TATACARA UPACARA PERKAWINAN MENURUT TRADISI ADAT BALI

,

Oleh :

I Ketut Seregig

Ketua Majelis Adat Pekraman Provinsi Lampung

 

I. PENDAHULUAN

Tatacara pelaksanaan pewiwahan dalam tradisi dan adat-istiadat Bali sangatlah beragam, berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan oleh penulis, pelaksanaan upacara perkawinan (pewiwahan) menurut tradisi adat Bali mulai dari tingkat yang paling sederhana hingga pada tingkatan yang paling agung dengan berbagai prosesi atau tahapan kegiatannya akan penulis uraikan prosesi yang paling umum dilakukan oleh masyarakat adat Bali di perantauan. Bagi krama desa adat Bali yang ada di daerah Bali, tradisi yang paling umum dilakukan adalah upacara “mekalah-kalahan” atau upacara “mesakapan” yang didalamnya terdapat upacara bhuta yadnya (mabyakala) dan upacara dewa yadnya (prayascita dan mejaya-jaya).

 

Tradisi adat dan budaya Bali yang ada di perantauan, telah mengalami intervensi tradisi dan budaya dari India yang justru dilakukan oleh tokoh-tokoh intelektual, terutama para pengikut sampradaya krisna yang fanatik, yang penulis nilai telah keluar dari tradisi dan adat-istiadat Bali, bahkan tidak pernah mengamalkan secara benar nilai-nilai religius tradisi adat dan budaya Bali yang diwariskan oleh para leluhur. Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan, penganut krisna sebagian besar tidak mendirikan sanggah kemulan/merajan dirumahnya, bahkan yang sudah ada dirobohkan. Walau demikian, para pemerhati dan budayawan Bali tetap melakukan pembinaan secara konstruktif agar krama adat Bali tetap melestarikan dan mengembangkan tradisi, adat-istiadat dan seni budaya Bali, khususnya dalam membumikan tradisi dan tata cara upacara pewiwahan yang selama ini dilaksanakan secara gampangan, yang diistilahkan dengan upacara “metanjung sambuk”.

 

Untuk memberikan gambaran kepada para pembaca umat Hindu Bali yang ada diperantauan (di luar Bali) penulis memiliki pengalaman dalam melaksanakan upacara pewiwahan dengan cara gandarwa dan arsha wiwaha. Fakta-fakta empiris yang berkembang di masyarakat adat suku Bali ini, kemudian penulis kumpulkan dan disarikan dalam artikel ini, agar nantinya dapat dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaan upacara pewiwahan menurut tradisi dan adat-istiadat Bali.

 

Penulis menyadari bahwa apa yang diuraikan dalam artikel ini, kemungkinan besar belum mampu membuat para pembaca puas dan masih banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh penulis. Misalnya mengenai upakara/bantennya, sebesar apa yang diperlukan? Terkait dengan hal ini penulis masih tetap berpegang pada Tri Manggalaning Upacara yang terdiri dari: Yajamana, Serati dan Pemuput Upacara (Pandita atau Pemangku) yang hingga saat ini masih dijadikan sebagai dasar dalam melaksanakan yadnya di lingkungan umat Hindu Bali. Dan mungkin ada juga yang merasa tersinggung dengan artikel yang saya tulis ini. Apa yang salah dengan sampradaya krisna? Jawaban saya tidak ada yang salah semua ajaran benar, karena mengajarkan kebaikan. Tetapi saya hanya mengingatkan kepada para pengikut krisna yang fanatik, hentikan memprovokasi dan mempengaruhi umat Hindu Bali yang menjalankan tradisi agama yang diwariskan leluhur, hentikan dharmawacana yang menjelek-jelekkan umat Hindu tradisi, dan menyanjung ajaran yang saudara pelajari dengan maksud yang bertujuan untuk mengkonversi tatacara beragama agar umat Hindu tradisi menjalankan ajaran krisna, biarkan kami menjalankan tradisi agama yang diwariskan oleh para leluhur. Lakukan ajaran saudara dalam kelompok dan ditempat saudara sendiri. Sesuai kesepakatan kita pada bulan Juli 2001.

