IBUKU ADALAH GURUKU

,

Dalil dalam roda kehidupan hanya ada tiga yaitu lahir, hidup dan mati artinya tidaklah mungkin ada suatu kehidupan tanpa dilahirkan demikian juga tidak akan ada kematian tanpa diawali oleh suatu kelahiran dan kehidupan, yang disebut dengan upeti, stiti dan pralina, tiga kemaha-kuasaan Tuhan yang disebut dengan Tri Kona.

 

Kekuasaan Tuhan dalam menciptakan manusia, seorang perempuan adalah memiliki peran yang paling utama, karena tidak ada satupun orang hidup  tanpa diawali dengan kelahiran dan kodrat melahirkan tersebut dimiliki oleh perempuan atau wanita. Istilah wanita menurut Prof. M. Yamin, disebutkan dengan “Perempuan” yang berasal dari kata “pu” atau “empu” yang mendapat awalan  Pe  dan akhiran  an  yang menjadi perempuan berarti mereka yang dicintai, baik, dimuliakan dan membawa kesejahtraan, dihormati dan diutamakan.

 

Dalam ajaran agama Hindu, kata empu adalah gelar yang diberikan kepada mereka yang patut dihormati, dimuliakan dan juga orang suci Hindu. Bila kata empu ini dihubungkan dengan wanita dalam tugasnya, maka dapat diartikan pengasuh. Memang telah menjadi kenyataan dimasyarakat bahwa kaum wanita mempunyai tugas mengasuh anak-anaknya, keluarga termasuk suaminya.

 

Pengasuhan yang dilakukan oleh seorang ibu tidak saja dilihat dari lahirnya seorang anak dan dibesarkan hingga dengan dewasa, tetapi dapat dilihat bahwa seorang ibu sudah memberikan pola pengasuhan sejak bayi dalam kandungan hal ini dapat dilihat pada prosesi upacara bayi dalam kandungan yang sering disebut megedong-gedongan. Seorang perempuan ibu memiliki kesetiaan yang sangat luar biasa dan lebih tinggi mutunya bila dibandingkan dengan keberhasilan-keberhasilan yang lainnya, hal ini dalam pustaka suci Clokantara sloka 2 disebutkan:

Kupacatad wai paraman saro’pii

Saran catad pramo’pi yajnah,

Yajnacatad wai paramo’pi putrah,

Putracatad wai paraman hi satyam.

Artinya :

Membuat sebuah telaga untuk umum itu lebih baik daripada menggali seratus sumur,

Melakukan yadnya (korban suci) itu lebih tinggi mutunya daripada membuat seratus telaga,

Mempunyai seorang putra itu lebih berguna daripada melakukan seratus yadnya,

Dan menjadi manusia setia itu jauh lebih tinggi mutu dan gunanya daripada mempunyai seratus putra.

 

Sloka ini mengandung makna bahwa seorang ibu tidak akan ingin memiliki putra maupun putri yang tidak berpengetahuan karena ilmu pengetahuan adalah modal yang sangat berharga dalam menjalani kehidupan ini. Dapat dibayangkan bila hidup ini tanpa memiliki ilmu pengetahuan dan kemampuan atau skill, maka dapat dipastikan arah hidup manusia tidak akan dapat dipastikan.

 

Kalau dilihat dari tugas seorang ibu yang sangat mulia bagaimana mengandung sampai dengan melahirkan dan membesarkan anak-anaknya ini tidaklah mudah karena pembentukan karakter seorang anak tentunya bagaimana ibu memberikan bimbingan serta bagaimana ibu saat mengandung sudah mendoakan anak dalam kandungannya agar lahir dengan sempurna dan selamat, menjadi anak yang cerdas sehingga begitu tumbuh dan berkembang ibu selalu memberikan pembelajaran etika sopan santun dan lain sebagainya.

 

Dalam kitab Menawadharmasastra sloka 58 dijelaskan :

Jamayo yani gehani

Capantya patri pujitah

Tani krtyahatanewa

Winacyanti samantatah.

Artinya

Rumah dimana wanita tidak dihormati sewajarnya,

Mengucapkan kata-kata kutukan, keluarga itu akan hancur seluruhnya,

Seolah – olah dihancurkan oleh kekuatan gaib.

 

Demikian juga halnya sebagaimana dijelaskan dalam pustaka suci Manusmerti XI sloka 28, dijelaskan sebagai berikut :

Apatyam dharmakaryanicucrusaaratiruttama,

Daradhinastathaaswargahpitrinam atmanacca ha,

Artinya :

Anak-anak, upacara agama, pengabdian kebahagiaan rumah tangga, surga untuk leluhur maupun untuk diri sendiri (semua) didukung oleh istri.

 

Penjelasan dari pustaka suci tersebut, dalam kehidupan ibu sebagai penyelenggara aktivitas dalam pendidikan dikeluarga, baik pendidikan etika / susila, pendidikan agama dalam hal upacara dan upakara hal ini dilihat dari pelaksanaan yadnya sesa dengan mempersembahkan banten saiban pada saat selesai memasak. Karena Upacara adalah salah satu dari Tri Kerangka Agama Hindu dalam hal menghubungkan diri kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa melalui suatu persembahan yang disebut dengan yadnya, dan yadnya ini diajarkan oleh ibu dari sejak dini. Sehingga dengan tidak disadari seorang ibu dalam mengajarkan anak- anaknya maka tugas seorang ibu sudah tentu menjadi seorang guru dalam rumah tangganya.

 

Kewajiban seorang ibu tidaklah mudah, karenanya ibu memiliki energi yang sangat luar biasa hal ini dapat dilihat bagaimana tugas dan kewajibannya sebagaimana dijelaskan di atas. Ibu melakukan aktifitasnya tidak dapat dihitung dengan jari, dari waktu ke waktu selalu bergerak tidak pernah henti – hentinya, dari matahari terbit sampai matahari terbenam ibu selalu bekerja dan bekerja dari urusan rumah tangga, urusan anak-anak sampai dengan urusan suami ini dipikirkan dan dikerjakan oleh seorang ibu, bahkan maju mundurnya perekonomian keluarga ada ditangan seorang ibu, karena manajemen yang terbaik dalam rumah tangga adalah ibu.  (penulis: AKBP. MADE KARTIKA, S.Ag., SH., MH.)

 

Ada 0 komentar untuk berita ini



Tinggalkan Komentar


Nama :
Email : Tidak akan diterbitkan
URL : Diawali dengan: http://
Komen :
security image