INDONESIA NEGARAKU - HINDU AGAMAKU - IDA SANG HYANG WIDHI WASA TUHANKU

,

Oleh:

I Ketut Seregig

Ketua Majelis Adat Pekraman Provinsi Lampung

 

Om Swastyastu,

Hindu yang saya bicarakan kali ini adalah Hindu yang hidup dan menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tentu umat Hindu memiliki andil yang cukup besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, sehingga setelah Indonesia merdeka, agama Hindu secara de Jure diakui Negara sejak tanggal 5 September 1958, yang pada awalnya disebut dengan agama Hindu Bali, yang kemudian berubah menjadi Hindu Dharma atau Agama Hindu. Suatu keyakinan terhadap Tuhan yang Maha Esa, dapat diakui sebagai agama, karena keyakinan itu dilandasi oleh syarat-syarat, yaitu: nama agama, dasar kepercayaan, nama kitab suci, nama tempat suci dan sebutan orang suci (ulama). Kalau syarat-syarat itu dijawab, maka dapat djelaskan sebagai berikut: Nama agama: Agama Hindu, dasar kepercayaan: Panca Sraddha, nama kitab suci: Weda, nama tempat suci: Pura atau Candi, nama orang suci: Pedanda (kemudian belakangan muncul sebutan Pandita).

 

Memperhatikan perkembangan umat Hindu saat ini, maka cukup banyak pendalaman-pendalaman ajaran agama Hindu, yang kalau kita cermati secara jernih, ternyata tidak sesuai dengan Panca Sraddha yang kita yakini sebagai dasar utama kepercayaan agama Hindu di Indonesia. Melalui tulisan ini saya mengajak kepada seluruh umat Hindu Indonesia, untuk sama-sama mencermati apakah yang dimaksud dengan Hindu Indonesia ? Hindu Indonesia adalah Hindu yang tumbuh dan berkembang sejalan dengan pertumbuhan Negara Indonesia yang dimulai dari sebelum, pada saat dan setelah kemerdekaan Negara Indonesia. Sebelum kemerdekaan Indonesia, Hindu pernah memimpin dan menjadikan Indonesia sebagai Negara Nusantara di bawah Panji-panji Kerajaan Majapahit yang dipimpin seorang Raja bernama Hayam Wuruk dan seorang patih yang terkenal bernama Gadjah Mada. Ketika Kerajaan Majapahit runtuh para pengikutnya yang masih setia kepada ajaran agama Hindu menyingkir dan menetap di kaki gunung Raung dan pulau Bali yang dikenal sebagai Pulau Dewata.

 

Runtuhnya kerajaan Majapahit sebagai Negara Nusantara, akibat politik adu domba (devide et empire) yang dilakukan Belanda kepada Negara Nusantara. Perjuangan untuk mengusir penjajah Belanda terus dilakukan oleh raja-raja Hindu hingga pada benteng Hindu terakhir di pulau Bali. Di Bali seluruh raja-raja Hindu melakukan perlawanan dengan perang puputan hingga titik darah penghabisan. Perjuangan raja-raja Hindu ini juga merupakan andil besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Pada saat Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Hindu juga menjadi bagian dari suatu perjuangan panjang bangsa Indonesia dalam meraih kemderkaan tersebut. Setelah Indonesia merdeka, pulau Bali secara otomatis menjadi pusat perkembangan agama Hindu di Indonesia. Dari pulau inilah agama Hindu tumbuh dan berkembang dengan pesat ke seluruh wilayah Nusantara dan menempati semua provinsi yang ada di Indonesia.

 

Saat ini umat Hindu asal Bali telah berkembang dengan pesat dan tumbuh menjadi warga masyarakat pada wilayah yang ditempati dan sudah menjadi bagian dari penduduk daerah setempat. Kehadiran umat Hindu asal Bali tersebut, membawa tradisi, adat-istiadat dan budaya Bali dalam menjalankan ajaran agama Hindu yang sudah mereka yakini, karena sudah menjadi bagian dari kehidupan umat Hindu Bali dimanapun mereka berada. Dasar keyakinan agama yang ditaati adalah Panca Sraddha, yaitu:

 

