mesucian, dane Pemangku nedunang Ida Bhatara pacang memargi mesucian saha pengastawa sedana toya.

 

Om pakulun Bhatara Pasupati Bhatara, Dharma muang paduka Bhatara kabeh, manusanira hangaturin hanuwur paduka Bhatara kabeh, pakulun paduka Bhatara tumedun hangelinggihin pedekan paduka Batara, manusanira hangaturin masucian Om siwa sadha siwa parama siwa

Om Bhatara Budha Dharma sanggya

ya namah swaha.....xxx

 

Raris toya punika ketisang ring pada Ida Bhatara.....wus punika Bhatara memargi, dulurin antuk beleganjur.

 

f. Ring genahe masucian sira pemangku ngaturang canangsari saha seruntutan nya, suci katur ring Ida Bhatara Gangga ring genahe mesucian, sira mangku ngemargiang pengastawa, Mantra:

Om Gangga dewi mahapunyam,

Gangga lan dewi namo namah

Gangga klesa sayutyam,

Gangga dewi namo namah

Om Sri Gangga maha dewi,

Hanuksoma mrtha jiwanam

Ungkara ksaram wijatam

Mawa mrtha manoharam

Utpaty sariram dewam.....paketis keharep

Om Sriyam bhawantu ya namo namah

 

g. Wus maketis pemangku ngamet toya mewadah sangku wiadin payuk anyar, anggen pesucian Bhatara, Mantra:

Om pakulun Bhatara kabeh, manusanira hangaturin paduka Bhatara hasucian

Om siwa sadha siwa parama siwa

Om Bhatara Budha Dharma Sanggya

Ya namah swaha.

 

h. Paketis Sapta Gangga, Mantra:

Om Gangga ya namah swaha

Om Sindhu watinca ya namah

Om Ang Saraswati ya namah

Om Ang Wipasa ya namah

Om Ang Korsika ya namah

Om Ang Serayu ya namah

Maketis......ping pitu

 

  1. Raris ngaturang Mahiyas, Mantra:

Om pakulun paduka Bhatara kabeh

Puniki pemongmong paduka hangaturi

Bhatara kabeh mahiyas.

Om tigastu sarwata dewa

Tigastu sarwa dewanca

 

Tigastu sarwata dewa hastutyam

Mahyastu dewa hastutyam

 

j. Ngaturang Sekar Sumpang

(kembang pahiyas), Mantra:

Om puspantu sarwata dewa

Puspantu sarwa dewanca

Puspantu sarwata dewa hastutyam

Mahyastu dewa hastutyam......paketis

Pakulun paduka Bhatara kabeh,

puniki pamongmong paduka Bhatara

hangaturi  paduka Bhatara masekar

sumpang. Om dewa puspa ya namah.

 

Om tirthantu sarwa dewa

Tirthantu sarwa dewata

Tirthantusarwa dewanca

Tirthantu dewa hastutyam

Om tirtha ya nityam sudha lara sudha klesa sudha paripurna ya namah swaha

 

k. Rawuh saking mesucian ring jabaning pura sira mangku ngaturang pemendak pengresikan. Mantra:

Om pakulun sang yang jati pegat,

Pegat rampung sari sarining wisesa

Tepung tawar hangilangaken norana keni Om sidhir astu nama swaha

 

Nyapa yang pesegehan. Mantra:

Om bhuta dengen kala mrtyu, anggapati, prajapati, banaspati, banaspati raja, sang bhuta tiga metu saking harep, saking huri, yaning sira lunga angala-ngala, angaladesa, yaning sira mulih maring dang kahyangan ira hajasira salah gawe, heling akena hungguhanta sira (pomo 3x) iki tadah saji nira banyu maha mrtha.

 

  • Bhatara ngeranjing ke Utama Mandala linggihang Bhatara ring genahe nguni, sira mangku ngaturang canang.