  

II. PELAKSANAAN UPACARA PEWIWAHAN

Berdasarkan fakta-fakta empirik yang berhasil dikumpulkan penulis tentang tradisi, adat-istiadat Bali dalam pelaksanaan perkawinan yang berkembang dilingkungan masyarakat adat Bali, maka tatacara dapat dideskripsikan sebagai berikut:

 

A. Mesedek

Acara mesedek ini dilaksanakan dengan tatacara, kedua orang tua calon mempelai pria dan putranya datang ke rumah calon mempelai wanita dengan maksud untuk memperkenalkan diri dan berbicara secara sungguh-sungguh tentang hubungan putra-putri mereka, apabila kedua calon mempelai sama-sama mencintai dan disetujui oleh kedua orang tua mereka, maka pada saat itu juga harus dibicarakan tentang acara Mepadik yang hari baiknya (duwase ayu) sudah ditentukan sebelumnya oleh keluarga calon mempelai pria. Apabila permintaan hari baik ini disetujui oleh orang tua calon mempelai wanita, maka proses Mesedek dianggap sukses.

 

B. Mepadik

Acara Mepadik merupakan kelanjutan dari Mesedek, sebagai akibat dari kesepakatan yang terjadi antara kedua keluarga calon mempelai. Dalam acara ini calon mempelai pria mengajak kedua orang tua dan keluarga besarnya serta para prajuru adat Banjar dan prajuru desa adat (bila antar desa adat), dengan maksud untuk meminang calon mempelai wanita. Upakara yang dibawa berupa pejati, canang pengrawos (tampinan) dan runtutannya yang disertai dengan membawa sandang-pangan sebagai simbol bahwa calon mempelai pria sudah siap memberikan kehidupan bagi calon mempelai wanita. Ritual ini juga lazin disebut dengan upacara Mepejati. Proses mepadik dilaksanakan sebagai berikut:

  1. Calon mempelai laki didampingi oleh kedua orang tuanya, yang didampingi oleh pemangku, prajuru adat, tokoh agama dan tokoh adat secara beriringan memasuki pekarangan rumah.
  2. Sebelum memasuki rumah, didepan pintu pekarangan calon mempelai laki disambut dengan ritual segehan dan diperciki tirta penglukatan dari kemulan, makna segehan adalah suguhan yang diberikan kepada “sang durgha bucari” yang telah menjaga keselamatan calon mempelai laki dan rombongan dalam perjalanan menuju ke rumah calon mempelai wanita, sedangkan tirtha penglukatan maknanya agar calon mempelai laki dianugrahkan kesucian lahir dan bathin.
  3. Setelah prosesi ritual tersebut selesai, calon mempelai laki, kedua orang tua, prajuru adat dan tokoh adat dipersilahkan duduk di dalam ruang tamu, apabila tempat memungkinkan duduk disebelah timur (purwa) menghadap ke barat.
  4. Pinandita duduk di sebelah selatan (daçina), baik dari calon mempelai laki maupun dari calon mempelai wanita, yang diikuti dibelakangnya para kerabat dekat kedua mempelai.
  5. Disebelah barat (pascima) duduk menghadap ke timur calon mempelai wanita didampingi kedua orang tua, prajuru adat, dan tokoh adat.
  6. Acara mepadik ini dipandu pembawa acara (MC) dengan susunan acara sebagai berikut:
  • Matur piuning oleh pinandita dari calon mempelai wanita
  • Dengan upakara banten pejati dan tampinan atau canang pengrawos.
  • Setelah matur piuning, MC membacakan acara berikut yaitu pihak calon mempelai laki menyampaikan maksud kedatangannya ke rumah calon mempelai wanita adalah untuk menindak lanjuti pembicaraan kedua orang tua sebelumnya pada saat pertemuan kedua orang tua dalam acara mesedek dan saat ini ditindak lanjuti dengan acara mepadik dihadapan seluruh keluarga dan prajuru adat, yang diakhiri dengan ucapan menawarkan “tampinan” kepada wakil calon mempelai wanita dan orang tua, agar berkenan menerimanya.
  • Sebelum menerima “tampinan”, wakil calon mempelai wanita menjawab pernyataan yang disampaikan oleh wakil calon mempelai laki, dengan bertanya lebih dulu kepada calon mempelai wanita, apakah setuju/menerima pinangan yang disampaikan oleh calon mempelai laki.
  • Apabila calon mempelai wanita menyatakan “cinta dan menerima padikan atau pinangan dari calon mempelai laki”, maka wakil calon mempelai wanita menjawab pinangan atau padikan dari calon mempelai laki, dengan pernyataan “titiang ngiring sekadi wecanan pianak...............” lalu wakil calon mempelai laki menyerahkan tampinan kepada wakil calon mempelai wanita, lalu nyirih (para penerima sirih: calon mempelai wanita, kedua orang tua mempelai wanita, wakil calon mempelai wanita dan bendesa atau kelian banjar).
  • Setelah menerima sirih lalu digigit 3 kali, yang maknanya adalah bahwa padikan atau pinangan tersebut sungguh-sungguh diterima apa adanya oleh calon mempelai wanita dan keluarganya. Sirih yang digigit itu akan terasa manis, kecut, sepat, pahit, pedes, begitulah kehidupan yang akan dialami oleh kedua mempelai nantinya.

