UPAKARA DAN SENI

,

Peristiwa yang sudah menjadi sebuah keakraban bahwa orang Hindu dari sejak lahir sudah diperkenalkan dengan upacara dan upakara menggunakan uborampe ( perlengkapannya). Umat Hindu di Bali, BANTEN merupakan sarana pokok yang harus ada terlepas dari besar kecilnya upakara yang dilaksanakan disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masyarakatnya. Banten merupakan sarana bagi umat Hindu untuk menyampaikan ucapan puji syukur dan terimakasihnya kepada Ida Sanghyang Widi Wasa, Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan rahmat dan rezekiNya yang dinikmati dalam menjalani kehidupan ini.

 

Dalam Bhuana Tattwa dijelaskan bahwa masyarakat Bali sebelumnya tidak mengenal adanya sesajen atau bebantenan, namun pada tahun 858 Maha Rsi Markandeya beserta pengikutnya datang di Bali dan membuka hutan di daerah Taro Tegal Lalang, Gianyar, untuk memohon keselamatan maka Rsi Markandeya melakukan pemujaan dengan menggunakan sarana upakara untuk memohon keselamatan kepada Tuhan. Rsi Markandeya mengajarkan para pengikutnya untuk membuat upakara dengan menggunakan sarana daun, bunga, buah, air, dan api. Banten atau sesaji yang dibuat oleh pengikutnya Rsi Markandeya dan diikuti juga oleh masyarakat lainnya disebut dengan "BALI" Karena semua masyarakat mengikuti ajaran tentang yadnya ini maka pulau ini disebut pulau BALI.

 

Tuhan menciptakan alam beserta isinya, dan dari semua ciptaanNya manusialah yang paling sempurna karena memiliki Tri Pramana yaitu Bhayu, Sabda, dan Idep. Dengan Bhayu manusia dapat hidup bergerak dan berkembang, Sabda manusia dapat berkomunikasi berbicara antara yang satu dengan yang lainnya, dan Idep bahwa manusia dapat berfikir dan berlogika bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang indah sesuai dengan estetika dan mana yang tidak.

 

Dalam perkembangannya maka Upakara yang dibuat oleh Umat Hindu selalu mengikuti perkembangan sosial budaya, tehnologi. Hal ini dapat dilihat dalam pengerjaan upakara terkandung makna hidup kebersamaan atau gotong royong, begitu juga dalam pengerjaan upakara memiliki nilai seni yang cukup tinggi baik seni pahat/ukir, seni tari karena dalam melaksanakan upakara disertai dengan tarian, seni suara ada tembang dan kidung pujaan, ini sesuai dengan definisi seni yaitu tujuan yang positif yang menjadikan penikmat dapat merasakan dalam kebahagiaan dan seni juga dapat diartikan sebuah bentuk pengungkapan rasa yang ditampilkan dan tidak pernah menyimpang dari kenyataan. Sehingga dalam melaksanakan upakara yadnya umat Hindu selalu menampilkan yang terbaik berbagai upakara sesuai dengan tujuannya sebagaimana dalam konsep PANCA YADNYA.

 

Bali adalah pulau yang paling terkenal ke manca negara hal ini bukan dikarenakan semata-mata keindahan alamnya tetapi lebih pada budaya yang dilandasi dengan adat istiadat dan agama Hindu yang sudah secara turun temurun diwariskan oleh orang Bali. Rsi Markandeya mewarisi suatu tatanan kehidupan beryadnya yang dilandasi dengan filosofi termuat dalam sastra-sastra yang hidup dan berkembang sampai saat ini secara dinamis. (Penulis: AKBP Made Kartika, S.Ag, SH., MH.)

Ada 0 komentar untuk berita ini



Tinggalkan Komentar


Nama :
Email : Tidak akan diterbitkan
URL : Diawali dengan: http://
Komen :
security image