Om tamolah panca pakara guru paduka

Ya namo namah swaha

 

  • Catatan:

Apabila Ida Betara tidak mesucian, maka dudonan prosesi nomor 11 tidak perlu dilaksanakan, tetapi Pemangku langsung mengucapkan Puja Stawa nomor 12, yaitu: Ngastawa Tirtha Panglukatan, Pebersihan Dan Prayascita 

 

12. Sira Mangku melinggih ring genahe nguni ngastawa tirtha panglukatan muang tirtha pebersihan, anggen penglukatan miwah mresihin bebantenan. Mantra:

Om nama siwaya nama budhaya, mugrahi mami nirmala sarwa sastra suksma sidhi

Om Saraswati paramasidhi ya namah

Sarwa karya sudha nirmala ya namah swaha

Om gemung siwa sadhasiwa paramasiwa, budha dharma sanggya Ghana

Dipata ya namah swaha

 

Tirtha panglukatan/pemarisudha

Banten – Mantra:

Om pakulun serdah Bhatara siwamurti sakti anibakang tirtha kamandalu, winadahan kundi manik, maka suklaning bhuwana alit, maka suklaning bhuwana agung hangelebur sarwa hujar ala, ipen ala, tuju teluh desti terangjana, kalukat kalebur dening tirthan Bhatara siwa murtisakti siniratan muncar, muncrat hangilang akena dasamala papa klesa, trimalaning jadma manusa kabeh, moksah hilang kalukat dening tirtha Bhatara siwa murti sakti wastu sidhi ya namah swaha hatur nghulun ring kahyangan sakti (sekare cemplungang ring toya).

 

Ngastawa Bhatara Gunung Agung:

Om pakulun serdah Bhatara sakti ring gunung Agung ring gunung lebah, ica Bhatara sakti ngamijilang tirtha terebesan danu, teretesan telaga waja, salukat malejeg tagel siku tengahing segara, paduka Bhatara anglukat angelebur aturan manusanira, keraraban ring kahyangan sakti, moksah hilang mampeh ring wetan, ring kidul, kulon, ring lor, ring tengah, tumiba ring tengahing samudra, maya dala wastu sidhir astu ya namah swaha.

 

Om ayuwrdhi yasa wrdhi, wrdhi pradnyan suka sriyam, dharmasentana wrdhisca, santuta sapta wrdhayah..xxx

 

Malih ambil kembang. Mantra:

Om apsu deva pavitrani,

ganga dewi namo stute

Sarwa klesa winasanam,

toyena parisudhyate

 

Om  sarva papa vinasini,

sarva roga vimucane

sarva klesa vinasanam,

sarva bhogam avapnuyat

 

 

Om sri kare sapahut kare,

roga dosa vinasanam,

Siva logam maha yaste,

mantra manah papa kelah

 

Om pancaksaram mahatirtham,

Pawitram papanasanam

Papa koti sahasranam,

Agadam bhawet sagaram

 

Om pancaksaram para brahman,

Pawitram papanasanam

Mantrantam parama jnanam,

Siwa loka pratham subham

 

Om namo siva ya ityevam,

Para brahmatmane vandam

Para saktih Panca Divah,

Panca Rsyam bhawed agni

 

Om A karas Ca U karas Ca,

Ma karovindu nadakam,

Pancaksaram maya proktam,

Om karaagni mantrake

(kembang dimasukan ke air tirta)

 

Gangga Stava Mantra:

Om sang bang tang ang ing

Om nang mang sing wang yang

Om hrang hring sah paramasiwa gangga

Tirtha amrtha ya namah swaha

 

Om sarwa belikan pertiwi

Brahma, wisnu, maheswara

Anaking dwwa putra sarwada

Sarwanastu ya namah swaha

 

 

Om sam prajanam sarweda

Sudhamala sudhadanda pataka

Sudhawigna sudharoga sudhadanda upata

Om sidhi guru srong sarapat, sarwa vigna

Sarwa roga sarwa satru sarwa klesa

Sarwa papa vinasa ya namah swaha

 

Om gangga sarasvati sindhu, Suyamuna godhawari, Narmada kaweri serayu,

Mahendra tenaya carman wati venuka

 

Om badra netravati maha suranadi, kiatanca

ya gandaki, punia purna jale samudra,

sahitah kurvantu te manggalam

 

Om idep betara panca tatagata

Muwang betara ratna traya kumandali bajradhaka ya namah swaha

 

Om gangga sindu sarasvati,

Vipasa kausiki nadi,

Yamuna maha srestha,

Sarayus ca maha nadi

 

Om bhur bhuah swah

tirtha maha pavitra ya namah swaha

(kembang dicemplungkan ke toya)

 

Mrtyun Jaya Mantra:

Catatan:

Mantram ini dapat ditambahkan apabila para pemangku sudah hafal, namun apabila belum hafal, dapat dilewati).