Pertama, percaya dengan adanya Ida Sanghyang Widhi Wasa

Jadi, umat Hindu asal Bali menyebut Tuhan yang diyakininya adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sedangkan para dewa adalah cahaya kemahakuasaanNya. Dalam perkembangan nya terhadap sraddha pertama ini, pada abad-IX atas prakarsa Mpu Kuturan dalam rangka menyelesaikan polemik dan egoisme sekte-sekte Hindu yang berkembang di Bali pada waktu itu, maka semua sekte dipersatukan, kemudian dalam mengagungkan kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Mpu Kuturan mendirikan Kahyangan Tiga, yaitu: Pura Desa/Bale Agung, adalah tempat menyembah kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi sebagai Dewa Brahma (Pencipta); Pura Puseh/Segara, adalah tempat menyembah kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi sebagai Dewa Wisnu (Pemelihara); Pura Dalem, adalah tempat menyembah kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi sebagai Dewa Siwa (Pelebur/pemralina). Di dalam areal pura-pura tersebut terdapat satu pelinggih tidak beratap terletak di kaje-kangin atau timur laut (ersanya) disebut Padmasana, sebagai stana Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan demikian Dewa Trimurti Brahma–Wisnu–Siwa adalah para dewa pemegang hukum tertinggi atas kemahakuasaanNya. Sedangkan untuk menyebut nama Tuhan dalam agama Hindu di Indonesia berdasarkan Panca Sraddha adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dewasa ini ada sebagian kelompok yang menyatakan dirinya sebagai Hindu, tetapi menolak menyebut Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Tuhannya. Ini persoalan kepercayaan, jangan membangun tafsir dalam menyebut nama Tuhan, yang sudah dikenal oleh lain agama di Indonesia.

 

Kedua, percaya dengan adanya Atman (roh leluhur)

Atman-Brahman Aikyam. Susastra inilah yang patut dijadikan sebagai pedoman dalam memantapkan Sraddha kedua dari Panca Sraddha, karena Atman adalah percikan kecil dari Brahman. Oleh karena itu dalam mewujudkan rasa bhakti umat Hindu Bali kehadapan Brahman yang bersifat acintya – tak terpikirkan, umat Hindu Bali menyebut Ida Sang Hyang Widhi Wasa: Sangpersonality, suatu wujud yang tidak dapat dilihat, Hyangeksistensi spritual yang mahatinggi yang dihormati dan dimuliakan, Widhi – sumber dari pengetahuan, penghapus segala kegelapan, sumber dari segala cahaya, sumber dharma, pustaka abadi yang dibaca manusia sepanjang zaman. Atman bersemayam dalam diri manusia dan setiap mahluk hidup. Maka, untuk menghormati Atman atau roh leluhur yang sudah meninggal, umat Hindu Bali mendirikan Sanggah Kemulan disetiap rumah. Bagi umat Hindu yang tidak mendirikan Sanggah Kemulan, apalagi menghinanya, sesungguhnya ia tidak memuliakan Brahman, perbuatan ini adalah dosa yang maha besar. Manusia terlahir dari rahim seorang ibunya – dan ibu adalah manusia mulia yang diciptakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

 

Ketiga, percaya dengan adanya hukum karma-phala

Tidak satupun manusia yang ada di dunia ini, terlepas dari hukum karmaphala ini. Hukum ini maha-universal, maha adil dan tidak sedetikpun akan terlewatkan dari catatan karmaphala Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dan, semua manusia yang lahir ke dunia akan mengalami hukum ini, dan hasilnya akan diterima sangat adil. Baik yang kita perbuat, maka baik pula hasil yang diperoleh–buruk perbuatan yang kita lakukan akan buruk pula hasil yang akan diterima. Oleh karena itu, walau hanya sekali, janganlah pernah berkata, bahwa kalau anda mengikuti suatu aliran Hindu yang anda yakini mampu mengantarkan roh anda pada suatu alam yang sudah disediakan untuk anda, dan tidak pernah lahir kembali ke dunia, karena dosa-dosa sudah terhapuskan, maka janganlah anda merobohkan sanggah kemulan anda dan tak ada bedanya, bahwa anda tidak percaya dengan hukum karmaphala. Benarkah perbuat seperti ini? 