 

7. Setelah padikan atau pinangan disetujui, wakil keluarga menyerahkan tanggung jawab acara adat ini kepada bendesa adat dan memberikan sambutan atau nasehat yang berkaitan dengan kewajiban seoerang grehasta dalam adat-istiadat Bali yaitu aktif menjadi krama adat dalam sistem kehidupan sosial yang dilaksanakan oleh desa adat.

 

8. Apabila dalam acara mepadik sekaligus dilakukan juga acara magpag calon pengantin, maka dalam acara mepadik ini masih ada 3 ritual yang harus dilakukan yaitu:

 

  • Melaksanakan ritual Natab Pawetonan ditempat tidur calon mempelai wanita, disaksikan oleh calon mempelai pria dan kedua orang tua serta keluarga, sebagai simbolisasi bahwa tugas dan kewajiban sebagai orang tua mempelai wanita dalam membesarkan, mendidik, dan membimbing sang putri untuk memperoleh pengetahuan dan ajaran agama untuk bekal dalam menjalani kehidupan grehasta, telah selesai dan sudah beralih kepada calon mempelai pria dan keluarganya.
  • Kedua orang tua calon mempelai laki menyerahkan seprangkat pakaian dan daksina kepada ibu dari calon mempelai wanita sebagai simbol “pengganti air susu ibu”.
  • Matur Piuning kepada leluhur atau Sang Hyang Kawitan calon mempelai wanita yang didampingi oleh calon mempelai laki.
  • Setelah selesai acara mepiuning, maka selesai pulalah acara mepadik sekaligus acara magpag calon pengantin wanita dilakukan, kemudian persiapan kembali ke rumah calon mempelai laki.

 

9. Apabila acara Mepadik dilaksanakan secara terpisah dengan acara Magpag Pengantin, sesuai dengan dudonan yang telah ada, maka magpag calon pengantin wanita dilaksanakan pada hari pelaksanaan “Sidang Pewiwahan” yang sudah dipersiapkan oleh pihak prajuru adat di rumah atau di Bale Adat calon mempelai laki.  

    

C. Magpag Pengantin

Prosesi magpag pengantin wajib dilaksanakan apabila jarak tempuh calon mempelai wanita masih dapat dijangkau dalam tempo waktu tidak lebih dari 6 jam, dengan pertimbangan bila jarak tempuh waktu magpag pengantin ini dibutuhkan 6 jam, maka waktunya dikalikan dua (PP) menjadi 12 jam ditambah maksimal 2 jam kegiatan di rumah calon mempelai wanita. Penghitungan waktu ini dimaksudkan agar pelaksanaan ritual ini tidak melebihi satu hari (ngeliwatin dina). Bila prosesi ini tidak mungkin dilaksanakan, maka prosesi ini boleh ditiadakan dan ini berarti bahwa pada saat prosesi Mepadik pihak keluarga mempelai pria sekaligus membawa calon mempelai wanita ke rumah mempelai pria yang didampingi oleh kedua orang tua mempelai wanita, untuk melaksanakan prosesi pewiwahan di rumah mempelai pria hingga selesai, artinya telah memenuhi syarat Tri Upasaksi. Dalam acara magpag pengantin ini, di rumah calon mempelai wanita ada prosesi upacara yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

 

1. Natab segehan didepan pintu pekarangan

Natab segehan di depan pintu pekarangan sebelum masuk ke rumah dimaksudkan sebagai wujud pemberian suguhan kepada durgha bucari yang menguasai jalan raya, atas keselamatan yang diberikan kepada calon mempelai laki dan rombongan selama dalam perjalanan. 

