APAKAH BANTEN ATAU SESAJEN MERUPAKAN PEMBOROSAN DALAM MELAKUKAN PEMUJAAN ?

,

Seperti pada ulasan artikel sebelumya bahwa agama Hindu dalam melakukan pemujaan disertai dengan upacara dan upakara berupa banten atau sesajen kalau masyarakat umum melihat bahwa sesajen yang begitu besar dan acara yang demikian meriahnya adalah suatu tindakan yang menghambur hamburkan uang untuk mengadakan atau membeli sarana dan prasarana upakara.

 

Dalam melakukan pemujaan terhadap Tuhan beserta manifestasinya tentunya yang menjadi tolok ukur adalah " RASA ", apabila mengedepankan rasa untuk mengungkapkan terima-kasihnya kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa Tuhan Yang Maha Kuasa, tidak memperhitungkan untung rugi sebagaimana dalam hukum ekonomi, yaitu mengeluarkan modal sekecil kecilnya untuk mendapatkan untung yang sebesar besarnya. Tetapi dalam beryadnya menyangkut kepuasan hati.

 

Dalam ajaran agama Hindu pelaksanaan yadnya telah diatur berdasarkan kemampuan atau ekonomi umatnya. Yadnya memiliki tiga tingkatan yaitu : Nista Yadnya, Madya Yadnya, dan Utama Yadnya. Nista Yadnya adalah tingkatan upakara, banten atau sesajen yang paling kecil, sedangkan Madya Yadnya adalah tingkatan upakara banten atau sesajen yang menengah, dan Utama Yadnya adalah tingkatan banten atau sesajen yang paling besar. Dari tiga tingkatan yang berbeda itu apakah memiliki makna yang berbeda? Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Bhagawad Gita IX.26.

Patram puspam phalam toyam yo me bhaktya prayacchati,

tad aham bhakty upahrtam asnami prayatatmanah.

Artinya, siapapun dengan sujud bhakti kepada Ku mempersembahkan sehelai daun, sekuntum bunga, sebiji buah buahan, seteguk air, aku terima sebagai bhakti persembahan dari orang yang berhati suci.

 

Dengan demikian makna sebuah yadnya bukan dinilai dari besar kecilnya tetapi dari ketulus-iklasan dan didasari dengan hati yang suci. Dalam melaksanakan yadnya lihatlah keadaan atau ekonomi kita masing masing, tidak juga tepat orang yang kekayaannya berlimpah karena sloka di atas datang ke Pura hanya membawa sehelai daun dan satu biji buah, demikian juga sebaliknya orang yang ekonominya paspasan membuat upakara atau banten yang besar dengan menjual segala yang ada juga tidak tepat. Untuk itu mari kita beryadnya sesuaikan dengan kemampuan yang seimbang.( Penulis: AKBP Made Kartika, S.Ag, SH, MH.)

Ada 0 komentar untuk berita ini



Tinggalkan Komentar


Nama :
Email : Tidak akan diterbitkan
URL : Diawali dengan: http://
Komen :
security image