 

Keempat, percaya dengan adanya samsara (reinkarnasi)

Konskwensi dari adanya hukum karmaphala adalah adanya kelahiran yang berulang-ulang. Untuk mengikis karmawasana yang melekat pada roh atau jiwa manusia yang pernah lahir ke dunia, maka roh itu aka lahir kembali ke dunia. Kelahiran ini tergantung dari karma-phala yang dilakukannya pada masa kelahiran sebelumnya. Hal ini juga tergantung dari 3 ajaran karma yang diyakini dalam agama Hindu, yaitu; Sancita–prarabdha–kryamana karma phala. Bagi manusia yang memiliki dosa maha besar, maka sulit baginya terlahir menjadi manusia kembali ke dunia–bisa juga terlahir menjadi binatang. Untuk memahami hal ini silakan baca parasaradharmasastra, slokantara, siwa sesana, siwa tatwa dan buku suci lainnya, agar mampu membuat hati anda menjadi damai dalam menjalani hidup di dunia ini.

 

Kelima, percaya dengan adanya moksa

Moksa adalah tujuan akhir dari ajaran agama Hindu yang disebutkan dalam susastra Hindu “moksartham jagadhita ya ca itti dharma”. Untuk mencapai moksa, hanya ada empat jalan yang disebut dengan Catur Marga, yaitu; Jnanamarga–yogamarga–bhaktimarga–karma marga. Sedangkan untuk mampu menjalankan ajaran Catur Marga wajib menjalankan Catur Asrama, yaitu; Brahmacari–Grehasta–Wanaprasta–Biksuka dengan selalu berpikir, berkata dan berbuat baik kepada setiap orang dan mahluk ciptaannya. Pertanyaannya, mampukah kita melakukannya? Inilah yang harus kita usahakan sebagai umat Hindu. Jangan sekali-kali kita pernah menghina orang lain, apalagi menghina para orang suci adalah dosa yang maha besar. Demikian juga jangan pernah menjadi orang yang munafik, mengada-ada, pura-pura sebagai orang suci, padahal sesungguhnya kita tahu bahwa kita masih belum mampu membersihkan nafsu lobha, serakah, haus kekuasaan, haus akan jabatan dengan menghalalkan segala cara, memfitnah, menyogok atau menyuap orang-orang agar suka kepada kita, berpura-pura baik seperti musang berbulu ayam. Semua perilaku ini tidak akan membawa anda pada tujuan akhir yaitu kebahagiaan abadi “Moksa”. Sebaliknya umat Hindu harus melaksanakan Panca Yadnya dengan sungguh-sungguh dan tulus ikhlas, agar karma yang anda lakukan menjadi karma baik dalam kehidupan anda di dunia. Dan, jangan pernah meninggalkan tradisi, adat-istiadat dan seni budaya Bali yang diwariskan leluhur, warisan leluhur ini sudah menjadi bagian dari kehidupan umat Hindu Bali dimanapun berada.

 

Inilah kepercayaan yang diyakini dalam ajaran agama Hindu di Indonesia, yang disebut dengan Panca Sraddha. Setiap umat Hindu, terutama umat Hindu Bali wajib menjalankan Panca Sraddha ini. Barang siapa yang tidak menjalankan Panca Sraddha, sesungguhnya ia telah menyimpang dari ajaran Hindu – dan setiap orang Hindu yang mengajarkan ajaran yang menyimpang dari Panca Sraddha adalah guru yang menyebar ajaran sesat. Melalui tulisan ini saya menghimbau kepada orang-orang, kelompok, atau pengikut aliran-aliran Hindu, jangan pernah mengganti sebutan Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk menyebut Tuhan, jangan pula anda mengganti Om Swastyastu dan Om Santih, Santih, Santih, Om sebagai ucapan salammu, karena ucapan salam ini sudah diucapkan secara nasional oleh para tokoh politik, tokoh lain agama, kepala daerah dan menghormati Hindu sebagai Agama Negara. Om Santih, Santih, Santih, Om.***Bandar Lampung, 250517.       

Ada 0 komentar untuk berita ini



Tinggalkan Komentar


Nama :
Email : Tidak akan diterbitkan
URL : Diawali dengan: http://
Komen :
security image