INDAHNYA TOLERANSI DESA BERNUANSA BALI DI LAMPUNG SELATAN

,

Berada di Jalan Lintas Pantai Timur (Jalinpantim) Sumatera tepatnya di Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung sangat terasa nuansa Bali, diantaranya Desa Sumur Di Kecamatan Bakauhni, Dusun Yogaloka, Desa Ruguk Kecamatan Ketapang hingga ke Desa Tridharmayoga Kecamatan Ketapang. Di sepanjang jalan beberapa rumah dengan pagar pagar, gerbang serta keberadaan Pura Pura keluarga yang dikenal dengan Sanggah dan juga Pura Desa terlihat di kanan dan kiri Jalinpantim. 

 

Pada saat perayaan perayaan khusus, puluhan penjor (umbul-umbul) dari batang bambu yang dihiasi rangkaian janur kuning terpasang rapi di sepanjang jalan. Beberapa pura desa terlihat cantik dan agung. Benar-benar pemandangan khas Bali. Ukir-ukiran khas Bali tampak menghiasi gapura dan pagar-pagar rumah. Memasuki Desa Tridharmayoga suasana tersebut akan semakin kental dan selain rumah rumah bernuansa Bali tersebut bangunan ibadah umat Kristen Katolik yakni Gereja Santa Maria Desa Tridharmayoga pun terlihat memiliki pagar dan berornamen Bali.

 

Bangunan pura, gereja, masjid bahkan seolah berdampingan di Desa yang penduduknya memeluk agama Kristen Katolik, Hindu, Islam tersebut. Bangunan fisik yang berdampingan tersebut menurut salah satu warga Made Gunawan (40) warga Desa Tridharmayoga merupakan gambaran kerukunan dan toleransi yang ada di daerahnya. Made yang merupakan pemeluk agama Hindu mengaku kerukunan umat beragama di Desa Tridharmayoga sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Bahkan ia mengungkapkan berdasarkan kisah secara turun temurun desa yang sekarang sudah berkembang tersebut awalnya dibangun oleh tiga agama tersebut. "Sesepuh desa ini pernah memberi wejangan kepada kami bahwa Tridharmayoga merupakan desa yang menjadi gambaran kebersamaan, tiga agama, dan juga saling menghormati antar pemeluk agama yang berbeda," ungkap Made. Maka tak mengherankan ungkap Made, ada bangunan gereja Katolik yang di depannya berornamen Bali sebab diantara orang Bali juga ada yang memeluk agama Katolik. Sementara bangunan masjid pun tak jauh berada di dekat beberapa pura warga penganut Hindu Bali.

 

Tokoh Bapak Jero Mangku Sri Pujaning berdasarkan penuturan warga, sejarah kampung atau Desa Tridharmayoga tak lepas dari peranan Jero Mangku. Sebab, beliaulah yang merintis kampung Bali ini bersama 4 teman lainnya di tahun 1970-an. Desa Tri Dharmayoga merupakan salah satu desa yang awalnya dihuni oleh transmigran dari Jawa dan Bali. Masyarakatnya sebagaian besar berprofesi sebagai petani pekebun, dan juga swasta. Meskipun bernuansa Bali namun beberapa warga lainnya tinggal berdampingan diantaranya orang Jawa, padang, batak dan memeluk agama Islam, Hindu serta Katolik.Bagi yang masih mempertahankan tradisi Bali, sehari-hari, mereka masih berbahasa Bali, beradat istiadat Bali, juga melakukan rangkaian tata-cara sesuai dengan keyakinan mereka, Hindu Bali. "Meskipun pelaksanaannya tidak sebesar tata cara di Bali, semua tata cara Hindu di sini, tetap sama seperti di Bali. Wajah Bali di Sumatera adalah wajah Bali juga," ungkap Made. 

 

Kehidupan toleransi yang ada di Desa Tridharmayoga juga diakui oleh Ignasius (40) yang merupakan umat Katolik di desa tersebut. Saat hari hari keagamaan umat Katolik umat Hindu pun terlibat dalam menjaga keamanan saat perayaan ibadah terutama saat perayaan besar Natal dan Paskah. Sebaliknya dalam perayaan besar agaam Hindu umat Katolik dan muslim pun terlibat saling membantu. Suasana saat perayaan keagamaan Hindu seperti Nyepi dan Galungan menjadi saat yang memperlihatkan toleransi di daerah tersebut. Saat perayaan Nyepi umat yang beragama lain menghormati dengan tidak melakukan kegiatan atau aktifitas yang mengganggu kesakralan umat Hindu bahkan tidak ada warga lain yang secara sengaja melakukan kegiatan keramaian pada saat perayaan tersebut. "Kami semua selalu diberi petuah oleh para leluhur dan generasi sebelumnya agar saling bantu membantu sperti pada awal berdirinya kampung ini," ungkap Ignasius. Bahkan saat pembangunan masjid, pura atau gereja dukungan dana serta tenaga pada awalnya merupakan kerjasama antar tiga agama tanpa membeda bedakan. Kebersamaan dan toleransi tersebut semakin terasa saat warga sedang melangsungkan hajatan atau melakukan resepsi pernikahan atau syukuran. "Budaya gotong royong dan kebersamaan masih kental di sini dengan saling bantu membantu dan karena didominasi dengan budaya Bali maka seperti menjadi kampung Bali padahal di sini beragam," ungkap Ignasius.

 

Perbedaan yang melebur menjadi satu tersebut menurut salah satu warga lain, Bukhori (50)  karena faktor sama sama hidup sebagai para transmigran dari daerah yang berbeda. "Kita kan memegang prinsip di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung dan itu menjadi dasar kami saling menghormati apalagi makna Tridharmayoga juga sering kami artikan sebagai desa tiga agama yang hidup berdampingan dan rukun," ungkap Bukhori.

 

Kebersamaan, toleransi dan keberagaman di Desa Tridharmayoga Kecamatan Ketapang yang penduduknya ratusan tersebut bahkan menjadi salah satu contoh Lampung sebab dalam satu desa tiga rumah ibadah berdiri dan semua pemeluk agama saling menghormati satu sama lain.

 

Ada 0 komentar untuk berita ini



Tinggalkan Komentar


Nama :
Email : Tidak akan diterbitkan
URL : Diawali dengan: http://
Komen :
security image