 

Om mrtyun jaya dewa sia,

Yona mamia mikirtiayet

Dhirgayusia mawapnoti

Sanggrama wijaya bawet

Om atma tattvatma sudhamam swaha

Om pratamasudha, dwityasudha, trityasudha, caturtysudha, pancamysudha, sadmy sudha, saptamy sudha.

 

Om sudha sudha sudha, sudha

wariastu tat astu astu swaha

 

Om ayuwrdhi yasa wrdhi,

wrdhi pradnyan suka sriyam,

dharma sentana wrdhisca,

santuta sapta wrdhayah

 

Yate meru stithi dewah

Yawat gangga mahe tala

Candrarka gagana tawat

Tawatwam wijayam bawet

 

Om dirgayur astu tad astu astu swaha

Om awignam astu tad astu astu swaha

Om subham astu tad astu astu swaha

Om sukam bhawantu, Om purnam bhawantu,

Om Sriyam bhawantu Sapta wrdhi astu tad astu astu swaha.......xxx

 

Mantra Pancaka Tirtha:

Catatan:

Mantra ini boleh ditambahkan, namun

apabila belum hafal, boleh dilewati.

 

Om gangga muncar saking wetan

Tinghalin telaga hojanira

Jambanganira selaka,

tinanceban tunjung putih,

padyusananira Bhatara Iswara

 

Om gangga muncar saking kidul

Tinghalin telaga hojanira

Jambanganira temaga, tinanceban tunjung bang, padyusananira Bhatara Brahma

 

Om gangga muncar saking kulon

Tinghalin telaga hojanira

Jambanganira mas,

tinanceban tunjung kuning,

padyusananira Bhatara Mahadewa

 

Om gangga muncar saking lor

Tinghalin telaga hojanira

Jambanganira wesi,

tinanceban tunjung ireng,

padyusananira Bhatara Wisnu

 

Om gangga muncar saking madya

Tinghalin telaga mumbul ring sapta petala

Muncar ring luhur, tinghalin telaga hojanira Jambanganira selaka amanca warna

Padyusananira Bhatara Siwa

 

       Mantra Tirta Byakala:

Om pakulun sang kala kali

ulun lugraha anede tirta pamyukala

(kembang ditaruh di tirta).

 

Mantra Tirta Prayascita:

Om gangga devi maha linggam, siva dvara

maha pujam sarva amrta manggala ya,

tirta nadi maha toyam

 

Mantra tirta kelapa gading:

Om   I – Ba – Sa – Ta – A,

Sarva mala prayascita ya namah

Om  Sa – Ba – Ta – A – I,

Sarva papa petaka lara roghawighna

prayascita ya namah  

Om  A – Ta – Sa – Ba – I,

Sarva klesa dosa mala gelehpateleteh

prayascita ya namah  

(kembang masukan ke kelapa gading)

 

Nyurat Tirta – Mantra:

Ong Ong Ong tirtha amrtha ya namah

 

Pasupati tirtha kembang 3 helai.

Mantra:

Om pasupati bajra yudaya,

Agni raksasa rupa ya

Purwa muka desa stana ya,

Pasupati Om pat

 

Om pasupati danda yuda ya,

Agni raksasa rupa ya

daksina muka desa stana ya,

Pasupati Om pat

 

Om pasupati pasa yuda ya,

Agni raksasa rupa ya

pascima muka desa stana ya,

Pasupati Om pat

 

Om pasupati cakra yuda ya,

Agni raksasa rupa ya

Uttara muka desa stana ya,

Pasupati Om pat

 

Om pasupati padma yuda ya,

Agni raksasa rupa ya

Madya muka desa stana ya,

Pasupati Om pat

 

Om pasupati pataya, jagadita ya

Om pasupati prama sastra panca murthi

Om pat, pat Om nama Siwa ya.

