HUKUM DAN HUKUM KARMAPHALA

,

Agama Hindu adalah agama yang riil, serta mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Tujuan yang ingin dicapai dan diwujudkan dalam kehidupan ini adalah Moksartham Jagathita melalui jalan Dharma. Sedangkan kita semua tahu bahwa tujuan Negara adalah membentuk manusia Indonesia seutuhnya dalam menunjang pembangunan nasional untuk menuju kemajuan Bangsa Indonesia seutuhnya.

 

Selanjutnya apa itu Dharma Agama ? dan apa itu Dharma Negara ?

 

Dharma Agama menurut Hindu adalah perbuatan baik sesuai ajaran Agama Hindu yang dilakukan oleh Umat Hindu untuk pengembangan dan kepentingan Umat Hindu, dalam hal ini semua pikiran, perbuatan dan tingkah laku, serta ucapan berpedoman pada sastra-sastra Hindu dalam Veda Sruti sebagai inti Bhagawadgita:

  •  Dharmasastra dan Saraccamuscaya.
  •  Tatwa-Tatwa (filsafat) Kerohanian
  •  Ajaran-ajaran penuntun kesusilaan yang lain.

Sehingga dalam UUD 1945 Pasal 29 dijelaskan bahwa Negara Indonesia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, dan menjamin kebebasan dalam memeluk agamanya masing-masing.

 

Dharma Negara adalah:

Tugas dan kewajiban warga masyarakat terhadap tujuan negaranya yaitu dalam pembangunan yg telah dicanangkan atau kata lain Dharma Negara adalah hukum, tugas, hak dan kewajiban setiap orang untuk tunduk dan patuh kepada negara. Hal ini dilandasi dengan konsep Catur Guru diantaranya Bhakti kepada Guru Rupaka yaitu patuh dan taat kepada kedua orang tua yg melahirkan. Selanjutnya Bhakti kepada Guru Wesesa  yaitu tunduk dan taat kepada negara dan pemerintah.

 

Kitab suci Weda dibagi menjadi 2 (dua) bagian berdasarkan kodevikasi Weda, yaitu SRUTI dan SMERTI

 

Dalam rangka terjemahan kitab suci Weda, bagian terpenting dari seluruh karya terjemahan  adalah Manawadharmasastra merupakan sebuah kitab Dharma yang dihimpun dalam bentuk sistematis oleh Bhagavan Bhrgu, salah seorang yang menganut  ajaran Manu.

 

Kitab Veda ini dianggap paling penting dan menarik dari sekian banyak kitab-kitab sastra yang memuat himpunan pokok ajaran Hindu dan dikenal sebagai salah satu kitab  Vedanga.

 

Vedanga adalah kitab Veda yang merupakan bagian batang tubuh dari Veda dan kitab ini tidak dapat dipisahkan dari kitab Veda Sruti lainnya.

 

Dharmasastra merupakan salah satu dari Sad Vedanga yang memiliki kedudukan dan arti yang sangat penting dalam masyarakat Hindu.

 

Adapun jenis Vedanga terpenting yang ada hubungannya dengan kitab Menawadharmasastra adalah jenis Kalpa. Asal usul kitab Kalpa ini bersumber pada Brahmana Samhita dan ditulis dalam bentuk Sutra atau Sloka. Isinya berkisar pada ajaran-ajaran keagamaan dan merupakan kitab pedoman (manual) bagi umat Hindu dalam kehidupan sehari-hari.

 

Kalpa Vedanga terdiri dari empat jenis berdasarkan topik dan fungsinya sendiri-sendiri yaitu :

  1. Srauta Sutra (pedoman untuk upacara besar)
  2. Grhya Sutra ( pedoman untuk org berumah tangga)
  3. Dharma  Sutra  ( Pedoman untuk menjalankan pemerintahan)
  4. Sulva Sutra ( Pedoman dalam mendirikan bangunan)

 

Bagian yang terpenting dari Kalpa adalah Dharma Sutra sesuai dengan judulnya kelompok ini membahas salah satu dari aspek kehidupan manusia  yang disebut dengan Dharma yaitu hukum yg mengatur tentang hak dan kewajiban manusia baik sebagai individu, sebagai kelompok sosial, sebagai status sosial dalam keluarga, sebagai penguasa (raja). Dharma adalah peraturan atau perundang-undangan (Vyahara) yang merupakan bagian terpenting dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.

 

Pertumbuhan dan pembinaan Manawadharmasastra ini,  kiranya dapat diperdalam dalam riset kita kelak dikemudian hari bila seluruh salinan sastra dalam bentuk peninggalan-peninggalan lontar yg ada di Bali telah dapat kita buka secara ilmiah sehingga dapatlah nanti memberi penilaian sampai dimana kita telah berasil mengadakan reformasi dalam undang-undang keagamaan. Berakhirnya masa kehidupan lembaga hukum Raad Kerta (Pengadilan Agama Hindu) di Bali setelah diundangkannya UU No. 1/1951, merupakan salah satu setback dalam pembinaan hukum Agama Hindu karena dengan demikian sendi-sendi yg merupakan ketentuan hukum bagi agama Hindu tidak lagi diterima sebagai suatu keharusan menerimanya.

 

Hukum dalam kehidupan sehari-hari Umat Hindu bersandar pada hukum agama namun dalam putusan suatu perkara hakim – hakim Pengadilan Negeri yg bersandar pada yurisprudensi dalam praktek dapat menimbulkan atau melahirkan yurisprudensi baru yg mungkin tidak sehaluan dengan agama Hindu atau hukum Hindu yg dianutnya.