 

2. Pembicaraan Keluarga

  • Calon mempelai pria dan keluarga besarnya datang ke rumah calon mempelai wanita, yang disertai dengan prajuru adat Banjar dan prajuru desa adat dengan maksud untuk menjemput calon mempelai wanita.
  • Calon mempelai wanita dan keluarga besarnya menyambut calon mempelai pria didepan pintu pekarangan rumah, lalu masuk ke dalam rumah yang diikuti oleh seluruh keluarga besar calon mempelai pria.
  • Prajuru desa adat dari pihak calon mempelai pria memulai pembicaraan mewakili keluarga menyampaikan maksud kedatangannya tiada lain adalah untuk menjemput calon mempelai wanita (magpag pengantin), untuk diboyong ke rumah calon mempelai pria dalam rangka melaksanakan prosesi pewiwahan.
  • Pihak calon mempelai wanita biasanya sudah mengerti maksud kedatangan ini, dan meminta calon mempelai pria dan keluarganya untuk santap siang atau minum terlebih dahulu, sementara pemangku dan sarati melaksanakan puja matur piuning di Kemulan yang diiringi oleh kedua calon  mempelai dan kedua orang tuanya.

 

3. Natab Pawetonan di Tempat Tidur

Melaksanakan ritual Natab Pawetonan di Bale tempat tidur calon mempelai wanita, disaksikan oleh calon mempelai pria dan kedua orang tua serta keluarga, sebagai simbolisasi bahwa tugas dan kewajiban sebagai orang tua mempelai wanita dalam membesarkan, mendidik, membimbing sang putri untuk memperoleh pengetahuan dan agama untuk bekal dalam menjalani kehidupan grehasta, telah selesai dan sudah beralih kepada calon mempelai pria dan keluarganya.

 

4. Tanda Kasih Pengganti Air Susu

Dalam ritual ini orang tua mempelai laki wajib memberikan tanda kasih seperangkat pakaian kepada ibu calon mempelai wanita sebagai simbol ucapan terima kasih kepada ibunda yang selama ini telah membesarkan sang putri. Pemberian ini secara simbolis bermakna sebagai pengganti air susu ibu.

 

5. Bekal (Tadtadan)

Ritual ini sering dilakukan oleh orang tua yang mampu secara materiil untuk memberi bekal (tadtadan) sang putri seperangkat perhiasan emas berupa; anting-anting, gelang, kalung, liontin, cincin perhiasan dan seperangkat pakaian sembahyang. Bagi orang tua yang tidak mampu secara materiil ritual ini tidak perlu dilakukan. Makna dari ritual ini adalah wujud tali kasih dari orang tua agar sang putri senantiasa ingat kepada ibu yang melahirkannya dan tidak lupa bersembahyang kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa, agar tiada halangan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.     

 

6. Ngiringang Penganten

  • Setelah seluruh rangkaian ritual tersebut selesai, kemudian calon mempelai dan kedua orang tuanya, diiringi oleh ketua adat kedua belah pihak, berangkat menuju ke rumah calon mempelai pria, untuk melaksanakan Sidang Pewiwahan. 
  • Para pengarep yang ikut dalam kegiatan ini adalah kedua orang tua kedua calon mempelai wanita dan calon mempelai pria, para prajuru adat terutama dari pihak calon mempelai pria, sedangkan dari pihak calon mempelai qwanita biasanya hadir dalam acara resepsi pewiwahan.

 

D. Di Rumah Mempelai Laki

1. Nyambutin Pengantin di Depan Pintu Pekarangan

  • Sesampainya di rumah calon mempelai pria, sebelum masuk ke pekarangan rumah kedua calon mempelai, dilaksanakan acara ritual nyambutin pengantin dengan melakukan prosesi Natab Byakala dan ngaturang segehan. Maknanya adalah sebagai simbol bahwa keluarga purusa dengan rasa sukacita menyambut kedatangan kedua calon mempelai (banten byakala), yang telah dituntun oleh Ida Sanghyang Semara dan Sanghyang Ratih (banten penyambutan), diiringi oleh para rencang Ida betara dan durgha bucari selaku penguasa alam (sajikan segehan), telah berhasil menjaga keselamatan kedua calon mempelai diperjalanan.
  • Setelah itu melakukan ritual matur piuning, bahwa calon mempelai pria sebagai pratisentane telah membawa calon mempelai wanita yang akan dijadikan sebagai isterinya dan memohon kelancaran dalam prosesi pewiwahan yang akan dilaksanakan.
  • Selesai upacara matur piuning, kedua calon mempelai, para orang tua dan keluarganya memasuki ruangan yang dijadikan sebagai temapt sidang manusa saksi. Ditempat tersebut telah siap menunggu para prajuru adat dan pegawai catatan sipil yang menjadi saksi dalam sidang manusa saksi.