13. Pasupati Tirta:

Om Sanghyang Pasupati,

Ang Ung Mang yanamah swaha

Om Brahma astra pasupati ya namah swaha

Om Wisnu astra pasupati ya namah swaha

Om Rudra astra pasupati ya namah swaha

Om Iswara astra pasupati ya namah swaha

Om ya namah swaha

 

Om Sanghyang aji Saraswati,

tumurun maring surya candra

Angawe pasupati mahasakti,

angawe pangurip mahasakti

Angurip sehananing raja karya, (teke urip 3 x)

 

Om Sanghyang akasa pertiwi pasupati

angurip tirta panglukatan/pebersihan,

tirta pabyakala, tirta prayascita,

Om eka vastu vignam svaha

 

(kembang 3 sebit masing-masing masukan

ke dalam semua tirta)

 

Catatan:

Setelah kembang dimasukkan ke dalam air suci pada saat mantra yang terakhir, selanjut nya ambil dhupa yang ada dihadapan tempat duduk, lalu putar batang dupa dalam air suci searah jarum jam sebanyak 3 kali dan setelah selesai dupa taruh kembali ditempatnya.

 

14.  Mantra Lis

Ambil seluruh lis yang ada di semua

banten/upakara, lalu ucapkan Mantra:

 

Om pengadegan ira sang janur kuning,

tumurun Bhatara Siwa,

kebaktinin jadma manusakabeh

Om ksama sampurna ya namah svaha

 

Om jreng ireng angadeng angilangaken,

sarva malanira sang lilislisan

 

Om sabur sweta, sabur rakta, sabur pita,

sabur kresna, sabur manca warna,

sarva karya prayascita suci nirmala

ya namah svaha

 

15. Ngemargiang Tirta:

Selesai mengucapkan mantra lis, selanjutnya lis diketisin 3 kali dengan tirta, lalu pemangku sendiri juga meketis dan serati ngemargiang tirta berturut-turut di mulai dari tirta byakala (ke pelinggih bagian bawah, penglukatan/ pebersihan ke pelinggih bagian tengah dan prayascita ke pelinggih bagian atas, yang di percikan pada semua pelinggih yang ada masing-masing 3 kali, dimulai dari padma, taksu, kemulan, rong kalih, penglurah, piasan gedong penyimpenan dan pelinggih lainnya yang ada di lingkungan keluarga. Dalam melakukan kegiatan ini diperlukan 3 orang untuk membantu ngetisang tirta tersebut.

 

16.  Nganteb Byakala

Setelah selesai ngemargiang tirta, seluruh tirta yang dibawa dikembalikan ketempat semula, yang dilanjutkan dengan nganteb byakala, Mantra:

 

Om pakulun sang kalakali, punikita pabyakalan ira sang yajamana, katur ring sang kala kali sami, sire ta reka pakulun, lah sama mata sang kalakali, mundur sedulur maring ipun sang abayakala denipun anutug aken tuwuh tunggunen denira sanghyang premana katekan sasih nadyan ipun.Omsidirastuya namah svaha.

 

Catatan:

Apabila ada banten durmenggala dilanjutkan dengan mantra durmenggala namun sebelum nya tanya dulu sarati banten.

 

17. Nganteb Durmengala – Mantra:

Om sang kala purwa, sang kala sakti, sang kala bajra, sang kala ngulalang, sang kala petre, sang kala suksme, aja sire pati papanjingan, pati peperetangi, iki tadah sajinira, penek lawan trasi, meulam bawang jahe, menawi kirang tadahanire,iki jinah kutus kepeng,lawe setukel, maraha sire ring pasar, ajak sanak rabinire sowang-sowang, aje sire mewali.

Om sidhirastu ya namah swaha.