 

Manusia adalah makhluk sosial yang saling ketergantungan tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Sehingga untuk hidup secara baik dan teratur  diperlukan pedoman yang dapat dijadikan pegangan mengendalikan pikiran dan sikap prilaku  kehidupan manusia tersebut dalam berinteraksi.

 

Bila dipandang dari sudut tata aturan dasar yang melandasi kehidupan sosial maka ada norma-norma menjadi landasan hidup manusia baik norma non hukum maupun norma hukum. Menurut Prof. Purnadi Purbacaraka, SH. Dan Prof. Dr. Soerjono Soekanto, SH. MA dalam bukunya berjudul Prihal Kaidah Hukum   menjelaskan : Norma-norma non hukum dan norma-norma bukan hukum terdiri atas norma-norma kepercayaan, norma kesusilaan, dan norma kesopanan.

  1. Norma kepercayaan itu adalah ajaran – ajaran agama atau keyakinan hidup setiap orang masing-masing yang mengajarkan bagaimana orang bersangkutan harus bersikap dan bertindak dalam kehidupannya selaras dengan kepercayaan yang dianutnya.
  2. Norma kesusilaan yaitu segala sesuatu yang menjadi pedoman dan secara moral mengikat setiap orang untuk mentaatinya dengan bersikap tidak lazim dalam kehidupannya dengan arti yang dibenarkan menurut dasar-dasar (sila) dan kehidupan yang baik (su). Norma yang selalu mengingatkan seseorang dalam batinnya untuk selalu hidup secara baik, teratur , tertib.
  3. Norma kesopanan yaitu segala sesuatu yang menjadi pedoman setiap orang dalam bertindak terhadap orang lain secara baik tidak menyinggung perasaan, tidak bertentangan dengan tata krama yang umum dan sebagainya.
  4. Norma-norma hukum yaitu segala sesuatu yang menjadi pedoman bagi setiap orang untuk bersikap dan bertindak yang baik dalam bidang hukum yang artinya selalu selaras dengan peraturan-peraturan hukum yang berlaku.

Norma-norma kepercayaan atau norma agama dan norma kesusilaan itu pada dasarnya lebih mengatur prilaku kehidupan masing-masing orang.

 

Panca Srada adalah dasar ajaran agama Hindu, salah satu dari lima dasar keyakinan tersebut bahwa yakin dengan adanya Karmaphala yaitu buah atau hasil dari segala perbuatan yang dilakukan di dalam kehidupan ini.

 

Dalam kitab suci Bradh Aranyaka Upanisad dijelahkan bahwa Hukum itu diartikan sama dengan “Kebenaran”

 

Hukum adalah ketentuan-ketentuan atau peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh sekelompok manusia serta memberikan ancaman bagi yang melanggarnya, baik hukuman denda, sampai dengan kurungan.

 

Karma berasal dari bahasa Sansekerta dari urat kata “kr” yang berarti membuat atau berbuat sehingga dapat disimpulkan bahwa Karma adalah perbuatan atau tingkah laku manusia. Sedangkan Phala berarti buah atau hasil dari segala perbuatan yang dilakukan dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Hukum Karmaphala adalah hukum sebab akibat hukum aksi reaksi, dan hukum ini berlaku terhadap semua ciptaanNya yang ada dalam dunia ini. Dalam Sarasamuscaya 17 disebutkan, orang yang golongan rendah, menengah, dan tinggi selama bekerja mencari kesenangan dan ikhlas hatinya niscaya tercapai segala yang diusahakannya. Artinya perbuatan tersebut harus dilakukan sesuai dengan kaidah hukum sebagai mana telah diuraikan di atas.

 

Menurut VAN KAN, hukum adalah keseluruhan peraturan yang bersifat memaksa yang bertujuan untuk melindungi manusia dalam masyarakat. Peraturan yang berasal dari hukum tersebut diperlukan dalam melindungi kepentingan masyarakat untuk hidup dengan tertib.

 

Konsep hukum Karmaphala dalam ajaran agama Hindu dibagi menjadi tiga bahagian yaitu :

  1. Sancita Karmaphala, tindakan yang kita lakukan pada kehidupan sebelumnya dan baru kita terima akibat dari tindakan tersebut pada saat kehidupan sekarang. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya perbedaan kelahiran dalam kehidupan ini.
  2. Prarabda Karmaphala, tindakan yang kita lakukan saat ini, buah karmanya kita nikmati saat ini juga. Hal ini dapat dibuktikan dengan seorang petani menanam padi, sudah tentu yang akan dipanen adalah buah padi dan tidak mungkin akan berbuah jagung.
  3. Kriyamana Karmaphala, tindakan yang kita lakukan saat ini, buah karmanya kita akan terima setelah meninggal dunia, sehingga umat Hindu percaya dengan adanya Sorga dan Neraka dan atau kehidupan yang akan datang, karena Agama Hindu percaya dengan adanya Reinkarnasi atau kelahiran berulang.

 

Pada dasarnya hukum Karma dan hukum itu memiliki tujuan  yang sama mengatur kehidupan manusia secara pribadi dalam membentuk suatu kehidupan yang harmonis dan tertib, sehingga kedamaian dapat terwujud Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma. (Penulis: AKBP. Made Kartika, S.Ag.SH.,MH.)

 

 

 

 

Ada 0 komentar untuk berita ini



Tinggalkan Komentar


Nama :
Email : Tidak akan diterbitkan
URL : Diawali dengan: http://
Komen :
security image