JANGAN MENYISAKAN MAKANAN

,

Dalam tradisi Bali ada suatu kearifan lokal yang biasanya dinasihatkan oleh orang tua-tua zaman dulu pada anak cucunya saat memberi makanan. Kearifan lokal tersebut dengan menasihati, tidak boleh menyisakan makanan agar ayam hitam tidak mati. Makna dari nasihat ini adalah agar kita jangan menyia-nyiakan makanan. Karena itu, kalau makan hendaknya jangan mengambil makanan dengan berlebihan. Ambillah secukupnya. Kalau kurang lebih baik menambah lagi daripada mengambil banyak, lalu sebelum habis makanan perut sudah kenyang. Sisanya terbuang sia-sia. Menyisakan makanan yang sudah ada dalam piring, itulah yang disebut dalam bahasa Bali macarikan. Inilah yang dimitoskan dapat mematikan ayam hitam.

 

Ayam hitam mungkin simbol spirit dari makanan yang berfungsi untuk memelihara dan melindungi hidup ini. Hitam adalah lambang perlindungan dan pemeliharaan. Tuhan dalam fungsinya sebagai perlindungan dan pemeliharaan ciptaan-Nya disebut Dewa Wisnu dengan lambang hitam. Jadi hitam dalam konsep Hindu bukan lambang kedukaan, tetapi lambang kehidupan yang baik.

 

Dalam kaitannya dengan makanan ada sebuah kisah berikut. Swami Nirmalananda suatu hari sedang bermeditasi di kamar sucinya. Agak jauh di luar kamarnya terdengar ribut-ribut. Suara gaduh itu dari suara anjing dan suara manusia. Setelah Swami Nirmalananda membuka jendela kamar sucinya ternyata ada beberapa fakir miskin berebut sisa-sisa makanan dengan beberapa ekor anjing di timbunan sampah. Sang Swami menjadi terheran-heran. Dalam hatinya terlintas pertanyaan; mengapa dalam dunia yang demikian majunya ini masih saja ada orang yang miskin seperti itu tidak mendapatkan perhatian dari mereka yang hidupnya lebih beruntung? Mengapa mereka yang hidupnya beruntung sampai berlebihan tidak peduli pada mereka yang miskin itu? Apalagi soal makanan, sesuatu yang mudah mereka atasi. Di samping itu disekitar tempat ini ada seorang suci yang memiliki banyak pengikut. Semestinya mereka itulah yang dapat memperhatikan nasib fakir miskin tersebut.

 

Saat Swami Nirmalananda pikirannya tengah tertuju memikirkan tentang fakir miskin itu tiba-tiba Swami Satya Narayana muncul di belakangnya. Apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran Swami Nirmalananda dapat diketahui oleh Swami Satya Narayana. Dia pun menjelaskan pada Swami Nirmalananda. Sesungguhnya para fakir miskin itu adalah penjelmaan mereka yang kaya raya pada penjelmaannya di masa lampau. Saat mereka kaya raya itu sering sekali menyia-nyiakan makanan karena mereka hidup berlebihan. Mereka menyiapkan makanan berlebihan untuk dirinya. Setelah bosan sisanya mereka buang sebagai sampah. Karena perbuatannya menyia-nyiakan makanan itulah dalam penjelmaan sekarang ini menjadi fakir miskin. Sisa-sisa makanan yang mereka cari di sampah berebut dengan anjing itu adalah makanan yang mereka buang sebagai sampah saat penjelmaan di masa lampau. 

 

Keadaan manusia saat ini pun sebagai wujud karma-karma di masa lalu. Karena itu, janganlah dilanjutkan kebiasaan menyia-nyiakan makanan, apalagi sampai membuang-buangnya sebagai sampah. Kebiasaan itu sungguh suatu dosa. Dalam tradisi umat Hindu di Bali makanan dilambangkan sebagai anugerah Tuhan sehingga disebut Sang Hyang Amerta. Karena itu di Bali makanan yang telah dipersembahkan pada Tuhan disebut lungsuran. Maksudnya, bahwa makanan itu hasil pemberian Tuhan atas permohonan umat-Nya. Karena ia sebagai anugerah Tuhan janganlah makanan yang dianugerahkan itu disia-siakan. Menyia-nyiakan makanan artinya sama saja dengan menyia-nyiakan pemberian Tuhan. Dalam tradisi Hindu di India makanan yang dimakan harus terlebih dulu dipersembahkan pada Tuhan. Makanan yang dipersembahkan itu disebut prasadam.

 

Dalam bahasa Sansekerta prasadam artinya karunia. Dalam hal makanan ini prinsip tradisi umat Hindu di India dan di Bali sama. Intinya, makanan itu sebelum dimakan harus dipersembahkan terlebih dulu pada Tuhan. Karena itu umat Hindu di Bali sehabis memasak melakukan upacara masaiban sebagai yadnya sesa. Setelah itu barulah makanan itu boleh dimakan. 

 

Ini juga bermakna bahwa dalam kehidupan ini carilah makanan dengan cara-cara yang direstui oleh Tuhan. Kalau sudah mendapatkan makanan dengan cara yang direstui oleh Tuhan janganlah menyia-nyiakan karunia Tuhan tersebut. 

 

Gunakanlah makanan itu sebaik-baiknya untuk memelihara kehidupan diri sendiri, keluarga dan pihak-pihak lain yang benar dan wajar. Kalaupun ada sisa karena sulit juga menyiapkan makanan dengan tepat agar dia juga berguna. Hal ini mungkin menyebabkan umat Hindu di Bali umumnya memelihara babi. Kalau terpaksa ada sisa makanan agar jangan terbuang percuma. ( Penulis : Gede Adi )

 

Ada 0 komentar untuk berita ini



Tinggalkan Komentar


Nama :
Email : Tidak akan diterbitkan
URL : Diawali dengan: http://
Komen :
security image