 

18. Tepung Tawar – Mantra:

Om astra sastra mpu sarining wisesa,

Tepung tawar amunahaken angilangaken,

Sahananing sebel kandelpabaktyaning hulun

Om sanut sang kala pegat,

pegat rampung sahananing wisesa,

Om shri devi batrimsa yogini ya namah

Om gagana murca ya namah svaha

 

  1. Ngelebur Mala:

Om panca maha baya purwa desanca,

bajra sentania, sida anglukat anglebur

sakwehing malaning panca yadnya

Om sryawai namo namah svaha

 

Om panca maha baya daksina desanca,

gada sentania, sida anglukat anglebur

sakwehing malaning panca yadnya

Om sryawai namo namah svaha

 

Om panca maha baya, pascima desanca,

nagapasa senjatania, sida anglukat anglebur

sakwehing malaning panca yadnya,

Om sryawai namo namah svaha

 

Om panca maha baya uttara desanca,

cakra senjatania, sida anglukat anglebur

sakwehing malaning panca yadnya

Om sryawai namo namah svaha

 

Om panaca maha baya madya desanca,

padma senjatania, sida anglukat anglebur

sakwehing malaning panca yadnya

Om sryawai namo namah svaha

 

  1. Mantra Pengramped

Om pakulun sang hyang tiga murti hyang,

Sanghyang ekajana cuntaka,

Sanghyang suci nirmala jnana,

mekadi Bhatara melinggih ring banten, kararaban kerampwe denamel dening wang campur, keraraban roma, kwaltikaning cona,

keparodan ing wak, keprayascita denira:

Sanghyang tiga murti hyang, sanghyang ekajana cuntaka, sanghyang suci nirmala jnana, Om sryawai ya namo namah svaha

 

21. Kuta Mantra:

Om hram hrim sah parama siva aditya

ya namah svaha

 

 

 

22. Surya Stawa:

Om surya sloka natasya, varadahsya suarcanam, sarvantah tasya sidantam,

suda naya santyasam

 

Om asita mandala mrtyu,

sitala satru nasanam,

Kavi visya rakta teja,

sarva bhava bavet bavat

 

23.  Akasa Stawa

Om Akasa Nirmalam Sunyam,

guru dewo byomantaram,

Siva nirbanam viryanam,

reka omkara wijaya

Om Ah akasa bhyo namah svaha

 

24. Pertiwi stawa:

Om pertiwi sariram dewi,

catur dewa mahadewi

Catur asrami batari,

siwa bhumi mahasidi

 

Om ring purva ksiti basundari,

Siva patni putrayoni

Uma durgha gangga devi,

Brahma betari vesnavi

 

Om mahesvari hyang kumari,

Gayatri beravi gauri

Arsa sidhi mahavari,

Indra nicambuni devi

 

Om akasa siva tattva ya namah svaha

Om pertivi deva tattva ya namah svaha

 

 

25. Mantra Nganteb Caru (Ayam Brumbun)

Ih sira sang bhuta manca warna, ring madya desanca, wraspati sapta warania, kliwon panca warania, Bhatara siva dewatania, Iki tadah sajinira sang yajamana, pepenek manca warna, meiwak ayam brumbun, ingolah winangun urip meulu daksina, ajak sanakta 888, menawi kirang tadahan ira, iki jinah wulung atus, mahara sire ring pasar, geng ampuranen

sang yajamana.

 

26.  Ngayabang Caru:

Om bhuktayantu durga ketara,

bhuktayantu kala dewasca,

Bhuktayantu sarwa bhuktanam,

bhuktayantu Pisacasangkyang

 

Om dhurga loka boktaya svaha,

Om bhuta loka boktaya svaha

Om kala loka boktaya svaha

Om pisaca loka boktaya svaha

 

Om ibek segara, ibek danu, ibek bayu, permananing hulun, Om sryawai namo

namah svaha  

 

Nyomia Bhuta menjadi Dewa:

Om lukat sira bhuta dengen,

Sumurup ring bhuta kalika,

Om lukat sira bhuta kalika,

sumurup ring betari durga

Om lukat sira betari durga,

Sumurup ring betari Uma

Om lukat sira betari Uma,

sumurup ring betari guru

Om lukat sira betari guru,

Sumurup ring sanghyang tunggal

Om lukat sira sanghyang tunggal,

Sumurup ring sangkan paran

sira juga sangkaning sangkan paran,

sira juga, sida anglukat mala

papa petakaning kabeh.