 

2. Sidang Pewiwahan (Manusa Saksi)

Setelah ritual nyamputin, dilanjutkan dengan acara Sidang Pewiwahan. Tatacara dalam melaksanakan Sidang Pewiwahan (Manusa Saksi) adalah sebagai berikut:

Posisi tempat duduk Majelis Pewiwahan

  • Di timur mempelai pria didampingi kedua orang tuanya, mempelai ditengah.
  • Di selatan pinandita, para saksi kedua calon mempelai dan Pegawai Catatan Sipil.
  • Di barat mempelai wanita didampingi oleh kedua orang tuanya, mempelai ditengah.
  • Di utara (posisi tengah Bendesa Adat selaku Ketua Majelis, posisi kanan Kelian Adat Banjar selaku wakil Ketua Majelis, posisi kiri Sekretaris desa adat selaku sekretaris Majelis.
  • Unsur Parisada yang akan memberikan sambutan dalam bentuk nasehat perkawinan yang disampaikan kepada kedua mempelai dalam menjalani kehidupan rumah tangga (grehasta).  

Membuka Sidang Pawiwahan

Untuk menuntun prosesi sidang pewiwahan yang akan dilaksanakan, di bawah ini penulis akan memberikan sampel kata-kata pembukaan  yang wajib disampaikan oleh Ketua Majelis dengan kata sambutan sebagai berikut:

 

Sampel kata pembukaan oleh Ketua Majelis:

Om swastyastu, pinandita yang sangat kami sucikan,  Bapak Santoso Adi dari Kantor Catatan Sipil Kota Bandar Lampung yang kami hormati, Para Prajuru Adat dan krama banjar yang kami hormati, bapak/ibu keluarga besar kedua calon grehastin dan para hadirin yang berbahagia, dalam prosesi pewiwahan ini ijinkan kami memperkenalkan Susunan Majelis dalam Sidang Pewiwahan Calon Grehastin masing-masing ananda I Gede Arthajaya, putra pertama dari pasangan Ayah I Wayan Dermawan dan Ibu Ni Luh Gede Pertiwi, dengan ananda Ni Luh Putri Ayu, putri ketiga dari pasangan Ayah I Ketut Kusa dan Ibu Ni Nyoman Kerthi.  

 

Selaku Ketua Majelis Pewiwahan saya sendiri Dewa Putu Arta selaku Jro Bendesa Madya Kota Bandar Lampung; Wakil Ketua Majelis Pewiwahan I Ketut Sudama, S.Pdh. yang sehari hari menjabat sebagai Kelian Banjar Satria; Sekretaris Majelis Pewiwahan I Kadek Sayang, S.Ag yang sehari-hari menjabat sebagai Sekretaris Majelis Adat Pekraman Bandar Lampung. Untuk mempersingkat waktu, acara ini saya buka dengan mengucapkan mantram mula astawa Om awignam astu namo siddam, pada hari ini Minggu tanggal 12 Mei 2009 Jam 09.00 wib, Sidang Pewiwahan ini kami nyatakan dibuka, lalu ketok palu 3 kali. Selanjutnya Ketua Majelis Pewiwahan langsung memimpin Sidang, dengan urut-urutan sebagai berikut:

  • Ketua meminta kepada sekretaris majelis pewiwahan untuk membacakan biodata dan syarat-syarat administrasi kedua calon mempelai.
  • Selesai membacakan biodata, lalu ketua meminta kepada wakil ketua majelis untuk NITENIN (tanya-jawab, yang di awali dengan pertanyaan kepada mempelai pria, pertanyaan seputar; sudah berapa lama pacaran, apa sudah kenal betul dengan calon isteri dan keluarganya, terus tanyakan siapa-siapa nama calon mertua, tanya juga apa pekerjaan calon mertua, apa benar-benar cinta atau dijodoh kan oleh keluarga, dll.Kemudian terhadap mempelai wanita juga ditanya hal yang sama, apakah benar seperti yang dikatakan oleh calon mempelai laki, dll).
  • Selanjutnya ketua majelis juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan inti yang belum ditanyakan, sifatnya hanya menegaskan saja apa yang telah ditanyakan oleh wakil majelis, setelah ketua sudah menganggap cukup, lalu ketua majelis pewiwahan bertanya kepada pinandita/ pemangku selaku saksi dalam persidangan, apakah prosesi sudah dianggap cukup atau masih ada yang keberatan? Kalau tidak ada, maka ketua majelis melanjutkan acara dengan mengucapkan sumpah/janji pawiwahan.
  • Kedua mempelai maju kehadapan Ketua Majelis duduk berhadap-hadapan, kedua calon grehastin memegang dupa 5 (lima) batang secara bersama, sedangkan pinandita juga memegang dupa 3 (tiga) batang.
  • Dalam keadanaan hening pinandita mengucapkan mantram kehadapan Dewa Surya untuk memohon anugrah, agar pewiwahan kedua mempelai berjalan lancar, tiada halangan dan setelah selesai memohon kehadapan dewa Surya, lalu ketua Majelis Pewiwahan membacakan sumpah/janji sang Grehastin yang diikuti bersama-sama oleh kedua calon grehastin. Dalam memgucapkan sumpah atau janji ini tidak boleh salah sampai selesai. Adapun janji perkawinan adalah “Om attah paramawisesa”.........
  • Selesai membacakan janji perkawinan, kemudian Ketua Majelis bertanya kepada Pinandita dan saksi lainnya yang ada dalam sidang pewiwahan, apakah ini sah? Kemudian dijawab oleh saksi pinandita dan saksi lainnya “SAH”.
  • Setelah dinyatakan SAH dilanjutkan dengan ritual tukar cincin perkawinan yang pertama dilaksanakan mempelai pria yang memasangkan cincin dijari manis tangan kanan mempelai wanita, kemudian sebaliknya, dilanjutkan dengan mempelai wanita mencium tangan kanan mempelai pria dan grehastin pria mencium kening mempelai wanita sebagai simbol pertemuan Sang Hyang Semara dan Sang Hang Ratih.
  • Kemudian pinandita mengucapkan mantra untuk memohon anugrah kebahagiaan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang diteruskan dengan nunas tirta penyaksi  dengan mantram sebagai berikut:

 

Om anugraha manohara, dewa datta nugrahakam,

arcanam sarwa pujanam nama sarwa nugrahakam,

dewa dewi mahasidhi yjnanga nirmalatmaka,

laksmi siddhisca dirgayuh nirwigna sukawrdhisca

Om ayuwrdhi yasa wrdhi, wrdhi prayjna sukha sryam,

darmasentana wrdhisca santuta sapta wrdhayah. 

 

  • Selesai mengucapkan mantram untuk memohon anugrah kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, selanjutnya pinandita mengetiskan tirtha kepada kedua suami isteri, dilanjutkan dengan penanda tanganan Berita Acara Pawiwahan dan surat keterangan pawiwahan oleh pimpinan majelis, kedua orang tua dan para saksi yang dipimpin oleh Pegawai Catatan Sipil. 
  • Selanjutnya kedua grehastin duduk bersama diapit oleh kedua orang tua mempelai pria, sedangkan pinandita dan para saksi kembali ketempat semula.
  • Nasehat perkawinan oleh Pegawai Catatan Sipil dan Ketua Parisada atau yang mewakili.
  • Setelah acara nasehat perkawinan selesai, Ketua Majelis Adat mengucapkan “astung kara” kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, bahwa prosesi sidang pawiwahan telah berjalan dengan lancar dan tiada halangan suatu apapun, ketua mengucapkan terima kasih kepada Pinandita, Pegawai Catatan Sipil dan seluruh hadirin.