Om Ang ksama sampurna ya namah

 

27. Kuta Mantra

Om hram hrim sah

paramasiva aditya ya namah

 

28. Nguntab Ida Bhatara:

Nguntab Ida Bhatara maksudnya untuk menghadirkan para dewa yang akan menerima piodalan yang dipersembahkan oleh damuh Ida Bhatara sebagai wujud penghormatan dan terima kasih atas anugrah yang diturunkan oleh Ida Bhatara kepada para penyungsungnya – Mantra:

 

Om Isvara purwa desanca,

teja maya sveta rupam,

amrta sweta ya sampurnam,

sarva jagatya vicitram.

Om padmanasana ya namah svaha,

utpeti: Mang, Uang, Ang, namah.

Om deva peratista ya namah svaha,

Stiti: Ang, Ung, Mang, namah.

Om Isvara sveta varna ya namah svaha

 

Om Brahma daksina desanca,

teja maya rakta rupam,

amrta rakta ya sampurnam,

sarva jagat ya vicitram.

Om padmasana ya namah svaha,

utpeti: Mang, Ung, Ang, namah.

Om deva pratista ya namah svaha,

Stiti: Ang, Ung, Mang, namah

Om Brahma rakta varna ya namah svaha

 

Om Mahadeva pascima desanca,

teja pita maha rupam,

amrta pita ya sampurnam,

sarva jagat pratistanam.

Om padmasana ya namah svaha,

utpeti: Mang, Ung, Ang, namah.

Om deva peratista ya namah svaha,

stiti: Ang, Ung, Mang, namah.

Om Mahadeva pita varna ya namah svaha

 

Om Visnu deva uttara desanca,

teja kresna maha rupam,

amrta kresna ya sampurnam,

sarva jagat ya vicitram.

Om padmasana ya namah svaha,

utpeti: Mang, Ung, Ang, namah.

Om deva peratista ya namah svaha,

stiti: Ang, Ung, Mang, namah.

Om visnu deva kresna varna ya namah svaha

 

Om Siva deva madya desanca,

teja visva maha Rupam,

amrta visva ya sampurnam,

sarva jagat pratistanam.

Om padmasana ya namah svaha,

utpeti: Mang, Ung, Ang, namah.

Om deva peratista ya namah svaha,

stiti: Ang, Ung, Mang, namah.

Om Siva deva visva varna ya namah svaha

 

 

Om Brahma, Visnu, Isvara devam

Tripurusa sudatmakam

trideva trimurti lokam

sarvavigna vinasanam (Betara Kawitan)

 

Catatan:

Bait yang terakhir pada mantra diatas sebagai tambahan secara khusus untuk Nguntab Ida Bhatara Kawitan atau leluhur. Untuk Pura Bale Agung, Puseh dan Dalem ada mantra secara khusus yang harus diucapkan, demikian juga pura-pura lainnya.

 

Mempersilahkan Ida Bhatara melinggih

Om linggantu sarva devatam,

Om linggantu sarva devanca

Om linggantu sarva devanam,

Om shri guru bhyo namah svaha

 

Ida Bhatara Melinggih (Penyeneng)

Om kaki penyeneng, nini penyeneng,

kajenengan denira Sanghyang Brahma,

Visnu, Isvara, Mahadeva, Surya,

Chandra lintang teranggana,

Om  shri ya namah svaha  

 

Penghormatan kepada Ida Bhatara:

Om agnir agnir samarpayami, jyotir-jyotir samarpayami, puspam, palam, toyam, gamdem, satem, sarva deva suka pradana

 ya namah svaha

 

Menghaturkan Banten Pejati

Om siva sutram yadnya pavitram,

parama paviram prajapati jyogyusyam

balamastu tejo paranam,

gohyanam triganam triganatmakam

Om namaste bhagavan agni,

namaste bhagavan ari

namaste bhagavan isa,

sarva baksa utamasanam

 

Menghaturkan Suci:

Om agni madya rawis siva,

rawis madya tu candraman,

candra madya bawus suklah,

sukla madya stitah sivah,

 

Om suci rva suci rvapi,

sarva gangga gata pivam,

cintya ya deva isanam,

sarva abyantara suci.

 

Om agni siva tribvanam,

rawis capi maha statam,

 janas tapasca satyam tu,

candra sukla sivah smrtham

 

Om namah sivaya devam ca,

sarva deva sudo nityam,

mahesvara murti bhvanam,

sarva roga vimurcyate.

 

Menghaturkan Semayut:

Om pakulun sanghyang guru reka tanaya, iki ta mayanira angaturaken terpana, semayut paripurna, katur ring jeng paduka Bhatara muang betari, Om suda suda ya namah svaha, Om Ang Ah amrta sanjiwani ya namah svaha.

 

Catatan:

  • Apabila tidak ada banten suci, tidak usah mengucapkan mantra banten suci.
  • Apabila tidak banten pejati, tidak usah mengucapkan mantra pejati.
  • Apabila hanya ada banten berupa cabang gebogan, ajuman atau canang sari, cukup mengucapkan mantra ngayab banten saja.
  • Apabila tidak ada semayut, tidak usah mengucapkan mantra semayut.

 

Ngayab Banten:

Om paramasiva tanggohyam,

siva tattva parayanah, sivasya pranata

nityam, candhisa ya namostute

 

Om nividyam brahma visnuca,

bhoktam deva mahesvara

sarva vyadhi nalabhate,

sarva karyanta siddhantham

Om jayarte jaya mapnuyat,

ya sakti yasa apnoti,

siddhi sakalam apnuyat,

parama siva labhate

ya namah svaha

 

Muktyang Banten Piodalan:

Om deva bhatyam maha sukham,

bojanam paranam sa amrtham,

deva baksya maha tustam,

bhoktra laksana karanam

 

Om bhuktyantu sarva ta deva,

bhuktyantu trilokanata,

sagenah saparivarah,

savarga sadha sidha sah,

 

Om deva bhoktra laksana ya namah

Om deva tripti laksana ya namah,

Om treptya paramesvara yanamah svaha

Segehan untuk Rencang Ida Bhatara:

Om atma tattvatma suddha mam svaha,

svasti, svasti sarva bhuta suka predana

ya namah svaha

 

Arak berem:

Om ebek segara, ebek danu, ebek bayu,

premananing ulun ya namah svaha

 

29. Kuta Mantra:

Om hram hrim sah

paramasiva aditya ya namah

 

30. Puja Trisandhya, kramaning sembah:

Pertama–tangan kosong:

Om atma tattvatma sudhamam svaha

 

Kedua–kehadapan BhataraSurya:

Om aditya sya param jyoti,

rakta teja namo stute

Sweta pangkaje madiastha,

baskara ya namo stute

 

Om pranamya baskara devam,

sarva klesa vinasanam,

pranamya aditya sivartham,

bukti mukti varapradam

Om Hrang Hring Sah parama siva

aditya ya namah svaha 

 

Ketiga–kehadapan Sanghyang Akasa:

Om akasa nirmalam sunyam,

Guru dewo byomantaram

Siva nirbanam viryanam,

Reka omkara wijaya

Om Ah akasa bhyo namah swaha

 

Keempat–kehadapan Ibu Pertiwi:

Om perthiwi sariram dewi,

Catur dewa maha dewi

Catur asramai bathari,

Siva bhumi maha siddhi

Om perthiwi bhyo namah swaha

 

Kelima–kehadapan Ista Dewata:

Om namo deva adistanaya,

sarva wyapi waisiwaya,

Padmasana eka pratista ya,

Ardanarasvaryainamo namah svaha

 

Om Brahma, Visnu, Isvara Devam,

Tripurusa sudatmakam,

Trideva trimurti lokam,

Sarva vigna vinasanam.

 

Catatan:

Mantra ketiga diatas hanya sebagai contoh apabila melakukan piodalan di pura Kawitan, paibon, dadya, merajan. Untuk ditempat lainAda mantranya tersendiri.