 

Penutupan Sidang:

  • Dengan mengucapkan mantra penutup Om deva suksma paramacintya ya namah svaha, Om Santih, Santih, Santih, Om, lalu ketok palu 3 kali. Sampai disini Upacara Manusa Saksi dinyatakan selesai.
  • Sambil menunggu pinandita ngaturang puja astuti, sang grehastin, duduk istirahat di kursi yang telah disediakan, menunggu persiapan upacara mekalah-kalahan.
  • Setelah selesai acara sidang manusa saksi, dilanjutkan dengan prosesi medewa saksi yang dilaksanakan oleh pinandita atau pandita dengan kegiatan:

 

3. Upacara Bhuta Saksi

 

Mekalah-Kalahan

Dalam pelaksanaan upacara mekalah-kalahan yang dipimpin pinandita, dengan rangkaian sebagai berikut:

Persiapan upakara

  • Tetimpug
  • Banten pabyakalaan
  • Banten Pesaksi
  • Api tangkeb
  • Sok dagangan
  • Tetegenan
  • Cemeti yang dibuat dari 3 buah lidi
  • Dua buah batang kayu sakti dan benang

 

Pelaksanaan Upacara

  • Setelah pinandita selesai menghaturkan puja, kedua mempelai natab banten pabyakalaan dengan tata cara, yaitu kedua tangan mempelai dibersihkan dengan sarana segau/tepung tawar, kemudian ibu jari kedua mempelai disentuhkan dengan telor ayam mentah 3 kali, kemudian dilukat dengan tirta penglukatan. setelah selesai melukat kedua natab byakala.
  • Acara berikut adalah kedua mempelai mengelilingi upakara atau banten pesaksi dan kala sepetan (api tangkeb) murwa daçina.
  • Pada saat berjalan mempelai wanita menggen dong bakul, diiringi oleh mempelai pria negen tetegenan sambil membawa cemeti dibuat dari 3 buah lidi.
  • Setiap satu putaran kedua pengantin melewati api tangkeb, ibu jari kanan kedua mempelai disentuhkan ke bakul kala sepetan (api tangkeb).
  • Selanjutnya kedua mempelai memutuskan “benang pepegatan” sebagai yang megandung makna bahwa mereka telah memutus masa lajang, kemudian memasuki kehidupan Grehasta.

 

4. Upacara Dewa Saksi

  • Upacara Menghaturkan Sembah kepada Betara Kawitan

Upacara Dewa Saksi adalah rangkaian terakhir dari kegiatan Upacara Pewiwahan, karena setelah upacara ini tidak ada lagi ritual khusus yang akan dilaksanakan. Kedua mempelai sudah sah menjadi sepasang pengantin.

  • Mejaya-Jaya

Suatu ritual ngelungsur wangsur pada Ida Betara Kawitan agar senantiasa diberikan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan rumah tangga dan selalu diberikan anugrah dan bimbingan secara skala oleh para Sanghyang Pramesti Guru.

 

CATATAN :

  1. Setelah upacara mejaya-jaya kedua mempelai selama 3 (tiga) hari tidak diperbolehkan bepergian dan wajib melaksanakan kewajibannya sebagai suami-isteri.
  2. Setelah 3 (tiga) hari, kedua mempelai datang ke rumah orang tua perempuan – acara ini sebenarnya secara explisit sebagai wujud penghormatan kepada orang tua sang isteri, bahwa ikatan kekeluargaan terus disambung oleh kedua suami isteri. Pada saat inilah suami meminta nasehat secara khusus kepada orang dari isteri sebagai bekal dalam menjalani kehidupan grehasta.

 

E. PENUTUP

Demikian tatacara Pewiwahan menurut Tradisi dan Adat-Istiadat Bali ini disusun berdasarkan hasil obervasi dan penelitian penulis terhadap proses Pewiwahan yang dilaksanakan oleh Umat Hindu Suku Bali di Bali dan di Lampung, mungkin dalam penyajian ini ada yang tidak pas dan menyinggung perasaan pembaca, sebagai penulis saya nunas ampura yang sebesar-besarnya, terutama para penganut sampradaya krisna, bukan bermaksud untuk menyinggung perasaan saudara, tetapi saya menyaksikan sendiri dan mendengar laporan dari umat Hindu Bali yang taat menjalankan tradisi dan adat istiadat Bali yang diyakininya, bahwa mereka diajak pendarmawacana untuk meninggalkan tradisi Bali yang katanya tidak membawa mereka kepada moksa, sebaliknya hanya sampai di alam leluhur, hanya sampai kepada Siwa saja. Om Santih, Santih, Santih, Om.**270517 AKBP Dr. I Ketut Seregig, SH, MH – Lampung.     

 

 

Ada 0 komentar untuk berita ini



Tinggalkan Komentar


Nama :
Email : Tidak akan diterbitkan
URL : Diawali dengan: http://
Komen :
security image