 

Keenam – Mohon Anugrah:

Om anugraha manohara,

deva datta nugrahaka  

arcanam sarva pujanam,

namah sarva nugrahaka

 

Om deva-devi maha siddhi,

yajnanga nirmalatmakam

Laksmi siddhisca dhirghayuh,

nirvighna suka vrddhitah

 

Om ghrim anugraha arcanam

ya namo namah svaha

Om ghrim anugraha manoharam

ya namo namah svaha

Om ghrim anugraha parama tyestyai

ya namo namah svaha

Om antyestih paramam pindam,

antyestih devamisrita, sarvestih eka sthane va, sarva deva sukha prada yanamo namah svaha

 

Ketujuh–Tangan kosong:

Om deva suksme parama acintya

ya namah svaha.

 

31.  Kuta Mantra:

Om hram hrim sah

parama siva aditya ya namah

 

32. Ngaksama Jagatnatha

Omksamasvamam jagatnatha,

sarva papa nirantaram

sarva karya siddham dehi,

pranamamisuresvaram

 

Om tvam surya tvam sivakarah,

tvam rudro bahni laksanah,

tvamhi sarvagatakarah,

mama karya prajayate

 

Om ksamasvamam mahasakte,

astaisvarya gunatmakah

nasayet satatam papam,

sarvam loka darpanam

 

33.  Ngantukang Ida Bhatara

Om Ang giri pati wande,

loka natha jagat pati,

danesam trana karanam,

sarva gumam mahayusam.

 

Om maha rudram mahasudam,

sarva roga winasanam,

sivam parama samyutam,

maha beravi karanam

 

Om purva isvara uma devisca,

genian mahesora laksmi devi,

dasina brahma sarasvati dewi,

neritya rudra santani devi

 

Om pascima mahadeva saci devi,

wayabyam sangkara warahi devi,

utara visnu sri devi,

ersanya sambu uma devisca

 

Om madya siva savitri gayatri,

uma tattva maha devisca,

Om… Ang Ung – Ang Ung – Ang Ung

Om sri devi ya namah svaha(selesai)

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

Demikian Buku kecil ini saya persembahkan kepada pembaca terutama para calon pemangku, saya sangat menyadari bahwa buku yang saya tulis ini belumlah sempurna, semua itu karena keterbatasan pengetahuan dan wawasan saya tentang weda, yang memungkinkan disana-sini masih banyak terdapat kekurangan dalam buku ini, bagi saya inilah yang paling sempurna bisa saya persembahkan kepada para pemangku dan atau calon pemangku “tan ana wong sweca anulus, tiada gading yang tidak retak” sinampura tan kelintang katur ring semeton sami, dumogi sami waras lan bahagia.

 

Om, Santih, Santih, Santih, Om

Bandar Lampung, 18 Pebruari 2012

Jro Mangku Dr. I Ketut Seregig, S.H., M.H.

Bendesa Agung Majelis Adat Pekraman Lampung

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

C.Hooykaas. Tahun 2004. Surya Sevana, dari ___Pandita untuk Pandita dan umat Hindu, penerbit ___Paramitha – Surabaya.

 

Parisada Hindu Dharma Indonesia. Pendidikan   ___Calon Pemangku/Pinandita se–Indonesia Tahun ___1993.

 

Parisada Hindu Dharma Indonesia. Tahun 1986   ___1987. Keputusan seminar kesatuan Tafsir  ___terhada paspek-aspek agama Hindu yang ke-___14 tahun tanggal 11 s/d 12 Maret 1987 tentang ___pedoman pelaksanaan Diksa.

 

Seregig, Ketut, tahun 2010. Nilai keadilan hukum ___Adat Bali,kontribusi terhadap sistem adat Bali di ___Indoensia, penerbit paradigma – Yogyakarta.

 

Sujana, I Made dan Susila, I Nyoman. Tahun 2000.  ___Manggala Upacara, penerbit Departemen ___Agama Republik Indonesia – Jakarta.

 

Ada 0 komentar untuk berita ini



Tinggalkan Komentar


Nama :
Email : Tidak akan diterbitkan
URL : Diawali dengan: http://
Komen :
security image